KELANA ROHANI: Pater Al Gesu memimpin doa dalam perjalanan ziarah di Danau Tiberias. Foto kanan, wartawan Jawa Pos berfoto bersama Pater Al Gesu di Bethlehem. (INDRIA PRAMUHAPSARI/JAWA POS JAWA POS PHOTO)

Floresa.co – ”Kalau kamu sungguh-sungguh ingin bersekolah di sana, hanya satu kuncinya. Saat ditanya apa cita-citamu, maka kamu harus menjawab: menjadi pastor.”

Itulah kalimat Maria Goreti Du’e yang tidak pernah bisa dilupakan Erens Albertus Novendo Gesu. Berkat kalimat itu, impian Al Gesu –sapaannya– untuk bersekolah di SMP Seminari St Yohanes Berchmans, Mataloko, Ngada, Nusa Tenggara Timur, tercapai.

Di daerah tempat tinggalnya, SMP Seminari itu biasa disebut seminari kecil. Selama tiga tahun, Al Gesu bersekolah di sana.

Rabu (27/12), di Hotel Rimonim, Nazareth, Israel, Al Gesu mengatakan bahwa sebenarnya motivasi bersekolah di seminari kecil bukanlah untuk menjadi rohaniwan. Dia hanya ingin punya banyak teman pria. Dengan permainan-permainan khas lelaki. Lebih menantang.

”Saya ini sulung dari lima bersaudara. Adik saya yang nomor dua perempuan. Tiap kali pulang sekolah dan sampai rumah, maka saya terpaksa bergaul dengan teman-teman adik saya yang semuanya perempuan. Sebab, anak-anak tetangga kami kebetulan perempuan semua,” ungkap lelaki yang berulang tahun tiap 15 November tersebut.

Karena SMP Seminari St Yohanes Berchmans merupakan bagian dari kompleks SMP-SMA dengan nama yang sama, Al Gesu melanjutkan SMA di sana. Jadilah pemuda yang kini berumur 30 tahun itu bersekolah di seminari selama enam tahun. Yakni seminari kecil dan seminari menengah.

Sebagaimana para siswa seminari yang lain, Al Gesu pun seperti punya beban untuk melanjutkan pendidikannya di seminari. Tepatnya seminari tinggi. Sekolah calon pastor.

Tapi, sebelum itu, para lulusan seminari menengah punya kesempatan untuk menimbang-nimbang panggilannya sebagai rohaniwan dalam masa postulat. Masa pengenalan awal pada kehidupan calon rohaniwan.

Pada 2005, Al Gesu menjadi postulan. Postulan adalah sebutan bagi para lulusan seminari menengah yang sedang menjalani masa postulat. Ketika itu, dia melewati masa penting tersebut di Postulat OFM Papringan di Jogjakarta.

Sebagai postulan, Al Gesu juga wajib melewati masa live-in. Yakni hidup bersama komunitas masyarakat tertentu dan membaur di sana. Seperti seorang mahasiswa yang mengikuti KKN (kuliah kerja nyata), dia pun menginap di kediaman salah seorang warga dan menjalani kehidupan normal layaknya keluarga di rumah tersebut.

Ketika itu, dia live-in di rumah seorang penderita kusta di Pati, Jawa Tengah. Pada masa itu, Al Gesu mulai dihadapkan pada pertentangan batin. Meski jalannya menuju seminari tinggi mulus, karena sudah menjadi siswa seminari kecil dan seminari menengah, ternyata dia juga menyimpan keinginan untuk menjadi mahasiswa biasa. Artinya, tidak melanjutkan pendidikan ke seminari tinggi.

”Ketika itu, saya sudah mendaftar ke UPN Veteran dan cari kos di daerah sana juga,” ujar Al Gesu. Tapi, di tengah pergolakan batinnya itu, Jogjakarta diguncang gempa.

Putra Anselmus Waja itu pun langsung tergerak. Dia menjadi sukarelawan di kota pelajar tersebut. Saat itu juga, dia merasa seperti mendapatkan jawaban. Yakni, bahwa dia memang terpanggil untuk menjadi pelayan Tuhan. Sebab, jauh di dalam lubuk hatinya, dia memang selalu suka melayani.

Karena itu, setelah menuntaskan lakon hidupnya sebagai sukarelawan di Jogjakarta, Al Gesu melanjutkan proses menjadi pastor. Pada 2006, dia menjadi novis (siswa di masa pendidikan awal) di Novisiat OFM, Depok, Jawa Barat.

Tahun berikutnya, dia mantap melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta. Empat tahun kemudian, lelaki yang suka guyon tersebut menjalani TOP (tahun orientasi pastoral) di Seminari Stella Maris, Kota Bogor, Jawa Barat.

Di Bogor itulah dia pernah mendapatkan pengalaman menarik. Al Gesu, yang mengaku paling sering terlambat mengikuti doa pagi di seminari tersebut, ketiban sampur menjadi pendamping seminaris muda.

Sebagai pendamping, dia harus bisa menjadi teladan bagi para seminaris muda tersebut. Karena merasa tidak sanggup mengemban tugas itu, dia kemudian protes kepada pimpinan.

Di hadapan pimpinan, Al Gesu menyatakan bahwa dirinya tidak layak menjadi pendamping. Sebab, sebelumnya dia tidak pernah punya pengalaman menjadi panutan atau sosok pemimpin. Terutama karena dia suka bicara apa adanya dan gemar bercanda.

”Tapi, ternyata pimpinan malah berkata, ’Justru karena kamu seperti itulah, maka saya tunjuk. Supaya saat para seminaris itu mengenalmu, mereka akan berpikir, orang seperti ini saja bisa jadi pastor, apalagi saya,’” papar rohaniwan yang ditahbiskan sebagai imam pada 8 Desember 2014 tersebut.

Tanpa jubah cokelat yang menjadi identitasnya sebagai pastor OFM (Ordo Fratrum Minorum atau Fransiskan), Al Gesu menjelma sebagai pemuda sederhana yang murah senyum. Dia juga ramah dan sangat suka berkelakar. Selain itu, dia tampak jauh lebih muda saat tak memakai atribut rohaniwannya.

Dalam balutan jubah cokelat OFM-nya, Al Gesu lebih cocok menjadi pastor yang akrab dengan orang-orang tua. Seperti saat dia mendampingi para peziarah Indonesia selama enam hari pada 23–28 Desember lalu di Israel.

Dari hari ke hari, dia menjadi telinga yang selalu siap mendengarkan kisah atau bahkan curhat para ibu. Juga para bapak. Tapi, setiap petang, saat rangkaian ziarah harian berakhir, dia berubah menjadi teman bagi para kaum muda dalam rombongan ziarah yang sama.

Al Gesu berubah menjadi sosok yang energik. Meskipun penampilannya tetap kalem, saat menjadi teman jalan rombongan para peziarah muda yang rata-rata mahasiswa itu, sang pastor terlihat jauh lebih santai. Lebih ngenomi.

Bahkan, sambil berjalan meninggalkan hotel, kepala dan badannya bergoyang ketika dari telepon genggamnya terdengar lagu Buttons milik The Pussycat Dolls.

Baca artikel selengkapnya di sini: Pastor yang Bergoyang karena The Pussycat Dolls

Pontianakpost.co.id/ARL/Floresa