"Dan, saya tak langsung merebut Dian Sastro, meski sudah berkali-kali jatuh cinta kepadanya," tulis Iwan Jemadi. (Foto: Ist.)

Oleh: Iwan Jemadi, pecinta sastra. Menulis, katanya, sebuah perlawanan terhadap diam.


Adolphe

Ada sebuah roman yang ditulis sastrawan Prancis, Benjamin Constant (1816). Kisahnya berlangsung pada akhir abad ke-18, di sebuah wilayah kekuasaan seorang pangeran Jerman.

Adolphe, pemuda berusia 22 tahun — seorang pelamun, kerap merasa bosan dan sering acuh tak acuh — jatuh cinta pada perempuan yang sepuluh tahun lebih tua darinya. Nama perempuan itu, Ellenore. Ia seorang kekasih dari laki-laki lain, yang telah menghadiahinya dua orang anak. Namun,seorang perempuan yang terikat dalam relasi dengan laki-laki lain, bukanlah sebuah tantangan berarti bagi Adolphe yang mahir bermain cinta. Kisah mereka pun rumit terurai.

Jatuh cinta mungkin membuat seorang manusia menjadi pemalu. Di hadapan Ellonore, seluruh keberanian dan nyali khas anak bangsawan menciut. Adolphe dengan susah payah berusaha mengalihkan gravitasi. Mungkin, karena telah memiliki kekasih, perempuan itu memilih acuh tak acuh. Namun, ketidakacuhan justru membangkitkan rasa cinta yang membara. Adolphe makin menggebu memperlihatkan rasa cintanya kepada Ellenore. Dan, terjadilah kemudian. Ellenore meninggalkan kekasihnya, memulai kisah cinta yang baru.

Kisah cinta mungkin tak semanis ketika romansa itu dimulai. Setelah relasi terjalin, rasa jenuh selalu mungkin mengintai. Itu juga terjadi pada Adolphe. Laki-laki itu perlahan merasa telah menyia-nyiakan hidupnya dan kisah cinta itu terasa membebaninya. Ia merasa jenuh, tetapi tak memiliki keberanian untuk mengakhiri relasi yang dimulai dengan tergesa-gesa. Kisah cinta yang bermula manis itu, perlahan  menjelma sebuah penderitaan yang lain. Ellenore merasa lelaki yang membuatnya meninggalkan kekasih lamanya itu, sudah tak mencintainya lagi. Namun, ia belajar bertahan.

Akhir kisah ini memang menyedihkan. Dari seorang kawan Adolphe, Ellenore menerima warta tentang adanya niat untuk mengakhiri kisah cinta mereka. Seakan menyertakan virus, kabar yang kemudian datang lewat surat itu lekas membuat Ellenore sakit. Ia tak punya alasan untuk bertahan. Perempuan itu pergi dan meninggalkan kebebasan pada laki-laki yang tak memiliki keberanian untuk mengakhiri kisah cintanya. Dengan kepergian Ellenore, laki-laki itu mungkin menerima kebebasan. Namun, ia tak memiliki sedikit kekuatan untuk menikmatinya.

Tuduhan paling umum terhadap cerita ini ialah bahwa Benjamin Constant sebetulnya sedang berusaha untuk mengisahkan pengalamannya sendiri. Ia memang pernah menjalin hubungan penuh gejolak dengan Madame de Stael. Terlepas dari benar tidaknya tuduhan itu. M. Bouty, dalam Kamus Karya Sastra Prancis, menilai roman ini sebagai kisah yang menggambarkan cinta yang meluap-luap, kejernihan pikiran, dan kelemahan jiwa.

Kierrkegaard: Manusia dalam Tiga Tahap

Pada hari ketika saya membaca cerita ini, sebuah karya lain mampir ke meja kerja. Sebuah tesis yang ditulis seorang mahasiswa filsafat yang berhasil diujikan dan kemudian dibukukan. Isinya tentang filsafat seorang Denmark keturunan Yahudi, yang lahir tiga tahun sebelum Benjamin Constant rampung menuliskan roman Adolphe. Dialah Soren Keikkegard, seorang eksistensialis. Saya mengagumi sebagian pemikirannya, meskipun tak lekas menjadi seorang eksistensialis dengan kekaguman itu. (Keseluruhan gagasan Kierkegaard dalam tulisan ini disarikan dari Pergumulan Individu dan Kebatinan menurut Soren Kierkegaard, sebuah karya cemerlang dari Eugenita Garot.)

Seluruh eksistensi manusia berhubungan dengan tiga hal berikut ini, subjek, kebebasan, dan etika. Ketiganya berkaitan, atau tidak independen. Manusia dalam intuisi Kierkegaard adalah seseorang yang memiliki kebebasan, yang dengan kebebasan itu ia bertindak berdasarkan nilai moral (etika). Ia bukan seorang yang melapangkan semua jalan demi memenangkan angannya sendiri. Ia peduli pada jalan, hirau pada akibat. Semua keinginan yang hendak diupayakan, dipertajam dengan menyertakan kategori “baik/buruk”. Manusia dalam intuisi Kierkegaard bukanlah seorang pejabat yang tak hirau pada cara demi memenangkan Pilkada. Ia tentu bukan seorang Adolphe, yang dengan kebebasannya merebut Ellenore atas nama cinta, sebelum akhirnya mencampakkannya atas nama rasa jenuh.

Kierkegaard membagi cara berada manusia dalam tiga tahap, estetis, etis dan religius.  Ketiga tahap ini bukanlah sebuah fase final. Seseorang saat ini mungkin ada di fase estetis, pada masa lain ia berkembang menjadi seorang manusia di tahap religius. Atau sebaliknya.

Pada fase pertama, manusia tidak mempertimbangkan apa yang baik dan buruk dalam tindakannya. Ia tidak hirau pada pertanyaan boleh atau tidak. Apa yang diinginkan haruslah dipenuhi lekas-lekas. Tindakannya digerakan oleh keinginan untuk memenuhi hasrat.  Dalam kehidupan estetis, seorang manusia cenderung tak punya ruang sendiri, tempat di mana ia mempertajam keinginannya. Ia tidak akan pernah merefleksikan dirinya secara penuh, kecuali membuat kalkulasi matematis agar hasratnya lunas.

Orang estetis berkembang, namun perkembangannya terjadi karena sebuah keharusan, dan bukan karena kebebasan. Pada fase tertentu, misalnya, saya harus menikah! Itu diterima sebagai sebuah keharusan, dan bukan karena pilihan. Saya tidak peduli pada pertimbangan baik dan buruk untuk menikah dengan orang tertentu. Menikah menjadi suatu keharusan, yang tak perlu lagi dinilai berdasarkan kaidah baik buruk! Dalam kehidupan yang demikian, sukarlah untuk menanyakan dan menemukan makna, selain hampa. Kehampaan ini pada gilirannnya mendorongnya untuk masuk ke fase lebih tinggi, tahap etis.

Manusia etis hidup dengan pilihan-pilihan tertentu. Pilihan itu dilandaskan pada pertimbangan baik buruk. Karenanya kemudian daripadanya layak dituntut sebuah pertanggungjawaban. Sebuah pertanggungjawaban dengan sendirinya diharapkan tumbuh dari sebuah tindakan yang rasional. Jatuh cinta pada orang tertentu, mungkin sebuah hal yang berkaitan dengan afeksi seseorang. Namun, seorang pribadi pada fase etis dalam tahap hidup manusia, menurut Keikegard, akan mempertimbangkan baik buruk dari kenyataan bahwa ia jatuh cinta dengan orang tertentu. Hal inilah yang gagal kita temukan dalam diri tokoh roman Benjamin Constant.

Manusia etis akan menempatkan apa yang baik dan buruk sebagai pertimbangan penting dari setiap tindakan yang diambilnya atas nama kebebasan. Ia tentu punya ruang sendiri, untuk menilai atau berefleksi. Juga bahkan ketika ia memutuskan sesuatu yang keliru, daripadanya kita mengharapkan sebuah pertanggungjawaban yang lain. Namun demikian, manusia etis bagi Kierkegaard masih berkutat dengan dirinya sendiri.

Mungkin sebab Kierkeggard juga merupakan seorang teolog, ia menambahkan wilayah eksistensi ketiga dan tertinggi, religius. Jika manusia etis bertindak dengan mempertimbangkan baik buruk berdasarkan akal budinya, pada fase ini manusia hidup berdasarkan iman. Ia melibatkan relasi dan pengalaman personalnya dengan Yang Ilahi, dalam menggunakan kebebasannya. Kierkegaard menyebut tindakan Abraham untuk mempersembahkan Ishak sebagai salah satu contoh manusia di wilayah eksistensi religius.

Yang Fana adalah Dian Sastro, Kekagumanlah yang Abadi

Manusia, mengutip Kierkegaard, adalah sintesis antara yang fana dan yang baka, yang sementara dan yang abadi. Ia selalu berada dalam ruang dan waktu, dan karenanya ia dibatasi. Namun, manusia itu pun memiliki kemungkinan untuk melampaui ruang dan waktu, demi mencapai wilayah tak terhingga, ruang kekekalan.

Hidup estetis hanya mengungkapkan dimensi sementara manusia, wilayah kefanaan. Manusia, pengada yang sebentar itu, hidup berdasarkan perasaan dan hasrat yang menuntut untuk lekas dipenuhi. Segala yang diinginkan dan semua yang diangankan, patut diupayakan untuk dicapai, tak peduli dengan jalan yang ditempuh untuk mendapatkannya. Menjadi bahagia dengan kebebasan yang dimiliki ada di satu dimensi. Dimensi lainnya ialah bahwa kebebesan selalu mengusahakan perihal baik. Sebab, eksistensi manusia sebagaimana dikatakan Kierkegaard, selalu mencakup subjek (diri), kebebasan, dan etika (moralitas).

Hidup ini fana, kata penyair Goenawan Mohamad, tapi kita bisa membikinnya abadi. Mungkin dengan memilih menjadi manusia etis dan terutama religius, segala yang sebentar dimungkinkan menjadi kekal.

Tapi, apa hubungannya tulisan ini dengan Dian Sastro? Entahlah. Yang dapat saya ingat ialah kekaguman tanpa henti pada perempuan dengan ragam bakat itu. Saya terburu-buru merasa cemburu ketika bibir Rangga menghapus kefanaan bibirnya dalam sekuel AADC1/2. Dan, saya tak langsung merebut Dian Sastro, meski sudah berkali-kali jatuh cinta kepadanya.

Juga, andaikata saya memiliki keberuntungan yang dimiliki Adolphe pada Ellenore, Dian Sastro tak bakal dinikahi. Sebab, yang fana adalah Dian Sastro, kekaguman padanyalah yang abadi!