Mgr. Silvester San, Pr

Tetapi Engkau ya Tuhan, Allah pengasih dan penyayang, panjang sabar, berlimpah kasih dan setia” (Mzm 86:15).

Para imam, biarawan/wati, serta seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan,

Setiap kali memasuki lingkaran liturgi masa Prapaska, Gereja mengajak kita untuk menyadari dan merasakan belas kasih Allah yang tiada batasnya. Allah itu “pengasih dan penyayang” terhadap kita umat-Nya. Meski kita berdosa, dan tidak setia kepada-Nya, Dia tidak menghukum dan membuang kita. Sebab Dia itu “panjang sabar dan berlimpah kasih setia”. Pemazmur mengingatkan kita, “Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat bertahan?” (Mzm 130:3). Kemudian ia melanjutkan, “Tetapi padaMu ada pengampunan” (Mzm 130:4). Karena kerahiman Allah itu kita dapat bangun dari keterpurukan dosa. Karena rahmat Allah, kita dapat bertobat dan merangkai masa depan baru dalam dekapan kasih-Nya.

Bila kita hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, maka kita tidaklah mampu untuk bertobat. Jerat dosa seringkali membuat kita tidak berdaya. Kenikmatan duniawi memikat dan merasuki hidup kita, sehingga yang baik tidak kita lakukan. Rasul Paulus melukiskan kelemahan manusiawi itu demikian: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, itulah yang aku perbuat” (Rom 7:15). Lalu siapa yang dapat melepaskan kita dari jerat dosa itu? Santo Paulus menjawab: “Syukur kepada Allah! … Yesus Kristus, Tuhan kita” (Rom.7:25). Hanya kekuatan Kristus yang dapat membebaskan kita dari belenggu kejahatan. Pengampunan Allah, melalui kematian Kristus di Salib, itulah yang menjadi dasar pertobatan kita.

Tetapi kekuatan rahmat ini tidaklah meniadakan perjuangan manusia. Sebaliknya kerahiman Allah menjadi dasar bagi pembaruan diri kita yang menyeluruh. Oleh karena itu pertobatan tidak hanya cukup dengan upacara penerimaan abu pada hari Rabu Abu. Pertobatan juga tidak hanya selesai dengan pengakuan dosa dalam sakramen tobat. Tetapi pertobatan itu mesti mengubah dan membarui hidup kita secara nyata. Dalam Perjanjian Lama, tobat berarti berputar, berbalik kembali (shuv) (Mzm 78:34). Artinya orang berbalik dari berhala kepada Allah, dari kemurtadan kepada kesetiaan kepada Allah. Selanjutnya dalam Perjanjian Baru, ditegaskan lagi bahwa pertobatan itu meliputi perubahan seluruh diri: pikiran dan hati, tutur kata dan perbuatan. Pertobatan (metanoia) berarti putar balik seseorang dari dosa kepada Allah (bdk. Mat 4:17). Bertobat terungkap dalam kehidupan baru seseorang yang diresapi dan dituntun oleh Roh Allah (Gal 5:16).

Namun pertobatan itu tidak hanya berdimensi pribadi tetapi juga sosial. Berbalik kepada Allah terungkap dalam pembaruan relasi dengan sesama. Ibadat tobat yang sejati tampak nyata dalam menolong yang lemah dan membela yang tertindas. Karena itu nabi Yesaya menegaskan bahwa puasa yang dikehendaki oleh Allah, “supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman”, “memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah”, dan “memberi orang telanjang pakaian” (Yes 58:6-7). Hanya dalam pertobatan sosial demikian, lanjut nabi Yesaya, “terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu” (Yes 58:8).

Para imam, biarawan/wati, dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Pesan pertobatan dalam masa Prapaska tersebut sangatlah selaras dengan tema “Persekutuan” yang menjadi fokus pastoral kita tahun ini. Dalam tahun 2018 kita ingin mengembangkan persekutuan Gereja yang semakin diresapi oleh relasi kasih Bapa, Putera dan Rohkudus. Kita ingin membangun persaudaraan dalam komunitas-komunitas umat beriman, seperti paroki, biara, KBG, Sekami, OMK, komunitas rohani, dan keluarga menjadi persekutuan murid-murid Yesus yang “sehati dan sejiwa” (Kis 4:32). Untuk itu marilah kita menyingkirkan semua hal yang selama ini merusak persekutuan itu. Marilah kita mengakhiri segala pertentangan dan konflik yang terjadi dalam kehidupan bersama. Balas dendam yang berkepanjangan mesti dikalahkan oleh pengampunan. Luka-luka batin yang ‘menganga’ hendaknya disembuhkan oleh ‘balsem’ kerahiman Allah. Kasus “bunuh diri” di kalangan remaja yang menggejala di beberapa tempat akhir-akhir ini, bukan tak mungkin disebabkan oleh kurangnya relasi kasih yang bersandar pada kerahiman Allah ini. Kita perlu membangun budaya kehidupan yang berlandas pada kemurahan kasih Allah.

Selain itu kita ingin mewujudkan persekutuan yang tidak tertutup dalam dirinya sendiri (eksklusif), tetapi terbuka terhadap yang lain (inklusif). Seturut amanat Paus Fransiskus, kita ingin menjadi “Gereja Pintu Terbuka”, yang merangkai persaudaraan sejati dengan sesama anak bangsa yang beragama dan berkeyakinan lain. Kita juga ingin menjadi persekutuan berbagi dan bersolider dengan orang-orang yang lemah dan berkekurangan. Kita menjadi persekutuan yang peduli terhadap realitas tingginya angka gisi buruk dalam masyarakat Manggarai, sehingga semua saling mendorong untuk memanfaatkan tanaman pekarangan dengan membudidayakan pangan lokal sebagai sumber gizi anak. Lebih dari itu, kita ingin menjadi komunitas profetis yang memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan umum di tengah masyarakat.

Para imam, biarawan/wati, dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Ciri persekutuan Gereja yang profetis itu sangatlah relevan dalam tahun 2018 ini, ketika terjadi perhelatan politik Pilkada penting di wilayah keuskupan kita, yaitu: pemilihan Gubernur NTT dan Bupati Manggarai Timur. Dalam situasi ini, marilah kita kembali mengingat keputusan Sinode III yang mendorong kita semua untuk terlibat aktif dalam proses demokrasi dalam memilih pimpinan daerah yang berkompeten dan berintegritas moral. Pilihan politik umat beriman Katolik hendaknya bertolak dari hati nurani yang jernih yang terarah kepada kebaikan dan kesejahteraan umum.

Oleh karena itu kami mengajak seluruh umat Katolik agar turut mengusahakan proses Pilkada yang jujur dan adil serta tidak terjebak dalam politik uang dan politik primordial yang mengkotak-kotakkan. Perbedaan pilihan politik hendaknya tidak memecah belah persaudaraan umat, tetapi diterima sebagai hal yang wajar dalam proses demokrasi. Secara khusus kami menghimbau para politisi agar ‘bertarung’ dengan sportif, jujur dan benar. Sebab Pilkada adalah momentum perjuangan untuk menjadi ‘pelayan masyarakat’ dan ‘abdi’ kesejahteraan umum, dan bukannya menjadi penguasa yang sewenang-wenang dan korup. Tak lupa kami juga menghimbau para imam dan biarawan/wati agar mendorong terwujudnya proses Pilkada maupun hasilnya dalam prinsip kejujuran, kebenaran, keadilan dan kesejaheraan umum. Namun para klerus tidaklah boleh terlibat dalam politik ‘praktis’ kekuasaan. Janganlah menjadi tim sukses untuk calon tertentu baik secara terang-terangan maupun diam-diam. Jangan pula sekali-kali menjadikan mimbar Gereja sebagai media kampanye politik maupun membiarkan institusi Gereja maupun simbol iman Katolik dimanipulasi untuk kepentingan politik tertentu.

Para imam, biarawan/wati, dan seluruh umat Allah Keuskupan Ruteng yang dikasihi Tuhan!

Seluruh perjuangan pertobatan, pembaruan diri kita termasuk upaya membangun persekutuan umat Allah yang “sehati dan sejiwa” berpuncak pada peristiwa Paska. Kristus, yang setia mendampingi kita dalam jalan salib dan kematian, akan menganugerahkan kita kepenuhan hidup abadi. Maka marilah kita serahkan seluruh pergulatan kehidupan umat Allah Keuskupan Ruteng ke dalam belas kasih-Nya. Dia yang telah memulai karya baik dalam diri kita akan menyelesaikan dan menyempurnakannya dalam sukacita ilahi. Selamat merayakan pesta Paska.

Ruteng, 23 Februari 2018,
Administrator Apostolik,

Mgr. Silvester San