Dalam foto ini yang diambil dari arah laut, tampak lahan di Kerangan, Labuan Bajo, di mana sudah dibangun rumah oleh Haji Muhammad Adam Djudje. Di lokasi ini, juga sudah ditanam sejumlah pohon pisang. (Foto: Floresa)

Floresa.co – Pengacara Muhammad Achyar Abdurahman dilaporkan pernah mengajukan permohonan penerbitan sertifikat untuk tanahnya dan tiga orang lainnya dengan membawa dokumen milik Haji Muhammad Adam Djudje.

Dokumen Djudje itu terkait klaim adanya penyerahan lahan 30 hektar di Toroh Lemma Batu Kallo/Kerangan, Kelurahan Labuan Bajo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) oleh Fungsionaris Adat Nggorang pada tahun 1990.

Hal itu disampaikan oleh Made Anom, Kepala Badan Pertahanan Nasional (BPN Mabar) kepada Floresa.co, Senin, 5 Februari 2018.

Setelah dokumen Djudje itu ditolak – karena menurut Made, lahan yang dimintai untuk dibuat sertifikat itu adalah sebenarnya milik Pemda Mabar – Achyar datang lagi dengan alas hak lain, yakni dokumen Ahli Waris Raja Pota.

Made pun mengonfirmasi bahwa empat permohonan yang disampaikan Achyar adalah untuk Achyar sendiri, Gabriel Mahal, Gories Mere dan Karni Ilyas.

“Sebelumnya dia ajukan penerbitan empat sertifikat berdasarkan dokumen Haji Djudje,” katanya.

“Lalu, dia ajukan lagi (dengan alas hak) perolehan tanah dari Ahli Waris Raja Pota. Menurutnya, perolehan tanah itu tahun 1909. Transaksi jual jual beli mereka dengan Ahli Waris Raja Pota katanya dilakukan di Jakarta,” jelas Made.

Ia menjelaskan, permohonan Achyar itu ditolak karena menurut Made, lokasi yang dimaksud lagi-lagi adalah lahan yang menurut BPN merupakan milik Pemda Mabar, yang diperoleh dari Fungsionaris Adat Nggorang tahun 1997.

“Itu makanya kita bingung,” katanya.

BPN, kata dia, makin bingung karena dalam dokumen permohonan itu, Achyar juga mencantumkan dokumen bahwa dirinya sebagai kuasa hukum Djudje.

Dalam wawancara Floresa.co dengan Achyar, ia memang membenarkan status sebagai kuasa hukum Djudje, bersama Gabriel Mahal.

Ia menolak memberi keterangan lebih jauh terkait polemik ini dan meminta Floresa.co untuk mengikuti penjelasan Gabriel, yang beberapa kali diposting di akun Facebook-nya.

Menurut keterangan Gabriel, yang kemudian dipublikasi Floresa.co, lahan yang diajukan oleh Achyar untuk dibuat sertifikat adalah lahan milik sembilan ahli waris Alm. Abdullah Tengku Daeng Malewa atau Raja Pota, yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan lahan yang diklaim sebagai milik Djudje.

Ia pun menyebut, Gories dan Karni membeli lahan itu dan Achyar hanya membantu pengurusan sertifikat.

Penjelasan Gabriel dalam salah satu tulisannya “Peradilan Opini 3” tidak mengungkap kaitan antara lahan Djudje, di mana ia dan Achyar adalah kuasa hukumnya dengan lahan yang mereka peroleh bersama Gories dan Karni.

Gabriel hanya menyebut bahwa lahan yang mereka bereempat peroleh adalah succes fee untuk bantuan hukum yang mereka berikan kepada Ahli Waris Raja Pota.

Terlepas dari kebenaran pengakuan Gabriel itu, Floresa.co mendapat salinan dokumen terkait surat keterangan kepemilikan tanah milik Gories yang dikeluarkan oleh Kelurahan Labuan Bajo.

Dalam surat itu dengan Nomor Pem 899/2779/VII2017 yang diterbitkan pihak kelurahan pada 30 Agustus 2017, dijelaskan bahwa Gories mendapat lahan 2.000 meter persegi, yang dibeli dari Achyar.

Disebutkan pula bahwa perjanjian jual beli antara Achyar dengan Gories dilakukan pada 7 Agustus 2017.

Batas-batas lahan Gories adalah sebelah utara tanah milik Djudje, sebelah timur tanah milik Gories dan sebelah selatan serta barat adalah laut.

Informasi dalam dokumen itu sama dengan yang tertera dalam salinan perjanjian jual beli yang juga diperoleh Floresa.co.

Tambahannya, dalam dokumen perjanjian itu, terungkap pula bahwa 2.000 hektar lahan milik Gories dibeli dari Gabriel, sehingga total lahannya mencapai 4.000 m2.

Batas lahan yang dibeli dari Gabriel itu adalah sebelah utara tanah milik Djudje, sebelah timur tanah milik Gabriel, sebelah selatan laut dan sebelah barat tanah milik Achyar.

Sementara itu, untuk lahan milik Karni, dalam surat keterangan pihak kelurahan yang juga diterbitkan pada tanggal yang sama, diterangkan bahwa ia memiliki lahan seluas 4.000 m2, sesuai dengan surat perjanjian jual beli tanggal 7 Juni 2017.

Batas-batasnya antara lain, sebelah utara tanah milik Djudje, sebelah timur tanah milik ahli waris Abdulah Tengku Daeng Malewa, sebelah selatan laut dan sebelah barat adalah tanah milik Gabriel.

Meski kedua surat keterangan itu dibuat pada tanggal yang sama, namun dalam surat milik Karni tidak dicantumkan pihak yang menjual tanah itu.

Lurah Malik mengonfirmasi validitas surat yang ia keluarkan, yang menurutnya dibuat atas permintaan Achyar.

“Yang mengajukan surat itu Pa Achyar,” katanya kepada Floresa.co.

Ia menjelaskan, saat pengajuan Achyar tidak mencantumkan surat perjanjian jual beli tanah-tanah itu.

“Dasarnya, pengakuan Achyar bahwa ia adalah ahli waris Raja Pota,” katanya.

Menjawab pertanyaan Floresa.co terkait alasan penerbitan surat keterangaan itu, padahal lurah sebelumnya Abdul Ipur sudah pernah menyatakan bahwa lahan yang dimaksud Achyar itu adalah milik Pemda Mabar, Sarifudin beralasan, tidak mengetahui surat itu.

“Saya bolak-balik mencari dokomen itu, (tapi) belum ditemukan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan, tidak mengetahui lokasi tanah yang ada dalam surat-surat itu. “Saya sendiri belum pernah ke lapangan. Saya belum lihat lokasinya,” katanya.

Pada 2014, Abdul Ipur memang pernah menerbitkan surat yang selain mengakui bahwa lahan itu adalah milik Pemda, juga membatalkan surat sebelumnya pada tahun yang 2013 berisi pengakuan bahwa Djudje adalah pemilik lahan itu.

Ipur mengatakan kepada Floresa.co, surat pembatalan itu diterbitkan setelah menemukan dokumen baru yang diperlihatkan oleh Pemda Mabar.

“Setelah saya lihat semua dokumen milik pemerintah dan foto-foto saat pengukuran, saya lalu membuat surat pembatalan,” katanya.

Made Anom, Kepala BPN Mabar memastikan bahwa empat lokasi yang dimintai sertifikat oleh Achyar adalah masuk di lokasi 30 ha milik Pemda itu.

Catatan Redaksi: Silahkan baca di sini tanggapan Achyar: Hak Jawab Muhammad Achyar

Ferdinand Ambo/ARL/Floresa