Siapa yang Akan Jadi Gubernur NTT?

2
1757
Robert Bala (Foto: dok.)

Oleh: ROBERT BALA, Alumnus Diplomasi Resolusi Konflik Universidad Complutense de Madrid, Spanyol.

Genderang pemilihan gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah ditabuh. Empat paket calon siap bertanding, yakni Esthon L Foenay-Christian Rotok (Esthon-Chris), Benny K Harman-Benny A Litelnoni (Harmoni), Marianus Sae-Emmilia Nomleni (Marianus-Emmi) dan Viktor Bungtilu Laiskodat-Joseph Nae Soi (Victory-Joss) .

Ini sebuah variasi pilihan yang luar biasa. Kualitas para calon tentu sangat diacungi jempol. Lima tahun ke depan, siapapun yang terpilih, mesti membawa NTT ke arah yang lebih baik.

Tentu, sekarang masyarakat penasaran, siapa yang bakal dipilih?

Tulisan ini jauh dari kategori ilmiah karena hanya ‘mereka-reka,’ yang tentu saja tidak perlu diributkan bila tidak sesuai dengan pandangan pembaca.

Yang pasti, tidak ada kepentingan tertentu di balik análisis ini. Saya juga tidak mengenal empat paket secara pribadi. Memang, sekitar 5 atau malah 6 tahun lalu, saya sempat bertemu dengan BKH dan VBL. Pertemuan yang saya masih ingat, tetapi tentu bukan bagi BKH dan VBL. Bagi mereka, itu hanya salah satu dari ribuan pertemuan yang barangkali lebih penting.  

Dengan EF, tidak pernah bertemu muka. Begitupula dengan dengan MS, tidak pernah bertemu. Memang, saat terjadi kasus pemblokiran Bandara Soa yang menghebohkan itu, saya pernah menulis sebuah artikel di Flores Bangkit yang kemudian diminta oleh Pos Kupang untuk diterbitkan di edisi cetak. Tulisan itu merupakan sebuah kritik atas tindakan ‘cowboy’ yang tidak patut dicontohi.

Bukan Primordialisme

NTT yang terkenal sangat toleran, yang disebut-sebut sebagai provinsi paling toleran di Indonesia, selalu mengedepankan sportivitas. Di daerah ini, kerja sama antarpemeluk agama sangat kuat. Di masa lalu, konflik antara Protestan versus Katolik sempat mencuat. Namun, kini situasinya tampak sudah berubah.

Saya berasumsi, isu agama dan asal tidak akan terlalu berpengaruh. Dengan kehadiran media sosial, sukuisme cukup banyak terkikis. Banyak orang Katolik Flores yang mungkin terpesona dengan VBL dan EF. Begitupun sebaliknya, warga Protestan di Timor dan Sumba barangkali lebih terpesona dengan konsep pembangunan dari desa ala MS atau kecerdasan hukum dan politik dari BKH.

Lalu apa isu yang akan lebih berperan? Menurut saya, rujukannya ada pada pemilihan presiden (Pilpres). Pilgub di medio Juni ini sebenarnya hanya sebuah persiapan saja untuk Pilpres.

Nasdem dan Golkar sudah sangat cerewet dari dalam untuk memilih Jokowi sebagai calon presiden 2019. PDI Perjuangan yang ‘punya Jokowi’ tentu juga merasa sebagai yang paling berhak mengusung Jokowi. Lebih lagi, NTT pada periode Jokowi begitu mendapatkan perhatian. Lihat saja 7 bendungan yang dibangun senilai Rp 5,9 triliun.

Isu calon presiden seperti ini akan sangat menguntungkan partai pendukung. Sementara itu, bagi Gerindra, PKS, PAN, dan juga Demokrat, akan tidak diuntungkan oleh isu ini.

Lebih lagi, aneka isu nasional seperti kasus Ahok, kelompok-kelompok Muslim garis keras dan isu-isu lain yang cukup sensitif, mestinya tidak perlu jadi perhatian serius, apalagi berusaha untuk menyampaikan ‘penjelasan’.

Usaha BKH untuk menjelaskan secara brilian tentang eksistensi kelompok Front Pembela Islam (FPI) patut diacungi jempol. Tetapi, logika masyarakat tidak mudah menangkapnya. Lebih lagi, hadir upaya menyebar isu yang mendiskreditkan Jokowi akan menjadi boomerang.

Dari Pusat atau Desa?

Isu santer yang akan ramai diangkat adalah soal orang ‘pusat’ dan ‘daerah’. Empat paket bisa dikategorikan dalam dua kelompok ini. VBL dan BKH boleh dikategorikan sebagai ‘orang ‘pusat’ Keterlibatan mereka dengan ‘Jakarta’ telah menempatkan mereka sebagai pribadi hebat.

BKH dengan pendidikan formal, serta karier dalam politik menjadi ketua dan wakil komisi di DPR menempatkannya sebagai pemimpin paling diandalkan. Sudah saatnya NTT punya pemimpin cerdas, berhadapan dengan pemimpin pragmatis yang sekadar menawarkan solusi instan, asal jadi.

Tetapi, tentang kadar pengenalan akan ibukota, VBL bisa mengklaim dirinya paling lengkap. Ia sudah cukup piawai dalam mengelola masyarakat bawah, mahir dalam binis, hingga menjadi orang dekat Tommy Winata dan bahkan menjadi saudara ipar. Selama periode ini, lewat Levico, VBL sudah merakyat.

Secara ekonomi pun, ia telah mengirim pesan. Dengan kekayaan yang sudah dimiliki, ia tidak akan korupsi. Kehadirannya dengan pesawat pribadi, hanya mau menegaskan, rakyat yang masih miskin, butuh pemimpin kuat: kuat karakter, kuat dana dan kuat lobi.

Figur ‘pusat’ akan berhadapan dengan ‘figur daerah’ yang diwakili EF dan MS. EF sebagai birokrat sejati menjadi orang yang paling mengenal realitas NTT. Ia juga diakui hal mana terbukti dari aneka prestasi.

Dengan terlibat dalam tiga Pilgub (2004, 2009, 2013) menandakan bahwa EF tampil karena berprestasi bukan karena ‘mahar’. Kemenangan (kalau diizinkan) akan menjadi kesempatan bagi EF mewujudkan ide-idenya.

Hanya saja, NTT sebagai provinsi ‘kepulauan” bisa membuat EF ‘terengah-engah’. Umurnya sudah tidak mudah lagi dan sudah hampir 8 tahun pensiun. Selain itu, program yang ditawarkan tidak bersifat ‘standar’. Perlu ada ‘gebrakan’ yang menarik perhatian. Tanpa terobosan, mimpi jadi NTT 1 bakal pupus lagi.

MS, dengan pengalaman lapangan tujuh tahun menjadi bupati, belum terhitung pengalaman pahit getirnya hidup masa lalu, menjadi sebuah keuntungan besar. Pendekatannya ‘dari desa’ (beasiswa kedokteran, penanaman pohon, infrastruktur, pengetatan belanja pegawai) dan enegisitas yang ditunjukkan dengan motor trail menghadirkan dirinya sebagai harapan.

Pencapaiannya selama ini pasti membuat kabupaten tetanggap, terutama Manggarai merasa iri. Hal inilah yang bakal menjadikan MS dipilih oleh warga Manggarai,bukan BKH atau CR.

Permasalahannya, kisah masa lalu yang sangat keras, kasus  menghamili pembantunya belum lagi pemblokiran bandara, menjadi hal yang cukup mengganggu lajunya menjadi NTT 1. Kasus ini akan membingungkan masyarakat NTT yang terkenal religius. 

Namun, bila politik harus menggunakan prinsip ‘minus malum’ semua kelemahan kandidat dibeberkan di satu pihak dan kesuksesan juga diekspos secara gamblang, maka bisa saja kelemahan (yang tidak bisa dilupakan begitu saja) itu masih ‘diterima,’ dibanding dengan jenis kejahatan lainnya. Saat bersamaan, kesuksesan bisa kian memberi kesempatan agar kekeliruan serupa tidak terjadi lagi.

Peluang bagi VBL juga sangat besar. Tetapi perlu muncul  kesadaran terutama bagi relawan untuk turut berkontribusi demi memenangkan VBL dan tidak hanya berharap dari VBL.  NTT terlalu luas dan mahal kalau semua kampanye dibuat  gegap gempita dengan menghadirkan artis ibu kota. Irama itu akan cepat berkurang dalam lima bulan mendatang.

Semenara itu BKH dan EF, harus mencari gebrakan brilian, hal mana sampai sini belum kelihatan, masih standar-standar saja.

Apapun yang terjadi, ini hasil rekaan. Yang pasti, siapapun yang terpilih, adalah putera terbaik yang bisa membawa harapan untuk NTT. 

2 Komentar

  1. Pilih calon yang tidak didukung oleh partai pendukung intoleran, karena bertentangan karakter NTT yang sangat toleran. Sudah jelas diperlihatkan di TV, partai mana yang dukung gerakan radikal atau intoleran, mana partai yg konsisten dukung Pancasila, Multikultral dan UUD 1945. Selamat memilih rakyat NTT

  2. Terimakasih, atas analisa yg inspiratif ini. Kami cuma bermimpi agar pemimpin yg hadir memiliki 7 kapasitas:

    1. Track record teruji berjuang pro rakyat
    2. Karakter sederhana & peduli pada penderitaan rakyat
    3. Leadership terukur sesuai amanat UU
    4. Kemampuan manajemen GCG (Good Coorporate Governace)
    5. Pandangan yg visioner menuju era digital menyambut persaingan global
    6. Filosofi tradisional: berpikir global bertindak lokal
    7. Keberanian melawan segala kepentingan: primordial, kelompok kapital, & partai
    Semoga terlahir pemimpin yg berjuang demi kesejahteraan rakyat. Amin
    (Salam dari kota hujan)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini