Marianus Sae: Pro dan Kontra

0
1501
Bupati Ngada, Marianus Sae. (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Oleh: ARRIO JEMPAU

Marianus Sae (MS) resmi diusung PDI Perjuangan dalam Pemilihan Gubernur Nusa Tenggara Timur (Pilgub NTT) periode 2018-2023.

Ia mendapat restu dari partai pemenang Pemilu 2014 itu setelah namanya diumumkan  Minggu, 17 Desember 2017 di Jakarta.

Keputusan itu tentu berarti MS sukses merebut hati ketua umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Penunjukkan dirinya memang cukup mengagetkan, karena serentak pula PDIP menyingkirkan sejumlah anak kandungnya, kader mereka sendiri, juga beberapa nama yang sebelumnya disebut-sebut bakal menjadi pilihan partai itu.

Beberapa yang menonjol di antaranya adalah dua kader mereka, Kristo Blasin dan Ray Fernandez serta figur lain seperti Daniel Tagu Dedo, direktur Bank NTT dan Robert Soter Marut, purnawirawan TNI Angkatan Udara.

Apa yang membuat MS keluar sebagai pemenang? Tentu, banyak faktor yang menjadi pertimbangan DPP PDIP.

Salah satunya, mungkin karena pengalaman MS sebagai Bupati Ngada dua periode yang lebih bernilai jual tinggi dibandingkan dengan bakal calon lain.  Pepatah mengatakan, “Semakin Terbentur, Semakin Terbentuk,” begitu kira-kira MS di mata partai itu.

Sempat putus sekolah ketika SMP, namun MS terus berjuang hingga akhirnya jadi pengusaha, lalu menjadi bupati 10 tahun dan kini, dipilih PDIP untuk bertarung sebagai calon gubernur berpasangan dengan Emi Nomleni, kader sekaligus Majelis Jemaat Ebhenezer GMIT OEBA-Timor.

MS lahir di Kampung Bobajo, Kelurahan Mangulewa, Kecamatan Golewa, Ngada, pada 8 Mei 1962.

Ia sempat sekolah di SDK Bejo hingga kelas 4 dan menamatkan pendidikan di SDK Bajawa 1. Lalu, lanjut ke SMP PGRI Bajawa. Namun, karena himpitan ekonomi, ia terpaksa berhenti selama 4 tahun.

“Selama masa drop-out ini, beliau menjalani berbagai pekerjaan yang bisa dijalaninya saat itu, antara lain bertani, menjadi joki dalam pacuan kuda, pemborong kendaraan umum (oto), cetak batu bata, dan sebagainya,” demikian riwayat hidup MS yang dikutip dari detik.com.

Setelah ayahnya meninggal dunia, MS berjuang sendiri. Ia akhirnya bisa melanjutkan sekolah hingga tamat, lalu masuk SMA Negeri Bajawa.

Sambil bekerja, tahun 1985, ia kemudian kuliah di Universitas Nusa Cendana-Kupang, mengambil jurusan Jurusan Administrasi Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Di tengah jalan, kuliahnya sempat terputus karena masalah ekonomi.

Karier profesionalnya bermula dari menjadi karyawan asuransi. Dari mulai mencari nasabah hingga kepala unit dilakoninya.

Namun, karena merasa gagal, ia akhirnya memutuskan untuk merantau ke Bali dan bekerja di perusahaan kargo. Setelah bekerja beberapa tahun, ia membuat perusahaan sendiri. Di sinilah. dimulai cerita kesuksesannya.

Tahun 1994, MS bersama investor asal Australia mengelola daerah wisata mata air panas Mengeruda – Soa, di bawah payung PT Ngada Paradise yang dipimpin olehnya hingga tahun 1996. Namun kerja sama ini tak berjalan mulus.

Gagal jadi pengusaha, MS kemudian jadi transmigran ke Kalimantan pada tahun 1997. Dia membuka peternakan ayam dan sempat terpilih jadi kepala desa.

Namun, karena ekonominya tak berkembang, MS pulang kampung pada tahun 1998 untuk bertani.

Ia kemudian memiliki usaha majalah pariwisata Flores Paradise. Lalu dia juga membangun PT Flores Timber Specialist yang berfokus pada usaha pengembangan kayu.

Tahun 2010, MS maju sebagai bupati Ngada bersama pasangannya Paulus Soliwoa.

Berdua, mereka mengusung nama ‘Mulus’ sebagai jargon. Dalam Pilkada, pasangan itu mengalahkan tujuh kontestan termasuk kandidat incumbent. Dia menang satu putaran dengan perolehan suara signifikan, 48 persen.

PAN, partai yang mengusungnya kala itu, memastikan bupati ini populer di kalangan masyarakat.

Seorang warga berkicau soal sosok MS di twitter. Dia menceritakan bagaimana kehebatan MS dalam bekerja. Dia juga dikenal sederhana karena hanya memakai kendaraan dinas Kijang Krista. Lalu, dia paling rajin saat ke kantor. Pukul 07.00 pagi sudah berada di ruangan dan kerap menindak PNS yang telat. Dia juga selalu mengajak warga ke kebun.

“Karakternya yg keras dan tegas trhadap birokrat, membuat sy menjuluki Bupati Ngada dgn sebutan ‘Ahok dari Flores’,” kata warga tersebut dengan akun @gustibrewon.

Sementara itu, cerita lain yang berseliweran di masyarakat hari ini ialah, keberaniannya memotong anggaran yang peruntukannya tidak jelas.

Lalu, yang tak kalah membuat ia tampil beda ialah saat ramai-ramai bupati sedaratan Flores menyumbangkan sebagian APBD untuk event skala internasional Tour de Flores, MS menolak.

Singkat cerita, dua periode memimpin Ngada, berbagai terosan inovatif terus membuat nama MS mengudara, sekaligus membedakannya dengan kepala daerah lainnya di provinsi tersebut.

Bisa jadi, cerita-cerita itu yang membuat hati Megawati Soekarno Putri berpaling dari kader yang telah lama dididiknya lalu menghadiahkan MS tongkat untuk bertarung dengan pasangan lain seperti Victor Laiskodat dan Yosep Nai Soe; Esthon Feonay dan Christian Rotok serta Benny Kabur Harman yang berpasangan dengan Benny Litelnoni.

Namun, perlu juga diingat, deklarasi dan kemasan cerita menarik tentang track record belum cukup.

Perjalanan Marianus bersama PDIP yang berkoalisi dengan PKB baru saja dimulai.

Selain karena kasus hukum dan moral yang terus memburu, kader PDIP juga bisa menjadi duri dalam daging. Sebab, MS bukan kader. Ia adalah tamu yang diharapkan sekaligus tidak diharapkan kehadirannya dalam keluarga besar PDIP NTT.

Meski kader memendam segudang unek dan merasa berjasa sehingga partai mengakar di bumi NTT, tetap saja suara Bunda Mega adalah segalanya.

Maka, MS harus siap bertempur! Tetapi, perlu juga dicatat, kader adalah mesin partai. Tidak mungkin MS bergerak tanpa kader.

Pertanyaannya, seberapa banyak kader yang mendukungnya?

Apalagi, jika kembali menoleh ke kasus blokir bandara Turelelo-Soa pada 21 Desember 2013 lalu. MS nekat memerintahkan Satpol PP hadang pesawat Merpati berkapasitas 54 penumpang gara-gara sebelumnya tidak mendapat tiket saat ia hendak bertolak ke Kupang.

Atas aksi ini, MS pun diproses hukum dan ditetapkan sebagai tersangka.

Walau ada anggapan tindakan MS biasa dan harus dimaafkan, namun bagi kelompok lain, misalnya Forum Pemuda Peduli Keadilan dan Perdamaian (Formadda) NTT, Kommas Ngada Jakarta, dan lainnya tetap melihatnya sebagai persoalan hukum.

Mereka meminta MS tetap harus diproses. Meski dikabarkan kasus dihentikan Polda NTT. Namun, belum ada pernyataan resmi.

Tapi, anehnya, 23 Satpol PP yang diperintahkan MS untuk blok bandara sudah dipenjara.

Memang, pilihan kelompok ini bersuara, yang hadir tengah hujan tepuk tangan, tak bisa bebas dari tudingan bahwa itu dilakukan dengan muatan kepentingan politik.

Dan, pendukung MS menyederhanakannya dengan istilah “pasukan nasi bungkus”.

Tetapi, penting diakui pula, bahwa suara nyaring mereka tidak muncul begitu saja. Tidak dalam satu atau dua hari sebelum dan pasca tongkat itu diserahkan Megawati kepada MS. Tapi, sesaat sejak pesawat merpati jurusan Kupang-Soa itu gagal mendarat.

Jargon, “perlakuan sama di hadapan hukum” menjadi senjata mereka yang telah berkali-kali menggelar aksi ke sejumlah institusi terkait di Jakarta menuntut proses hukum yang adil.

Sementara itu, persoalan lain yang juga menjadi bola panas di pundak MS adalah dugaan menghamili pembantunya berinisial MSN.

Dari hubungan itu, lahir seorang anak laki-laki. Kasus ini, sudah ditangani oleh biarawan-biarawati yang tergabung dalam Tim Relawan Untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F) di NTT.

Walaupun cerita itu masih berseliaweran kuat di tengah masyararakat NTT, sepertinya PDIP memilih menutup mata, merasa tengah dilanda krisis kader populer, hingga harus menjatuhkan pilihan kepada MS.

Mungkin saja ceritanya akan berbeda andai saja MS akomodatif sejak 2013. Bisa dipastikan, hari ini dia melenggang bebas menyiapkan diri menuju tahta NTT 1.

Energi bisa dimanfaatkan untuk menyusun strategi kemenangan, bukan dihabiskan untuk mengklarifikasi kesalahan yang seharusnya telah lama selesai.

Hukum tetaplah hukum. Ahok yang jauh berprestasi saja harus terjugkal karena ocehannya yang hingga hari ini masih bisa diperdebatkan soal salah-benarnya.

Apalagi MS yang memblokir bandara, yang hukumannya mungkin jauh lebih berat dari hukuman terhadap Ahok plus masalah moral.

Harap saja MS nasibnya beda dengan Ahok, hingga tak membuat bumi NTT gaduh seperti detik-detik menjelang Pilgub DKI Jakarta.

Penulis adalah Redaktur Floresa.co

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini