Longsor di Rahong Utara: Dua Dapur Ambruk, 11 Rumah Terancam

0
2114

Floresa.co – Ancaman longsor pada musim hujan di wilayah Manggarai terus meluas.

Setelah menjebol rumah warga di Gapong, Kecamatan Cibal pada 22 November 2017, kini longsor mengancam warga kampung Wontong, Desa Bangka Ruang, Kecamatan Rahong Utara.

Hujan deras pada Kamis, 23 November menyebabkan longsor pada bagian belakang rumah warga pada deretan selatan kampung itu.

Peristiwa tersebut mengakibatkan dua dapur milik Rikardus Nandi (31) dan Romanus Jelatu (50) ambruk. Selain itu, rumah keduanya, hingga rumah milik Gregorius Nembok terjadi keretakan pada lantai hingga tembok dinding.

Pantauan Floresa, Jumat, 24 November, retakan tanah longsoran terlihat memanjang dan mengancam 11 rumah warga.

Meskipun kemiringan tanah tidak terlalu curam, namun kondisi tanah yang labil memungkinkan terjadinya pergerakan tanah saat terjadi hujan deras selanjutnya.

Sejak kejadian itu, penghuni sebelas rumah yang terancam longsor memilih tinggal menumpang di rumah warga lainnya yang aman.

“(Kami) kuatir sesewaktu terjadi hujan dan terjadi longsoran susulan,” ujar Ferdinandus Malik (41), salah seorang warga yang rumahnya terancam.

Ia mengatakan, longsoran kali ini merupakan bencana kedua yang mereka alami setelah bencana serupa menggerus bagian barat kampung pada tahun 1994 lalu.

Puing dapur rumah salah satu warga setelah dihantam longsor. (Foto: Floresa)

Bencana saat itu merusak belasan hektar kebun, sawah dan saluran irigasi.

“Bencana 1994 itu tidak ada bantuan pemerintah. Hingga saat ini irigasinya belum diperbaiki. Untuk bencana kali ini, tadi BPBD sudah datang. Semoga pemerintah bantu kami,” katanya.

Warga juga berharap bisa direlokasi karena merasa tidak aman dari ancaman longsor yang sudah dua kali menerjang kampung itu.

“Jika pemerintah bersedia membantu, kami siap direlokasi karena rumah kami terancam,” ujar Etrida Serasi Jaya (32) yang dibenarkan warga lainnya.

Warga menuturkan, dahulu posisi kampung Wontong lebih tinggi dari jalan raya.

Namun lambat laun, permukaan kampung terus mengalami penurunan hingga nyaris sejajar dengan jalan raya di depan gerbang kampung.

Mereka kuatir, hal itu menjadi sinyal bahwa suatu waktu kampung itu akan dilanda longsor yang lebih besar lagi.

EYS/ARL/Floresa

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini