Ilustrasi

Oleh: FRANSISKUS SABAR, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafar KatolikLedalero, Maumere

Selamat memasuki tahun politik 2018. Penobatan tahun 2018 sebagai tahun politik tidak terlepas dari konstelasi dan kontestasi politik yang sedang menggejolak hebat dan kompetitif.

Pilkada serentak pada gelombang III – setelah gelombang  I pada 2015 dan gelombang II pada 2017 -, diikuti oleh 171 daerah dengan rincian 17 provinsi, 15 kabupaten, dan 39 kota di setiap pelosok nusantara menjadi sinyal politis yang memfondasi dan memantik tensi politik negara demokrasi ini.

Para calon mulai mengunjuk dan memamerkan profil, visi dan misi serta merumuskan janji politik yang dianggap dapat meraup dukungan massa.

Zona Baru Politik 2018

Tahun politik 2018 merupakan babak baru dalam konteks perpolitikan Indonesia. Memang politik terlihat selalu baru serentak basi dan klasik.

Politik menjadi selalu baru karena selalu berada dan berkembang bersama situasi hidup manusia yang dinamis dan kontinu, tidak statis dan stagnasi atau berjalan di tempat.

Politik selalu eksis dan relevan di setiap waktu, bahkan sebagian besar pertengkaran dan polemik yang melilit bangsa  ini selalu bermuara pada perkara politis. Mulai dari munculnya kelompok eksklusif-konservatif radikalis dan kaum fundamentalis yang mengguncang kedudukan Pancasila yang disinyalir bagian dari agenda politis-ideologis dari kelompok tertentu, ditambah merebaknya kasus korupsi yang membebek yang syarat dengan praktik dan trik manipulatif sampai pada politik identitas yang menjalar liar dan buas pada lahan demokrasi menjadi tanda radix fluktuasi politis di negara ini.

Tetapi serentak pula terlihat basi dan klasik, karena faktum politik yang berjalan di tempat dan stagnan. Kesalahan dan kekeliruan politis di masa lampau hampir pasti akan terjadi pada masa sekarang. Peta politik kita menjadi amburadul dan juga sesekali memberi kesesatan politis yang berujung pada kehancuran.

Propaganda politik yang sarat manipulatif dan rekayasa terus mewarnai atmosfer persaingan politik kita. Persaingan politik yang tidak sehat ini pun terus eksis dan bertebaran dalam geliat kampanye hitam dan janji politik yang utopis-bombastis di setiap tahun.

Praktik politik uang yang sudah mengakar tunggang terus mewarnai kompetisi pilkada dari tahun ke tahun dan berbagai praktik politik destruktif- distorsif lainnya yang berusaha memberangus prestise politik bangsa ini.

Pada titik ini mungkin filsuf modern Manchiavelli benar bahwa para pemimpin mempunyai hak untuk menetapkan segala sesuatu tanpa perlu terikat dengan norma-norma moral yang berlaku dalam masyarakat, dalam arti untuk menperoleh kekuasaan seseorang “menghalalkan segala cara” meskipun hal itu bertentangan dan kontradiksi dengan norma moral yang berlaku.

Hal ini kemudian melahirkan stigma keberdosaan politis dari Aristoteles yang mengatakan bahwa “ politik itu kotor”. Bahwasannya seturut Aristoteles politik itu bukan sekadar soal kekuasaan seperti yang kemudian yang dipahami oleh Niccolo Mancheavelli (Italia, 1469-1527) sebagai konsep real politik, melainkan juga meliputi tanggung jawab untuk membuat kehidupan bersama itu menjadi manusiawi.

Pemimpin Zaman Now dan Harapan Baru

Setelah mendeklarasikan kebobrokan moral kaum muda dan remaja konteks kekiniaan (Kids Zaman Now) melalui lagunya “Kids Zaman Now” ciptaan Eckho Show, kini saatnya di tahun politik 2018 ini, kita mencermati dan mengharapkan hadirnya pemimpin zaman now yang berkulitas.

Seperti yang diharapkan, kiranya pilkada di tahun baru 2018 ini menelurkan pemimpin zaman now yang berintegritas, baru, kreatif, inovatif dan peka terhadap kepentingan masyarakat akar rumput.

Pemimpin zaman now juga diharapkan menjadi pemimpin yang bijaksana, ulet, maturistis, jujur dan kreditabel. Ia bukan pemimpin baru tetapi berhati basi, busuk, kotor dan klasik yang menjadi biang perilaku koruptif, penyebar kampaye hitam yang syarat dengan fitnah dan kebencian, dan pencandu rakyat dengan buaian janji tipu muslihat yang berceceran di mana-mana, seperti faktum ke-chaos-an dan kebobrokan yang dideskripsikan Eckho Show dalam lagunya “Kids Zaman Now”.   

Karena itu, dengan semangat baru di tahun 2018 ini masyarakat mesti jeli, kritis, dan berhati-hati dalam memilih dan memilah para kader yang bertengger pada papan kontestasi. Tsunami politik yang merebak pada tahun politik ini menuntut masyarakat agar selektif dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Menyitir Amartya Sen pemenang nobel ekonomi 1998, ia menegaskan bahwa kita bebas jika kita memilih. Kemampuan memilih menunjukkan kita bisa bertanggung jawab.  Pemahamannya seperti ini: “karena kita tahu apa yang dipilih atau apa yang dilakukan, maka kita akan bertindak seturut dengan pilihan dan rencana yang telah disusun.”

Oleh karena itu seturut gagasan Bung Hatta dalam pidatonya di India menyatakan bahwa “ demokrasi bukanlah pelaksanaan pemilu dalam jangka waktu tertentu”, melainkan something which should and eventually must, touch the lives of the people every day and in all ways.

Demokrasi juga bukan merupakan praktik politik lima menit apalagi dimotivasi oleh doping politik tertentu.