Bapak Rufinus Lahur. (Foto: Facebook Rufinus Lahur)

Oleh: AGUSTINUS BANDUR

Tulisan ini merupakan refleksi atas setiap momen perjumpaan dengan Bapak Rufinus Lahur dalam lima tahun terakhir, terutama sejak saya bergabung di Program Doctor of Research in Management (DRM) BINUS University pada September 2016.

Bapak Rufinus – yang telah meninggalkan kita semua pada  26 Desember dan disemayamkan di Pemakaman San Diego Hills, Jakarta pada 1 Januari kemarin- konsisten hadir dalam setiap Sidang Promosi Doktor di Program S3 DRM BINUS.

Tulisan ini juga berpijak pada kesimpulan dari semua tulisan Bapak Rufinus yang ia berikan kepada saya pada 6 September 2017 lalu, dalam rangka rencana kami untuk mendokumentasikan semua pengalaman hidupnya dalam satu buku, agar lebih mudah dijadikan referensi bagi setiap perjuangan kemanusiaan, hak asasi manusia, dan pendidikan.

Berikut ini pertama-tama dikisahkan tentang pengalaman hidup Bapak Rufinus yang menciptakan jati dirinya sebagai seorang pemimpin yang berpengaruh bagi banyak orang, sekaligus menggambarkan suatu proposisi bahwa Bapak Rufinus adalah seorang pemimpin transformasional yang mampu memberi inspirasi dan pengaruh bagi orang-orang yang dipimpinnya. 

Mampu Mengatasi Tantangan Hidup

Pemimpin yang berpengaruh bagi banyak orang terbukti mampu mengatasi kesulitan dan tantangan hidupnya di masa kecil. Pernyataan ini berlandaskan pada pengalaman hidup ‘Si Lolek Tersayang”, sapaan masa kecil Pemimpin Besar Abad XX’, Paus Yohanes Paulus II, yang Sudah dinobatkan sebagai orang suci.

Santo Yohanes Paulus II kehilangan ibunda tercintanya saat masih berusia delapan tahun sebelas bulan. Namun, iia mampu melewati masa kecilnya dengan baik.

Tidaklah berlebihan kalau situasi hidup masa kecil Santo Yohanes Paulus II  disebut hampir sama dengan situasi yang dialami Bapak Rufinus, yang kehilangan ayah tercinta selamanya saat masih berusia tujuh tahun.

Dapat kita bayangkan bagaimana sulitnya menjalani kehidupan tanpa seorang ayah bagi ‘Si Rufinus kecil’ yang lahir di Tenda-Ruteng, Flores 79 tahun silam, tepatnya pada tanggal 15 Juli 1938.   

Selanjutnya setelah tamat Sekolah Rakjat tahun 1949, berkat jasa seorang Pastor Belanda, pendiri STKIP St. Paulus Ruteng, Pater Yan van Roosmalen, SVD, Si Anak Yatim Rufinus diberi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan Sekolah Guru Bantu/SGB (pendidikan guru setingkat SMP) di Atambua (1950-1953). Ia kemudian melanjutkan pendidikan guru setingkat SMA, dulu dikenal dengan Sekolah Guru Atas (SGA) di Ndao-Ende, Flores (1953-1956).

Karena prestasi akademik dan non-akademik, ia mendapat beasiswa dari pemerintah untuk melanjutkan pendidikan tinggi jurusan Biologi di Tondano, Sulawesi Utara (1957-1960).

Namun, situasi perang saudara antara pemerintah yang melancarkan operasi militer gabungan (Operasi Merdeka) terhadap Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia dan Perjuangan Rakjat Semesta (PRRI/PERMESTA) melahirkan malapetaka bagi para mahasiswa di Sulawesi sehingga mereka harus bersembunyi di hutan.

Saat situasi konflik itu, nyawa Rufinus sempat terancam. “Bapak mampu bertahan hidup di hutan selama tiga tahun,” demikian kisah Ibu Kwee Rin Nio, istri Bapak Rufinus.

Situasi sosial-politik tersebut memicu Bapak Rufinus untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG), yang pernah berubah nama menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang, yang kini dikenal sebagai Universitas Negeri Malang (UM).

Selama kuliah di UM, dia sangat aktif dalam kegiatan organisasi, baik organisasi intra-universitas seperti menjadi pengurus Senat Mahasiswa dan Dewan Mahasiswa, maupun organisasi ekstra-universitas seperti Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dan Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI).

Ia juga aktif sebagai pengurus berbagai organisasi sosial-politik tingkat provinsi Jawa Timur, termasuk Partai Katolik, Front Nasional, Front Pancasila, dan bahkan Front Katolik serta Pemuda Katolik.

Pasca-Kursus Kepemimpinan di Jerman

Dibekali dengan berbagai tantangan hidup di Sulawesi dan pengalaman hidup sosial-politik praktis di Malang, Bapak Rufinus kemudiaan mengikuti program pelatihan kepemimpinan di Jerman pada bulan Maret 1967.

Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Konrad Adenauer Stiftung, Jerman Barat. Setelah mendapatkan bekal pengetahuan kepemimpinan tersebut, ia terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong-Royong (DPRGR) Perwakilan Partai Katolik (1967-1970).

Karir dan pengabdian Bapak Rufinus kian meluas, misalnya tercatat selama 31 tahun (1970-2001), bekerja di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta dan selama 36 tahun sejak tahun 1981, mengasuh mata kuliah Organizational Behavior and Leadership (Perilaku Organisasi dan Kepemimpinan) di Universitas Bina Nusantara (BINUS).

Pengetahuannya diperkuat dengan beasiswa yang disediakan Rektor Pertama BINUS, Dr. Theresa Widia Soerjaningsih, sehingga memiliki spesifikasi keilmuan di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia.

Semua itu membantu karya Bapak Rufinus sebagai salah satu Pengurus Yayasan BINUS dan salah satu anggota pengawas Yayasan Universitas Flores di Ende. 

Pemimpin Transformasional

Berdasarkan pengalaman hidup dan kursus kepemimpinan yang diikutinya, Bapak Rufinus cukup fanatik dengan teori kepemimpinan transformasional, suatu teori yang dipelopori McGregor Burns tahun 1978.

Banyak makalah yang dipresentasikannya dalam berbagai forum memberikan penekanan agar semua elemen bangsa mengedepankan kepemimpinan transformasional, dengan karakter pemimpinnya, yaitu: mengidentifikasi diri sebagai agen perubahan; individu-individu yang berani; digerakkan oleh nilai-nilai dan visi bersama; belajar seumur hidup; mampu menghadapi kerumitan, kompleksitas, ambiguitas, dan ketidakpastian; dan berpandangan jauh ke depan/visioner; memotivasi dan memberdayakan orang-orang yang dipimpin.

Karakteristik-karakteristik kepemimpinan di atas yang selalu dikedepankan Bapak Rufinus dalam berbagai kesempatan.

Artinya jelas bahwa kalau kita masih mengedepankan tipe kepemimpinan transaksional, baik dalam konteks politik maupun sosial ekonomi, apalagi dalam konteks religius dan pendidikan, itu bukan tipe kepemimpinan yang diidamkan Bapak Rufinus.

Namun demikian, dalam berbagai diskusi personal, ia juga tidak mengabaikan berbagai model dan gaya kepemimpinan lainnya, seperti situational leadership (gaya kepemimpinan tergantung situasi bawahan, jika belum mandiri perlu diberi banyak aturan dan tugas), shared leadership (pendistribusian kuasa dan wewenang kepada bawahan), servant leadership (gaya kepemimpinan yang mengedepankan layanan); authentic leadership (gaya kepemimpinan berpijak pada nilai-nilai); ethical leadership (kepemimpinan yang menuntut pemimpin sebagai model bagi orang lain).

Pesan Abadi akan Glokalisasi

Bapak Rufinus juga sangat peduli dengan pendidikan dasar di Manggarai. Dia kerap mengatakan, “Impianmu untuk perubahan di kampung itu sangat penting. Manggarai Raya itu harus fokus di pendidikan dasar.”

Dalam kesempatan yang lain dia katakan, “Yesus itu berjalan dari kampung ke kampung, mengunjungi orang-orang kecil tak berdaya…masyarakat akar rumput. Berjuanglah untuk mereka.”

Bagi beliau, pendidikan dasar dan perhatian pada tatanan lokal sangat penting dalam menghadapi globalisasi. Inilah yang umumnya disebut glokalisasi.

Dari hatinya terungkap, “Kamu ingat ya, Manggarai itu Surga dunia. Berkali-kali itu saya katakan pada istri saya, Manggarai itu Surga dunia…seperti daerah Poco Léok itu.”

Karena itu, Bapak Rufinus dan istrinya, Mama Kwee Rin Nio, sangat senang ketika diundang untuk mendampingi Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Prof Yohana Yenbise, Ph.D saat berkunjung ke Kampung Paang Lembor 23 November 2017 lalu. Namun, karena bersamaan dengan Ujian Tengah Semester di BINUS, dia minta maaf tidak bisa hadir.

Tidak hanya di pendidikan dasar, jiwa (semangat, pikiran, dan kesadaran) Bapak Rufinus ini kuat sekali demi misi kemanusiaan di Manggarai. Salah satunya ialah ketika melalui Keuskupan Ruteng membantu masyarakat di sekitar Reo yang membutuhkan air minum bersih. Ia tidak memberitahukan romo, suster dan beberapa orang dalam mobil yang ditumpanginya bahwa perutnya tengah berdarah karena baru saja operasi.

Pesan abadi Bapak Rufinus untuk bangsa dan secara khusus untuk anak cucu Manggarai adalah agar mampu menghadapi globalisasi melalui peningkatan ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Ia mengharapkan agar anak bangsa jangan sampai seperti kodok yang gagal belajar, seperti dalam eksperimen boiled frog phenomenon yang dilakukan Charles Handy tahun 1990 di Harvard Business School. Dalam eksperimen itu, kodok dewasa, kodok normal, dan kodok lincah ditempatkan dalam suatu panci berisi air segar. Ketika temperatur dinaikan sercara perlahan, sang kodok tidak melakukan reaksi sedikit pun. Ketika api terus dinaikan sampai 1000C, air sudah mendidik tetapi kodok tetap sopan anggun, walaupun seluruh tubuhnya sudah masak terebus.

Menurut Bapak Rufinus, dalam tulisannya sendiri, “Sang kodok gagal belajar karena sangat kental dengan budaya konformitasnya terhadap perubahan lingkungan sehingga tidak peka membaca sinyal perubahan tempretatur yang mencelakakan hidupnya. Masyarakat bangsa kita lebih sadis lagi senasib dengan sang kodok, yaitu tidak sempat mengidentifikasi dan beraksi terhadap stimulus koersif lingkungan domestik dan juga tidak berkesempatan mengidentifikasi tanda-tanda perubahan global.”

Dua rangsangan itu disebut Bapak Rufinus sebagai double boiled frog phenomenon, yang menyebabkan masyarakat kita menderita gejala kodok rebus ganda.

Muda-mudahan kita bisa mengambil hikmah dari kesaksian, pesan-pesan yang diwariskan Bapak Rufinus!

Penulis adalah Senior Lecturer & Strategic Research and Partnership Doctor of Research in Management, BINUS University