Pater Frans Mido “dan Sekitarnya”

0
451

 OLEH: ILLO DJEER

Ada peristiwa yang mungkin tanpa kita rencanakan selalu tertanam kuat dalam ingatan. Apapun yang terkait dengan peristiwa itu selalu kita kenang, sehingga kenangan tidak pernah berdiri sendiri. Kenangan selalu merupakan “sebuah peristiwa dan sekitarnya”.

Kenangan itu bekerja seperti trauma, jika ada hal-hal yang memicu ingatan akan hal-hal “dan sekitarnya”, maka kenangan sering muncul dalam wujud utuh “peristiwa itu dan sekitarnya”.

Itulah mengapa seseorang yang pernah ditampar karena sebuah kesalahan akan selalu mengingat kesalahan sekaligus tamparan itu. Manusia punya kehendak bebas: lebih ingat tamparannya atau lebih ingat kesalahannya.

Bapa saya kidal. Tangan kirinya pernah mampir dengan keras di wajah saya. Saat saya sudah SMA! Karena sebuah kesalahan. Saya selalu ingat, dan memilih lebih ingat salahnya. “Sebuah peristiwa dan sekitarnya”, “sebuah kesalahan dan sebuah pukulan”. Sebesar apa “dan sekitarnya” menentukan seberapa kuat “peristiwa” tertanam dalam ingatan. Dan saya memilih menjadikan kesalahan saya sebagai peristiwa, dan pukulan sebagai hal “dan sekitarnya”.

Saya pernah ditegur senior karena salah kord saat main gitar. Saya menjadikan tegurannya sebagai hal “dan sekitarnya”.

Tentang Pater Frans Mido, guru seni rupa, bahasa Indonesia dan sastra saat di Seminari Kisol dulu, yang baru saja menghadap sang pelukis hidup. Kami pernah terlambat masuk kelas saat mata pelajaran beliau. Sudah deg-degan. Lalu terjadi dialog ini:

“Kenapa terlambat?” tanya Pater Frans, dengan nada tinggi. Ini bukan karena dia sedang mengamuk. Nadanya memang selalu tinggi, dan setiap suku kata terakhir ucapannya selalu bernada lebih tinggi lagi.

Suaranya tipis, lirih, dan nyanyiannya di dalam misa selalu saya rindukan: tipis dan lirih. Bentuk keagungan yang lain. Dan terpantul dengan indah pada dinding-dinding gereja Sanpio.

“Abis cuci tangan. Tadi kena nanah nangka.” Kami baru saja menikmati nangka curian. Sudah terlambat masuk kelas, karena mencuri pula.

“Bukan ‘nanah’…tapi ‘getah’,” kata Pater. Lalu dia menjelaskan perbedaan “nanah” dan “getah”.

Cintanya kepada bahasa Indonesia mengalahkan kesadarannya untuk menegur atau memarahi kami karena mencuri nangka. Hahahaha. Dan selanjutnya mata pelajaran berlanjut tanpa pembahasan lebih lanjut tentang nangka itu.

Sekarang, setiap kali makan nangka, saya selalu ingat bahwa berbahasa itu harus baik dan benar. Tapi saya bingung, mana “peristiwa”, mana “dan sekitarnya”. Soalnya, saya memang sangat suka bahasa Indonesia, tapi juga sangat suka nangka.

Terima kasih banyak untuk Pater Frans Mido dan sekitarnya. Beliau telah pergi, sambil memeluk erat janji setia imamatnya. Raganya tak dapat lagi kita temui di dunia yang fana ini, tetapi hal-hal di sekitarnya akan tetap hidup di hati dan cara berpikir kita.

Semoga kesetiaanya hingga akhir menjadi ilham yang terpantul-pantul dalam setiap kenyataan hidup kita, pada dinding hati dan iman kita, seperti suara lirih itu, yang terpantul-pantul pada dinding gereja Sanpio, yang setiap pantulannya selalu membawa keagungan yang senantiasa bertambah. Sebab hidup selalu tentang perjalanan memeluk janji. Iya to itu?

Selamat jalan, Pater.

Penulis adalah alumnus Sanpio angkatan 1986 menetap di Jakarta dan berprofesi sebagai musisi.

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini