Mengais Hikmah di Balik Polemik Ujaran Mendikbud

0
1121
Fr Monfoort Mere BHK

Oleh: FR MONFOORT MERE BHK

Puluhan wartawan asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tergabung dalam Komunitas Pena NTT Bali memprotes keras pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy.

Mereka menilai, pernyataan Mendikbud yang dimuat di koran Jawa Pos edisi 4 Desember 2017 itu menyinggung perasaan masyarakat NTT.  Ia memberi pernyataan setelah melihat laporan Program for International Students Assesement (PISA). Hasil Kajian PISA dalam kurun waktu 2012-2015 menempatkan kualitas pendidikan Indonesia pada posisi paling bawah dari negara-negara lain.

Menurut Effendy, metode survei penelitian yang dilakukan oleh PISA bersifat parsial karena hanya menyertakan sampel tertentu dari suatu negara. PISA, katanya tidak melihat secara komprehensif kualitas pendidikan di Indonesia.

Effendy lalu membandingkannya dengan Tiongkok. Sampel negeri Tirai Bambu itu menurutnya berasal dari Shanghai dan Guangzhou saja. Effendy kemudian menyentil soal provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). “Saya khawatir yang dijadikan sampel Indonesia adalah siswa-siswa dari NTT semuanya,” katanya.

Ketua Pena NTT Emanuel Dewata Oja mengatakan, kalimat langsung tersebut sejatinya terbentuk dari mindset seorang menteri bahwa orang NTT itu bodoh semua. “Pernyataan itu telah melukai hati orang NTT yang ada di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia,” ujarnya, Selasa, 5 Desember. Sebagai seorang Mendikbud, menurut dia,  pernyataan seperti itu seharusnya tidak disampaikan kepada publik, tanpa data yang benar.

Tak hanya mengecam, warga NTT di menuntut Effendy meminta maaf. “Menteri itu sudah melakukan hal yang tidak etis. Kami meminta agar Bapak Presiden segera mengambil tindakan tegas terhadap menteri tersebut. Kalau bisa langsung dicopot, karena melukai masyarakat NTT dan dunia pendidikan NTT,” ujar Emanuel sebagaimana dikutip sejumlah media online.

Seorang pelajar NTT, Firstly Erzsa Maharanny Sula yang tengah mengikuti program pertukaran pelajar di North Dakota, USA menimpali dengan menulis surat terbuka untuk Mendikbud.  Dalam surat yang sempat  viral di media sosial itu, dengan panjang lebar dan penuh perasaan ia mencoba menggambarkan kondisi pendidikan anak-anak NTT, yang masih terbelakang dan sangat butuh perhatian pemerintah.

Melalui suratnya, di balik ungkapan perasaan sedih, marah, geram, kecewa dan prihatin, sesungguhnya tersirat suatu harapan besar, perlunya pemerintah memberi perhatian lebih bagi perkembangan pendidikan di NTT.

Tanggapan Kemendikbud

Kemendikbud menanggapi protes yang dilayangkan Pena NTT. Ari Santoso, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat di kementerian itu menegaskan dalam pernyataan tertulis bahwa tidak ada maksud Mendikbud untuk merendahkan masyarakat NTT.

Ari menjelaskan, konteks pernyataan Mendikbud adalah upaya mengkritik pemilihan sampel oleh PISA, yang menurutnya, jangan-jangan dari NTT, yang memang kualitas pendidikannya masih di bawah rata-rata nasional.

BACA: Klarifikasi Kemendikbud Terkait Pernyataan Menteri Muhadjir Tentang Pendidikan di NTT

Merujuk pada Indeks Pembangunan Manusia misalnya, demikian Santoso, masih di angka 63,13, yang berarti di bawah rata-rata nasional 70,18. Selain itu, capaian Ujian Nasional tahun 2016 juga sama, masih di bawah rata-rata nasional, demikian juga rata-rata nilai Uji Kompetensi Guru yakni 50 dari rata-rata nasional 56.

Namun, jelasnya, hal itu tidak berarti Mendikbud mengabaikan pendidikan di NTT. Mendikbud, menurutnya, menginginkan agar pemerintah pusat dan daerah terus bekerja sama dalam pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan. Ia menyebut, setidaknya sudah ada sekitar 400 miliar dana bantuan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan di NTT sejak tahun 2016.  Kemendikbud juga tengah berupaya menjadikan NTT sebagai prioritas pemerataan dan peningkatan mutu.

Pada  2016, kata dia, Kemendikbud menyalurkan dana bantuan operasional sekolah sebesar Rp 1.282,34 miliar. Lalu, untuk membantu siswa dari keluarga miskin dan rentan miskin agar terus melanjutkan pendidikan, pemerintah menyalurkan bantuan pendidikan Program Indonesia Pintar kepada 567.827 siswa.

Selain itu, berbagai lokakarya, pelatihan, dan fasilitasi untuk meningkatkan kapasitas pendidik dan tenaga kependidikan juga terus dilakukan.

Perkembangan terakhir, Mendikbud mengundang Pena NTT ke Jakarta untuk berdialog langsung membahas polemik ini. Dialog ini dimaksudkan tidak saja untuk menyudahi kegaduhan sepekan terakhir ini, melainkan juga untuk membahas masalah pendidikan di NTT. Undangan ini direspon baik oleh Pena NTT.

Melalui pertemuan tersebut, diharapkan tercapai kesepahaman dan saling pengertian, sekaligus dimungkinkan lahirnya ide-ide segar demi kemajuan pendidikan di NTT khususnya.

Mencari suara Langit

Sepekan sudah kegaduhan itu berlangsung. Sejumlah pihak telah melakukan langkah-langkah untuk memulihkan kondisi batin masyarakat NTT khususnya. Yang pasti suasana hati yang tidak nyaman harus segera disudahi.

Undangan Mendikbud kepada sejumlah pihak, khususnya komunitas Pena NTT hendaknya menjadi salah satu pintu masuk menuju rekonsiliasi. Kegaduhan hendaknya dipandang sebagai suatu kesempatan menimba hikmah. Di balik setiap peristiwa ada maksud tersembunyi dari “Sang Abadi”. Di sinilah perlunya mencari “suara langit”, agar dapat memberi pencerahan bagi bumi.

Kondisi pembangunan manusia di NTT, khususnya bidang pendidikan yang masih di bawah rata-rata nasional hendaknya menyadarkan kita semua, – insan pendidikan, pemerintah daerah dan pemerintah pusat – untuk menyikapinya dengan serius. Inilah suara langit itu, suara yang tersamar, suara yang memerintahkan  semua pihak terkait untuk melakukan pembenahan serius.

Pendidikan adalah garda terdepan pembangunan manusia seutuhnya, yang harus dipandang sebagai investasi masa depan bangsa. Pendidikan yang gagal akan membuas masa depan bangsa suram. Sebaliknya, pendidikan yang berhasil merupakan tanda lahirnya generasi baru yang hebat, generasi Indonesia Emas!

BACA JUGA: Pater Darmin: Tidak Perlu Reaktif Tanggapi Pernyataan Mendikbud

Kebijakan Kemendikbud tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) misalnya, hendaknya dipandang sebagai upaya serius pemerintah mempersiapkan generasi penerus yang berkarakter, yang kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin besar.  Kebijakan semacam itu baru dapat dilaksanakan dan didukung sepenuh hati oleh seluruh lapisan masyarakat jika “roh”nya telah terpegang!

Sudah tiba saatnya seluruh pemangku kepentingan yang bersentuhan langsung dengan pendidikan, memahami dan melaksanakan pendidikan manusia seutuhnya dengan tulus dan sungguh-sungguh.

Pembangunan infrastruktur, perekonomian, kesehatan, dan bidang-bidang lain hendaknya mendukung pembangunan pendidikan, sebagai prioritas. Sumber daya manusia (SDM), terutama berkaitan dengan dunia pendidikan hendaknya diberi perhatian khusus.  Pengiriman tenaga guru untuk belajar di kota-kota besar di Jawa dan di luar negeri hendaknya dikawal, sehingga selepas lulus mereka akan menjadi pionir-pionir pembaharu pendidikan di daerah-daerah. Guru adalah ujung tombak pendidikan, maka penyiapan guru-guru berkualitas hendaknya mendapat perhatian serius pemerintah daerah!

Menata Langkah menuju Indonesia Emas

Ibu pertiwi memanggil generasi muda untuk menyongsong Indonesia Emas 2045!  Ada mimpi besar bahwa pada saat negeri ini merayakan 100 tahun kemerdekaan, Indonesia telah mencapai masa kejayaan, di mana pemimpinnya adalah negarawan besar yang adil bijaksana; kekayaan alam nan melimpah dikelola dengan bijak oleh negara dengan tenaga-tenaga ahli anak bangsa; rakyat menikmati kemakmuran dan kemajuan jaman sebagai tuan di negeri sendiri; dan pemimpin akan menjadi abdi rakyat, selalu mendahulukan kepentingan rakyat, jauh dari keinginan memanfaatkan jabatan serta kesempatan untuk kepentingan diri sendiri dan kelompok.

Pendidikan adalah pintu masuk kepada mimpi besar itu!

Namun, tantangan besar telah menghadang di depan. Dan ini harus disadari oleh semua pihak yang tulus memikirkan nasib bangsa. Inilah pekerjaan rumah kita yang harus segera dikerjakan.

Pertama, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat. Dunia pendidikan, khususnya para guru seringkali kalah cepat berlari, sehingga proses pembelajaran tidak menjawab kebutuhan jaman. Guru-guru berpola pikir abad ke-20, sementara para siswa merupakan insan-insan abad ke-21.

Kedua, arus globalisasi yang begitu dahsyat. Dunia seakan tanpa sekat, pasar bebas tanpa dapat dihadang. Salah menyiapkan generasi penerus berkualitas berdampak serius pada terciptanya generasi pekerja kasar.

Ketiga, peredaran bebas narkotika dan obat-obat psikotropika berada pada level “darurat.” Generasi penerus bangsa sedang dirusak oleh “tangan-tangan setan”! Tantangan-tantangan ini dapat menjadi berkah sekaligus bencana. Kuncinya adalah penyiapan SDM berkualitas! Dan dunia pendidikanlah yang memiliki peran sentral memainkannya.

Arus globalisasi dapat dihadapi dengan penyiapan SDM handal, yaitu SDM berkarakter dan berdaya saing tinggi. Dunia pendidikan kini ditantang untuk mempersiapkan para lulusan berdaya saing tinggi, yang siap menjadi agen perubahan, siap berhadapan dengan berbagai situasi dunia.  Lantas, lembaga pendidikan tidak hanya berkutat pada pembelajaran akademik semata, tetapi harus mulai membina dengan serius kemampuan non akademik, berupa keterampilan dan pembinaan pribadi tangguh berkarakter.

PPK sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden No. 87 tahun 2017 hendaknya disambut dengan sungguh-sungguh, diimplementasikan secara konsekuen oleh setiap insan pendidikan.

Peserta didik pada masa sekarang harus dipandang sebagai subjek pendidikan yang tidak lagi dibentuk sesuai keinginan pendidik, tetapi diberi kesempatan berkembang sesuai dengan potensinya.

Para pendidik kini berperan sebagai fasilitator yang memberi peluang seluas-luasnya agar peserta didik berkembang dan menjadi pribadi yang utuh.  Dan, yang tak kalah penting, pendidikan tidak boleh dilemparkan sepenuhnya sebagai tanggung jawab lembaga pendidikan. Pendidikan harus menjadi tanggung jawab semua pihak: orangtua, sekolah (guru), masyarakat dan pemerintah. 

Penulis adalah anggota presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini