Balada Wela Runus, Narasi untuk Pater Frans Mido SVD

0
460
Pater Frans Mido SVD. (Foto: Ist)

Oleh: GERARD N. BIBANG

ketika engkau tiada
ke-tiada-anmu telah meng-ada-kan banyak ruas di jalan kata
di atasnya kita bertutur, bercanda, menangis dan tertawa
dan kisah pun tercipta

engkau adalah wela runus*
di sebuah lembah permai pada sebuah paruh waktu
semerbakmu yang kemuning dan merah merona tetap harum
dalam sanubari telah tercatat dengan tinta emas
engkau adalah penemu kata di suatu perjalanan
pada sebuah babak kehidupan

wela runus-lah, engkau
hidupmu tak berakhir di liang kubur
engkau memang akan menjadi humus
tapi menjadi kehidupan baru bagi tunas dan puspita baru
pewaris jalan kata kepada lelaki bocah dan pemuda tetesan cahaya
dari berbagai ufuk
untuk melantangkan kata ke penjuru mata angin
melibas badai, menantang awan
untuk berwarta tentang kata
tentang Sabda, tentang Tuhan

engkau telah pergi tanpa arah kembali
ke tempat mana kami tak dapat memanggilmu kembali
tapi engkau tidak akan pernah mati di hati kami
engkau adalah wela runus
yang kini sedang melangkah menuju puncak ilmu
yang masuk ke pelataran-NYA yang tak bertepi
tergenggam di tanganmu dua macam cinta
cinta yang luas dan cinta yang dalam
cinta yang menembus batas-batas cakrawala

pewaris jalan kata-lah, engkau
menjadi kiblat bagi beribu-ribu lelaki dari angkatan demi
angkatan
adalah aliran humus yang tak pernah pupus-lah engkau
kepada yang menderita akal
engkau telah mengajaknya terbang melintas-lintas cakrawala
berhenti sejenak di setiap lorong-lorong dan gang Sanpio serta di
ufuk jagat raya
menengok bumi dan dunia nyata hingga terbahak-bahak
karena hidup adalah sebuah sendagurau
yang layak dirayakan sendiri-sendiri dan bersama-sama dalam kata,
lukis dan lagu
di mana kalau bukan di atas jalan kata yang berjuta-juta ruas
membentang
hingga menyentuh kaki langit dan dinding-dinding samudera

kepada yang mengeluh kurang dipenuhi Roh Kudus
engkau telah menggandeng tangannya menuju danau cahaya
menyeret dia untuk terjun bersamamu ke dalamnya
membasuh muka, mengais makna seraya memohon pengampunan atas
dosa-dosa dan penyembuhan atas luka-luka
merangsek prasangka yang kadang-kadang dibawa sampai hari tua
ialah berprasangka bahwa kelak menghadap Allah adalah kepandaian, kecanggihan, kesarjanaan, kehebatan dan keunggulan
bahwa masuk surga harus menguasai kitab suci
bahwa kita adalah orang yang tidak mengerti bahwa tidak mengerti
bahwa kepada saudara-saudara sendiri kita beri peran fiktif
dalam asosiasi prasangka
sehingga yang kita rintis bukan cinta dan ketulusan melainkan
fitnah
sehingga kita tidak memperluas cakrawala dengan cinta tapi mempersempitnya dengan dengki dan iri hati
kadang-kadang sampai mati

engkau adalah wela runus perintis kata
yang jikalau kata-kata sudah teruntai maka tergelincir ke ruang-ruang
semesta
ketika engkau tiada dari pandangan mata
ternyata kata-katamu yang seperti aliran sungai itu
banyak sekali yang tidak kami sadari
ternyata semua itu datang dari kasihmu
ke-tiada-anmu kini menjadi kaca yang benar-benar bening
cinta kami abadi

di atas jalan kata
engkau telah menumbuhkan cinta yang benar
yang tidak pernah diikat dunia
yang tidak terpanggul oleh ruang dan waktu
hingga kematian menjemput

di atas jalan kataengkau telah berwarta tentang syukur terbesar manusia kepada ALLAH
ialah terbukanya kebenaran bahwa meski manusia selalu buta melihat sesamanya adalah saudara dan saudarinya
ternyata tidak sekali-kali pernah Tuhan memberinya penjara melainkan cakrawala

di atas jalan kata
kata-katamu telah terajut menjadi sastra
ialah sebuah keindahan yang tidak bisa direduksi dari keutuhan seorang
manusia
yang dengan cakrawala tak terbatas dan dengan berjuta kemungkinannya
seorang manusia memperluas dirinya untuk mengakomodasi beribu
kemungkinan perbedaan

itulah seindah-indahnya sebuah kata yang menjadi sastra
yang menggerak dan mengalir di kedalaman diri seorang manusia
yang sesekali jadi padatan sementara tetapi kemudian selalu
dipergoki oleh kemungkinan keindahan-keindahan yang baru dan yang lebih baru
yang membuat manusia menikmati keindahan di materi-materi karya
sastra, di wajah manusia, di kandungan jiwa makhluk-makhluk, di hamparan alam
semesta, di firman Tuhan, di duka derita rakyat dalam negara dan di tali-tali
persambungan antar apapun dalam kehidupan
yang mengimani bahwa manusia bukan hanya atau terutama jasadnya
yang mengimani bahwa manusia adalah getaran sejati di dalam jiwanya di mana pengalaman sastra bisa membantunya untuk berada padanya
yang mengawal perjalanannya di rentang keabadian dan semesta kesejatian
yang menghindarkan dirinya dari sekedar onderdil dan jasad yang berguling-guling di tengah gelombang gerah pasar global
yang membuat hati manusia tergetar tatkala mengucapkan “Ya Tuhan-ku, Ya ALLAH-ku Pencipta Semesta Alam
yang membuat manusia menerima Allah Yang Maha Besar, Allah Yang Agung, dan omnipresentia Allah sebagai dinamika perjalanannya menuju ruang keabadian
yang membuat manusia terbuka dalam kesahajaaan terhadap sesama agar Tuhan selalu lebih besar lagi dan terus lebih besar lagi dari yang sebelumnya ia rasakan atau temukan
yang akhir-akhirnya seorang manusia mengucapkan kredo kehidupaan
sastra adalah jalan ke ruang keabadian dengan getaran-getaran
rasa yang melekat padanya

ketika engkau tiada
di luar sana, panas masih tiga puluhan derajat
angin serasa mati dan bau keringat begitu kecut
tiba-tiba harum wela runus-mu menghembus
penyejuk kalbu bagi hati yang merindu

***Catatan:

Wela runus adalah bunga perdu yang berwarna kuning keemasan dan merahmarun, tumbuh di tanah lembab, terutama pada musim hujan dan musim panen. Dalam
cerita rakyat Manggarai, wéla runus adalah seorang gadis cilik yang cantik
yang bersama kedua orang tuanya tinggal ditepi hutan lebat dan membuka lahan baru.

Jakarta, Rabu, 29 November 2017, saat mendengar kabar kepergian Pater Frans Mido SVD, yang meninggal di usia 81 tahun di RSUD Ben Mboi, Ruteng, Manggarai. Pater Frans adalah guru dan pendidik sastra dan bahasa Indonesia hampir 50 tahun di Seminari Pius XII Kisol.

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini