Pengerjaan Proyek di Kecamatan Welak Asal Jadi, Fidelis Syukur Berang

0
959
Fidelis Syukur, wakil ketua DPRD Mabar sedang memantau gedung hasil pengerjaan proyek dengan pagu anggaran Rp 2,8 Miliar. (Foto: Ferdinand Ambo/Floresa)

Labuan Bajo, Floresa.coWakil Ketua  DPRD Manggarai Barat (Mabar), Fidelis Syukur berang menyaksikan kualitas proyek dengan anggaran miliaran di Kecamatan Welak.

Pengerjaan proyek tahun anggaran 2017 dari APBD Mabar itu diduga diduga tidak sesuai spesifikasi.

Seperti disaksikan Floresa.co, Rabu, 22 November 2017, anggota DPRD dari daerah pemilihan Kecamatan Welak itu marah saat melihat fisik proyek bangunan rumah paramedis di Puskesmas Orong, dengan pagu anggaran Rp 2. 8 Miliar.

Proyek tersebut dikerjakan oleh CV Nusa Bunga Konstruksi.

Di hadapan tenaga pengawas proyek, Fidelis meminta kontraktor menunjukkan desain gambar bangunan tersebut, karena menyaksikan sejumlah kerusakan di fisik bangunan, seperti tembok yang mulai retak, jendela kaca yang longgar dan sisa material yang berceceran.

“Tolong tunjukan gambarnya,” kata Fidelis.

Namun petugas yang mengawasi proyek itu tidak menunjukkan gambar dan berjanji akan memperbaiki bagian yang rusak.

Menurut Fidelis, sebelumnya, saat pertama kali mengecek bangunan itu, ia sempat mengamuk lantaran pagar yang dibangun asal-asalan.

“Saat itu saya minta bongkar dan dikerjakan ulang. Dan hari ini saya melihatnya sudah bagus,” katanya.

“Sangat disayangkan (bahwa) anggaran besar tetapi hasilnya tidak memuaskan. Makanya saya minta agar kembali diperbaiki,” ujarnya.

Politisi Partai Gerindra itu juga kecewa saat menyaksikan pembangunan ruas jalan Golo Sita – Robo di Kecamatan Welak.

Proyek jalan lapen itu, ia nilai tidak sesuai spesifikasi.

Fidelis sempat menantang petugas yang dipercayakan kontraktor untuk mengawas proyek.

Menurutnya, batu yang digunakan diduga menggunakan batu galian pasir, bukan batu gunung.

“Ini batu pasir ini, bukan batu dari gunung. Kalau mau dibuktikan, silakan di gilas, apa hancur atau tidak,” katanya.

Namun petugas yang mengawas proyek itu beralasa, operator eksavator tidak ada di lokasi, sehingga tidak bisa digilas.

Ia menyakinkan bahwa batu yang digunakan sesuai dengan rancangan anggaran biaya (RAB) proyek.

Ia menyebut, dana proyek itu mencapai sekitar Rp 700 juta.

Ditanya terkait papan informasi proyek itu, ia mengatakan, “dicabut orang gila.”

Ferdinand Ambo/ARL/Floresa

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini