Marianus Sae, salah satu kandidat Pilkada serentak 2018 yang sudah ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus suap. (Foto: Ist)

Oleh: ILLO DJEER, musisi asal Ruteng, menetap di Jakarta

Pagi ini saya makan alpukat. Dengan kopi pahit. Saya tidak pernah minum kopi yang dicampur gula. Dan alpukat adalah salah satu lauk yang paling saya suka. Kombinasinya dengan nasi menciptakan rasa yang sempurna di lidah. Dan di hati, sebab di Ruteng dulu, nasi dan alpukat adalah makanan favorit saya.

Tapi pagi ini saya tidak makan nasi, sebab saya memang sejak lama tidak makan nasi pagi hari. Kalau saya makan nasi, pada keseluruhan hari saya akan ngantuk, lemah, sakit lambung, tidak produktif dan tidak ganteng.

Akan tetapi, alpukat dan kopi – yang sering membuat saya tersenyum sendiri sambil menengadah karena enaknya – tidak berhasil membuang galau karena berita yang menggemparkan itu: Marianus Sae (MS) ditangkap KPK.

Dalam beberapa tahun terakhir, MS adalah orang NTT yang paling saya kagumi. Keluarnya Ngada dari daftar daerah tertinggal dan kemampuannya mengelola anggaran sungguh membuat saya kagum. Sikapnya terhadap lelucon bernama Tour de Flores juga membuat saya sering merenung kagum.

Sebagai peminum kopi Manggarai, sudah lama juga saya “jengkel” dengan MS ini, sebab setahu saya, daerah yang identik dengan kopi adalah Manggarai, dan melihat kopi Bajawa berkibar di mana-mana di Jakarta membuat saya jengkel.

Kekaguman pada MS membuat saya, yang bukan pemilih aktif di NTT, telah sejak lama menetapkan hati akan mendukung beliau jika dia maju sebagai salah satu calon gubernur NTT.

Saya tidak melihat harapan lain untuk NTT selain MS. Sulit membayangkan NTT maju di tangan orang lain. Pandangan pribadi saya, Pilgub NTT hanya akan berguna jika melahirkan seseorang dengan kualitas Marianus.

Saya sangat antusias saat diminta Om Ratamila Clemens Carvalho mengerjakan aransemen lagu untuk Marianus. Dalam setiap ketukan irama, saya membayangkan NTT yang mantap. Penuh harapan seperti lagu itu. Tetapi mendengar kabar penangkapan itu sungguh membuat saya galau. Sedih. Kepala terasa melayang-layang. Saya tidak bisa membayangkan akhir dari cerita perjalanan Marianus, tetapi berita itu telah berhasil membuat saya patah berkeping-keping.

Apa pun hasil proses hukum, saya ingin berterima kasih kepada MS yang telah sempat menyalakan harapan dan rasa bangga di hati. Selalu sehat, MS. Dan, ijinkanlah saya memanggilmu dengan kata ini: Eja.

Eja e, jalani proses hukum ini dengan baik e.

Oh ya, untuk merayakan hari Valentine, saya akan meluncurkan sebuah lagu untuk MS.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini