Penertiban Bangunan Liar di Labuan Bajo Diwarnai Aksi Protes

0
1216
Ini adalah puing rumah Maksi Nggaus, warga Labuan Bajo yang sudah dirobohkan karena menyalahi aturan tata ruang dan tidak mengantongi izin mendirikan bangunan. (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Labuan Bajo, Floresa.coPasca dikeluarkannya surat keputusan Bupati Manggarai Barat, Agustinus Ch Dula terkait penertiban bangunan liar di kota Labuan Bajo, pada Kamis, 23 November 2017, aparat akhirnya membongkar secara paksa salah satu rumah warga.

Rumah lantai dua milik Maksi Nggaus itu terletak di dekat Patung Komodo, pinggir ruas Jalan Trans Flores.

Beberapa waktu lalu, Polisi Pamong Praja (Pol PP) sudah memberi peringatan kepada Maksi untuk menghentikan proses pembangunan rumahnya karena menyalahi aturan tata ruang dan tidak mengantongi izin mendirikan bangunan (IMB). Pol PP pun memasang garis polisi di rumah yang diperuntukkan untuk kos-kosan itu.

Wakil Bupati Maria Geong juga ikut melakukan pendekatan kepada Maksi, sebelum keputusan bupati dikeluarkan.

Namun, Maksi tetap melanjutkan proses pembangunan rumahnya.

Ketika eksekusi pada Kamis, jajaran Forkompida Mabar ikut mendatangi lokasi. Polisi dan TNI pun sigap mengawal proses eksekusi.

Saat membacakan surat bupati, Kasat Pol PP, John Karjon mengatakan, selain bangunan Maksi, ada 14 bangunan lainnya yang akan digusur, karena melakukan pelanggaran yang sama.

Sekitar pukul 09.00 Wita, John meminta anggotanya membantu Maksi mengeluarkan barang-barang yang ada di lantai satu.

Maksi Nggaus sempat melawan saat eksavator hendak menggusur dan meminta penggusuran ditunda, menanti proses hukum yang ia klaim sedang ditempuhnya.

Salah seorang anak laki-lakinya pun sempat protes dengan nada keras, sambil membawa parang menghalangi petugas.

“Hei Solus Rafel, kau yang mengukur saat bangunan ini hendak dibangun. Dan kau katakan, tidak bermasalah dan silakan bangun,” ujarnya,

Ia bahkan berkali-kali memarahi Solus, yang menjabat sebagai Kepala Cipta Karya Dinas PU Mabar saat mengecek lokasi bangunan itu.

Meski histeris dan berupaya menghentikan eksavator, usaha mereka tidak berhasil.

Ia lalu berteriak, meminta agar pemerintah tidak tebang pilih.

“Woko bangunan de bule le meu ga toe gusur,” katanya dalam Bahasa Manggarai, yang berarti, “Kalau bangunan warga asing kamu tidak gusur.”

“Pa John Karjon, saya mau lihat apakah hanya bangunan kami saja yang digusur?” lanjutnya.

“Saya tungu janji pa menggusur puluhan bangunan yang tidak memiliki IMB. Kami tunggu dan kami selalu pantau,” ujar anak itu sambil meronta.

Eksavator milik Dinas PU akhirnya memulai proses penggusuran sekitar pukul 10.20.

Secara perlahan, alat itu merobohkan beberapa kamar di lantai dua bangunan itu.

Pantauan Floresa.co, tidak semua bangunan itu diratahkan dengan tanah. Masih ada tembok yang kokoh berdiri.

John Karjon mengatakan, mereka pasti akan menggusur bangunan lain.

Ferdinand Ambo/ARL/Floresa

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini