Bermula dari Cerita Ibu Tentang Seminari

1
1251
Pastor Johnny Dohut OFM. (Foto: dok. pribadi)

Oleh: JOHNNY DOHUT OFM

Ditahbiskan di Jakarta pada Sabtu, 25 November 2017, Pastor Johnny Dohut OFM, imam kelahiran Pau, Cibal, Manggarai membagikan kisah tentang bagaimana ia memulai meniti jalan menjawab panggilan, proses yang kemudian ia lalui dan refleksinya atas sejumlah pengalaman. Tulisan ini sudah dipublikasi sebelumnya di buku kenangan tahbisan yang diterbitkan panitia di Paroki Hati Kudus Kramat, Jakarta Pusat. Diterbitkan kembali oleh Floresa.co atas persetujuan Fr Johnny.


Tidak banyak hal dari cerita ibu saya yang bertahan di ingatan hingga saat ini, selain cerita tentang seminari. “Di sana, anak-anaknya cerdas, sopan dan jago main bola.” Mungkin masih banyak yang mau ia ceritakan ketika pada 1997 ia meninggalkan kami sekeluarga, untuk selama-lamanya. Saat itu, saya kelas IV SD.

Ceritanya tentang seminari begitu menggugah dan diam-diam menumbuhkan kiat. Karena itu, di Kelas VI SD, saya ingin sekali belajar di seminari. Saya memohon kepada Tuhan agar lulus dalam ujian seleksi masuk.

Tengah hari, di balik kelambuk, saya pernah membaca rumus doa mohon panggilan pada buku Madah Bakti di nomor yang sudah tidak saya ingat lagi. Tetapi, saya kecewa sekali ketika tidak bisa mengikuti tes karena ketinggalan informasi terkait waktu pelaksanaan tes itu.

Gagal masuk seminari, saya tak lekas masuk SMP. Tidak karena kekecewaan, tetapi karena ujung jari manis tangan kiri saya terpotong saat merajang makanan ternak (babi). “Cap tiga jari pada ijazah harus menggunakan tangan kiri!” kata kepala sekolah saya saat itu.

Di tahun itu juga saya tinggal dengan kakak dari ibu saya, Mama Tua Nika, di Ladur, Cibal. Ada banyak hal yang menyenangkan di Ladur. Satu hal yang sulit dilupakan adalah pengalaman merasakan kesulitan mengakses air bersih.

Di kampung saya, Pau, air begitu melimpah. Tidak demikian halnya di Ladur. Saat kemarau panjang, air di bak penampungan air hujan segera habis, lalu kami berjalan berkilo-kilo jauhnya untuk menimba air. Tidak banyak yang berubah hingga saat ini.

Syukur, masih ada kesempatan untuk belajar di Sseminari ketika saya kelas III SMP. Pada 2004, bersama lima peserta lainnya dari SMP Negeri I Cibal, saya mengikuti seleksi masuk Seminari St Yohanes Paulus II Labuan Bajo. Hari ketika mendapat surat berita kelulusan dari seminari begitu menggembirakan. Entah mengapa, sebetulnya itu hari pertama saya dipanggil “Romo” oleh beberapa teman kelas. Mungkin itu cara mereka mendoakan saya untuk akhirnya bisa menjadi imam.

Pendidikan di Seminari Labuan Bajo selama empat tahun dimulai dengan Kelas Persiapan Bawah (KPB) selama satu tahun. Setelahnya kami mengikuti Pendidikan SMA di SMAK St. Ignatius Loyola.

Kesulitan mengakses air dialami juga di masa-masa yang menyenangkan itu. Mirip seperti yang pernah saya alami di Ladur.

Pada musim kemarau kami harus pergi beberapa ratus meter dari kompleks seminari untuk mandi pada sore hari. Kekurangan air menyusahkan anak-anak seminari juga. Namun, kami tahu bagaimana menikmati kesulitan ini menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Ketika kelas III SMA saya memutuskan untuk masuk OFM. Agustus 2008 mulailah babak baru perjalanan saya. Saya memulai perjalanan sebagai saudara dina di Postulat OFM di Pagal, bersama sepuluh teman angkatan.

Sepuluh bulan usai, saya bersama tiga teman angkatan kemudian masuk Novisiat Transitus di Depok, Jawa Barat.

Jumlah saat itu enam belas orang setelah bergabung dengan para saudara dari postulan OFM Yogyakarta. Hingga kaul pertama, kami masih berenambelas. Pada 2010 kami memulai studi Teologi-Filsafat. Sebagian mendapat kesempatan studi di Yogyakarta. Sebagian lainnya di STF Driyarkara, Jakarta.

Setelah menyelesaikan studi S1 di STF, saya diutus menjalankan TOP di Seminari Pius XII Kisol. Ini tempat yang saya rindukan waktu SD. Tuhan mengantar saya ke tempat yang pernah menjadi kerinduan saya sejak kecil karena cerita ibu. Beberapa tempat di Kisol juga kesulitan mengakses air ketika musim kemarau. Teringat Ladur dan Labuan Bajo.

Satu hal yang sulit diabaikan dari setiap tempat penting dalam perjalanan saya ialah krisis air. Namun daya hidup itu begitu kuat. Orang mau berjuang, berjalan berkilo-kilo meter menemukan sumber air. Dalam hal panggilan, saya pun ingin terus merawat perjalanan menuju Sumber Air Kekal, betapapun kesulitan selalu ada. Saya memilih Fransiskan sebagai jalan menuju sumber Air Kekal itu.  Jalan untuk menimba dan berbagi. Jalan kesempurnaan.

Mengikuti Misa bersama siswa SMP Seminari Kisol di Pantai Bondei, yang terletak di bagian selatan seminari. (Foto: dok. pribadi)

Pada 25 November 2017, saya ditahbiskan menjadi imam. Doa dan dukungan persaudaraan OFM, keluarga jasmani dan rohani, kenalan dan sahabat meyakinkan saya untuk terus berjalan. Saya menemukan kalian sebagai sungai yang mengalirkan kebaikan Tuhan, Mata Air Hidup yang mencintai dengan kasih yang kekal. Ia menyejukkan dan menghidupkan!

Dengan terus berharap pada Allah dan doa kalian, cuplikan dari doa St. Klara Assisi ingin saya dengungkan selalu dalam perjalanan panggilan saya:  “…Semoga aku dengan langkah ringan dan gesit dengan kaki yang tidak terantuk dan tidak menerbangkan debu, maju dengan aman, gembira, dan lancar… “

Nasehat dan Perhatian

Tidak banyak orang eksplisit memberi nasihat kepada saya tentang panggilan dan pilihan menjadi Fransiskan. Beberapa nasihat yang pernah saya terima sulit untuk dilupakan karena sungguh meneguhkan.

Yang pertama datang dari saudari saya, Mersi (alm). Ia mendukung sepenuhnya kebebasan saya untuk memilih. Suatu ketika, ia menasehati, “Bawa dirimu baik-baik. Jangan bikin malu keluarga. Kalau ragu-ragu, keluar saja!” Tahun 2012, dia meninggal, dan saya pulang saat itu. Juga dari Bapak Matias, kakak kandung ayah saya, yang mengatakan “Neka kole musi nuk! Terus keta paka cai le langang!” (Jangan kembali ke belakang, teruslah berjalan hingga cita-cita tercapai.) Ia meninggal tahun 2013.

Dua penasihat berikut ini masih hidup. Dari ayah saya, nasihatnya seringkali ringkas “Neka hemong Morin!”  Jangan melupakan Tuhan. Ajakan untuk memberi perhatian pada hidup doa.

Berikutnya dari kakak saya, Robert. Sebetulnya yang menguatkan saya ialah bukan kata-katanya. Ia tak berbakat untuk memberi nasehat. Waktu masih kuliah, sesekali ia mengirim kopi dan ikan cara. Perhatiannya tetap seperti itu dan seringkali tidak terduga.

Kalau tiba-tiba ada SMS dari M-Kios di HP saya, pesan dari nomornya pasti menyusul. Dalam hal ini ia menguatkan HP saya untuk melakukan panggilan dan tidak menjadi beban untuk orang lain dengan telepon beban. Nasehat-nasehat dan perhatian mereka; menguatkan!

Moto Tahbisan: Sumber Air Hidup

“Barang Siapa Minum Air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya!” (Yoh 4:14)

Ketika haus dalam suatu perjalanan, menemukan sumber air sungguh membangkitkan suka cita dan harapan. Kekuatan untuk melanjutkan perjalanan ditemukan kembali. Dalam perjalanan panggilan saya, haus terungkap lewat beragam bentuk, baik secara jasmani, psikologis, maupun spiritual. Haus adalah kehilangan orang tercinta yang menjadi luka batin belasan tahun lamanya.

Haus adalah rindu akan perhatian yang lama-kelamaan menjadi narsis, emosional, dan egois. Haus adalah rindu akan kesempurnaan tetapi seringkali menemukan diri terbatas, inkonsisten dan kurang. 

Jika akhirnya rasa kehilangan dan luka batin bisa diolah dan pelahan-lahan diterima dan disembuhkan; beragam kesulitan dan rintangan bisa dilampaui, saya sungguh yakin: itu hanya mungkin terjadi karena kasih Tuhan yang mengatakan dengan penuh empati Barang siapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya ”(Yoh 4:14).

Tuhanlah Air Hidup. Kasih-Nya menyejukkan dan menghidupkan; memberi kekuatan untuk jiwa yang lelah, letih, dan ditinggalkan dalam perjalanan.

Perjalanan masih panjang merentang hingga ke tahun-tahun yang belum datang. Dan haus bukan hal yang tak mungkin untuk orang yang terus berjalan. Saya memupuk harapan dan upaya untuk terus menemukan sumber air yang kekal itu, Air Hidup.

Jalan panggilan ini tidak lain ialah jalan menuju Air Hidup. Merawat perjalanan itu adalah menjaga relasi. Dan menjaga relasi ini tidak lain adalah upaya memiliki Roh Tuhan dan pekerjaan kudus-Nya. Habere Spiritum Donimi!

Tentang kesementaraan dan kekekalan relasi, ada ungkapan menarik di Manggarai yakni salang tuak dan salang wae. Salang tuak (jalan menuju sumber tuak untuk menyadap atau menikmati tuak) didominasi prinsip kenikmatan dan sementara saja sifatnya. Sebaliknya, karena menyangkut kebutuhan primer, jalan menuju sumber air bersifar kekal. Orang bisa bertahan hidup bertahun-tahun tanpa tuak. Namun tiga hari tanpa konsumsi air, orang bisa mati. Air menyangkut hidup dan mati. Karena itu, sungguh mengobarkan harapan ketika Yesus menyingkapkan diri sebagai Air Hidup.

Saya sadar perjalanan ini sangat mungkin jatuh pada prinsip kenikmatan, memburu kenikmatan, easy going, individualis, hedonis, materialis, dan dangkal. Itulah salang tuak.

Namun, seruan Yesus di Salib “Aku haus” (Yoh 19:28) dan ikhwal meminta minum pada perempuan Samaria di tepi sumur menyadarkan saya bahwa haus juga merupakan undangan untuk terlibat sungguh-sungguh untuk membantu Tuhan yang hanya mungkin dilakukan jika mau berusaha memiliki Roh Tuhan sendiri.

Di saat bersamaan Yesus mau membuka mata hati perempuan itu untuk mengenal bahwa Yesus adalah ‘air hidup’ dan  seharusnya perempuan itu meminta minum dari Dia.

Sekitar pukul 12.00 di kota Sikhar, pada tepi sumur, Yesus kehausan dan letih usai suatu perjalanan misi. Ia minta air kepada perempuan Samaria, “Berilah Aku minum!” (Yoh 4:7). Tidak ada cerita apakah perempuan itu pergi setelah memberi minum kepada Yesus. Saya juga tidak mau lama-lama mencari jawabannya. Satu hal yang penting, perempuan itu akhirnya meminta “Tuhan berikanlah aku air itu…”.

Di samping itu, saya yakin Yesus juga membutuhkan saya untuk memberi Dia minum sebagaimana Ia minta pada perempuan itu. Maka tak ada alasan untuk menunda. Saya mau dan bersedia ditahbiskan untuk memberikan diri, melayani Tuhan dan sesama!

Saya menyadari, hanya dengan berjalan sebagai penimba Air Hidup, panggilan saya akan tetap segar dan hidup kalaupun harus melewati kemarau dan gersang gurun. Perjalanan panggilan ini adalah perjalanan terus-menerus dari dan menuju Sumber Air Hidup yang Kekal.

Perjuangan terus-menerus mengikuti nasihat St. Fransiskus untuk “memiliki Roh Tuhan dan pekerjaan kudus-Nya!”. Menimba kekuatan untuk hidup sekaligus memberikan diri dalam pelayanan.

Bersama St. Fransiskus ingin sekali saya berseru: Terpujilah Engkau Tuhanku karena Saudari Air. Dia besar faedahnya, selalu merendah, berharga dan murni.

Advertisement
BAGIKAN

1 Komentar

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini