Kenang Hari Pahlawan Nasional, SEMA SFTK Ledalero Gelar Beragam Kegiatan

0
254

Maumere, Floresa.co – Memperingati hari Pahlawan Nasional, Senat Mahasiswa (SEMA) Sekolah Tinggi Filsafar Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) selenggarakan STFK Fair di Kampus STFK Ledalero yang berlangsung pada, 10 November 2017 di aula kampus tersebut.

Berbagai kegiatan yang diselenggarakan, di antaranya festival musik akustik, dramatisasi puisi, teater, pameran buku, seni lukis serta Stan makanan Nian Tana.

Kegiatan yang disponsori oleh Bank Mandiri, Nian Tana Café, Choin Entertainment Soundsystem and lighting dan didukung oleh penerbit Ledalero dan Gramedia dimulai  pukul 04.30 Wita dan dipandu oleh Aster Seda dan Deni Galus, mahasiswa di kampus pendidikan calon imam itu.

Karlo Madur, ketua panitia mengatakan, STFK Fair ini merupakan suatu bentuk penghargaan dan kenangan akan perjuangan para pahlawan bangsa.

“Kegiatan ini juga adalah wujud semangat anak bangsa untuk menghidupi kembali perjuangan para pahlawan dalam meraih kemerdekaan,” kata Karol.

Aksi Panggung

Acara dimulai dengan festival musik akustik dari enam SMA dari Kabupaten Sikka, yakni SMA Baktiarsa Maumere, SMA Seminari Bunga Segala Bangsa, SMA Negeri I Nita, SMK Negeri I Maumere, SMK Negeri 3 Maumere dan SMA Baktiarsa.

Setiap SMA menunjukkan kebolehan masing-masing. Menyayikan lagu wajib dan lagu pilihan. Menurut juri, lagu-lagu yang dibawakan cukup menarik hingga membuat juri bingung menentukan tim terbaik.

“Acara ini begitu berkelas dan peserta-pesertanya juga sangat berkelas. Para juri bingung menilai kelompok mana yang menang,” kata Romi Keo salah seorang juri.

Kegiatan dilanjutkan dengan pentas sastra dari beberapa kelompok minat sastra dari Kota Maumere. Pertama, penampilan dari IKIP Muhamdyah dengan dramatisasi puisi W. S. Rendra yang berjudul Gugur. Kemudian dilanjukan dengan monolog dari teater Aletheia Ledalero dengan judul “Pesan Pencopet kepada Pacarnya”.

Selanjutnya, pementasan teater dari teater Pilar STFK Ledalero dengan judul “Patung Kemerdekaan, Kemerdekaan Patung”. Teater yang disutradarai oleh Ansel Langowuyo ini menceritakan nasib kemerdekaan Indonesia.

Melalui teater ini, sutradara ingin melukiskan perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Namun hari ini, kemerdekaan yang telah diperjuangkan seperti direbut kembali oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan dan harta.

Lukisan kemerdekaan diubah dan dibuat carut-marut oleh berbagai tangan yang ingin mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok.

“Melalui patung kemerdekaan mau digambarkan bagaimana nasib kemerdekaan Indonesia sekarang ini. Patung kemerdekaan ini adalah wujud dan sekaligus gambaran dari wajah kemerdekaan Indoenesia. Patung kemerdekaan dijual dan dipermainkan begitu saja oleh tangan-tangan penguasa.”

“Patung proklamasi kemerdekaan harus digambar ulang dan proklamasi mesti dibaca ulang, agar kita tetap dan selalu merdeka sama seperti tanggal 17 Agustus 1945” jelas Vian Djo, salah satu pemeran teater.

Sementara, Har Jansen selaku ketua SEMA mengatakan, kegiatan STFK Fair ini dilaksanakan selain untuk mengenang jasa pahawalan, juga untuk mengembangkan bakat dan potensi dalam kaum muda.

“Kegiatan ini membantu kaum muda untuk mengembangkan bakat dan potensi dalam diri mereka. Sangat disayangkan apabila bakat mereka terpendam begitu saja hanya karena tidak ada yang bisa mewadahi proses pengembangannya,” katanya.

Seluruh rangkaian acara STFK Fair ditutup dengan pembacaan kejuaraan perlombaan. Vokalis terbaik diraih oleh vokalis SMA Negeri I Nita, basis terbaik diraih oleh SMA 2 Maumere, gitaris terbaik dari SMA Baktiarsa, serta Kajoon terbaik diraih oleh SMA 2 Maumere.

Sementara untuk kejuaraan festival aksutik, juara pertama diraih SMA Negeri I Nita, juara II diraih SMA Baktiarsa, juara III diraih SMA 2 Maumere, juara IV diraih SMA Seminari BSB, juara V diraih SMK Negeri 3 Maumere, dan juara VI diraih SMK Negeri I Maumere. (Milin Kowa/ARJ/Floresa).

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini