Ini Penyebab Kecelakaan di Wae Garit yang Menewaskan Seorang Guru

27
10326
Lokasi kecelakaan warga yang kemudian tewas di lokasi di Wae Garit, Kelurahan Mena, Kecamatan Langke Rembong, Rabu, 6 Desember 2017. (Foto: dok. polisi)

Floresa.co – Pemicu terjadinya kecelakaan lalu lintas di tikungan Wae Garit, Kelurahan Mena, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Rabu pagi, 6 Desember 2017 yang menewaskan seorang warga akhirnya diketahui.

Nyaris tak ada yang melihat langsung kejadian tersebut, termasuk sang pengendara mobil yang diduga bersenggolan dengan sepeda motor yang dikendarai korban bernama Benediktus Kejuru (51).

Hubertus Bilo (45), warga perumahan Novisiat Kuwu, Desa Poco Likang, Kecamatan Ruteng mengendarai mobil truk colt bernomor polisi EB 8230 EA milik kongregasi imam SVD Ruteng dengan pelan, seperti biasanya.

Sekitar pukul 10.00 Wita, ia melintasi jalan negara arah barat kota Ruteng di kawasan sekitar Wae Garit.

Saat menurun dan memasuki tikungan keempat sebelum air terjun di area itu, ia mengambil haluan kanan karena jalan sedang sepi.

Lewat kaca spion, ia melihat sebuah sepeda motor  melaju dengan agak kencang di belakangnya.

Kondisi tikungan kiri jalan tersebut memang paling tajam sehingga memaksa pengendara untuk mengambil haluan kanan. Setelah melewati tikungan, ia mengembalikan kendaraannya menepi pada haluan kiri. Saat itu, ia mendengar bunyi sesuatu dari belakang.

“Saya dengar bunyi praak… Saya pikir bunyi bangku (yang) lenting di belakang,” tuturnya saat diwawancarai Floresa.co di ruang Unit Laka Lantas Polres Manggarai, Rabu sore.

Tak menyangka ada peristiwa naas yang sedang terjadi, Hubertus terus melanjutkan perjalanan.

Saat sampai di air terjun Wae Garit, tiba-tiba seorang tukang ojek menyalib dan memintanya berhenti. Tukang ojek tersebut menyuruhnya kembali ke tikungan untuk menolong seorang pengendara sepeda motor yang jatuh hingga meninggal dunia. 

“Saya kaget dan tidak percaya. Saya balik bertanya, ‘siapa yang tabrak, siapa yang tabrak.’ Saya kaget sekali,” ujarnya.

Ia pun teringat akan bunyi benturan yang dikiranya bunyi bangku saat mengambil haluan kiri setelah melewati tikungan tajam tadi.

Hubertus lalu kembali ke arah tikungan tersebut. Sesampainya di situ, ia mendapati korban dalam kondisi mengenaskan dan dikeliling banyak orang.

“Melihat itu, saya panik dan gemetar. Akhirnya saya memutuskan untuk segera berlindung di Polres,” imbuhnya.

Ia menuturkan, sejak menjadi sopir tahun 1983 lalu, baru kali ini mengalami kecelakaan. Kendaraan yang ia kemudikan sejak tahun 2001 itu juga baru pertama kali terlibat kecelakaan.

“Saya sangat shock karena baru pertama kali mengalami kecelakaan. Saya ingat istri anak di rumah. Saya juga ingat korban. Dia juga punya istri dan anak seperti saya. Saya juga tidak habis pikir, kok bisa dia jadi begitu,” tuturnya sambil meneteskan air mata.

Saat berita ini dipublikasi, Unit Kecelakaan Lalu Lintas Polres Manggarai sedang melakukan pemeriksaan terhadap Hubertus.

Aiptu Raji, kepala unit itu mengatakan, pihaknya sudah meminta bantuan pihak RSUD dr Ben Mboi Ruteng untuk melakukan visum terhadap korban.

Dari hasil visum tersebut, jelasnya tidak ditemukan tanda-tanda bahwa korban dilindas roda kendaraan.

Kepala korban yang mengalami luka-luka diduga dipicu benturan saat ia menabrak bagian kiri bak kendaraan dan membentur aspal saat ia terjatuh.

“Diduga sepeda motor menabrak bagian kiri bak. Dia jatuh, helmnya pun terlepas. Dan hasil visum tidak ditemukan tanda-tanda gilasan,” ujar Raji.

Ia juga menduga, korban mengendarai kendaraan dengan cukup kencang. Hal itu ditunjukkan dengan persneling sepeda motor saat dievakuasi berada pada posisi gigi tiga.

Ia mengatakan, selain melakukan pemeriksaan terhadap Hubertus, polisi juga telah menahan barang bukti berupa sepeda motor korban dan mobil truk milik kongregasi SVD.

Korban, yang berprofesi sebagai Guru Agama Katolik di SDN Lengor meninggalkan seorang istri dan enam orang anak.

BACA JUGA: Kecelakaan di Wae Garit, Warga Asal Rahong Utara Tewas

Menurut penuturan Herman Mbagut, paman korban, korban sedang dalam perjalanan dari Ruteng menuju Ranging, Desa Todo, Kecamatan Satar Mese untuk melayat, berhubung sehari sebelumnya, di Ranging, adik dari ayah korban meninggal dunia.

Saat ditemukan, di sepeda motor korban, masih tampak dua ekor ayam dan barang-barang belanjaan yang terbungkus tas kresek warna hijau yang hendak dibawa ke Ranging.

EYS/ARL/Floresa

Advertisement
BAGIKAN

27 Komentar

  1. Rip ,tuhan slalu ada di sampingmu,jlnmu adalah kehendakmu…smga klurga yg di tinggakn di bri ketabahan dan kekuatan…amin

  2. Rip Smoga dirinya bahagia brsama para kudus di surga,, srta cinta dari TUHAN slalu membri rahmat ktabahan yang brlimpah bagi kluarga yg di tinggalkanya lebih kusus istri dan anakny amin

  3. Tuhan punya cara ini mengambil teman Pa Ben Kenjuru ke pangkuanNya dr tengah kita.. Mat jalan kawan, bhgia brsama para kudus du Surga

  4. Tuhan punya cara ini mengambil teman Pa Ben Kenjuru ke pangkuanNya dr tengah kita.. Mat jalan kawan, bhgia brsama para kudus du Surga

  5. Rip, smoga Tuhan mengampuni dosamu dan menpatkanmu diSisiNya diSurga. Amin

  6. Selamat tinggal om bene..sungguh kami tdk prcya dgn ini kejadian…kami kaget dan syok…
    Semiga tenang di alam sana..dan jadi pendoa bagi kami semua yg di tinggalkan
    Amin!!!
    Beri kekuatan utk kk Epin jga om..spya bisa lnjut kulia

  7. RIP PAK GURU,,TUHAN LEBIH MENCINTAIMU DARI PADA DUNIA,SEMOGA DENGAN AMAL BAKTIMU DI ALAM FANA INI MEMBAWAMU TENANG DI SURGA.

  8. Terpujilah wahai engkau ibu bapa guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubari ku. Semua baktimu akan ku ukir didalam hatiku. Sebagai prasasti trima kasihku tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa…

    Seuntaian hymne guru mengiringi perjalanmu, saudara ku. Bahagia bersam para kudus di Surga.

    REQUEM IN PACE.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini