Tingkatkan Rasio Elektrifikasi, Kementerian ESDM Resmikan 3 Pembangkit Listrik di NTT

0
414
Ilustrasi

Jakarta, Floresa.co – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meresmikan 3 proyek ketenagalistrikan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di Provinsi Kepulauan itu.

Proyek pertama ialah PLTMG Kupang Peaker kapasitas 40 MW. Pembangkit ini dibangun di Dusun Panaf, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Ditargetkan akan selesai pada November 2018. Dengan total investasi lebih dari 700 milyar rupiah, pembangkit ini menyerap tenaga kerja lebih dari 300 orang.

Kedua, Mobile Power Plant (MPP) Flores berkapasitas 20 MW. Berlokasi di Dusun Rangko, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat. Menelan investasi lebih dari 427 milyar rupiah dan menyerap tenaga kerja hingga 210 orang selama masa konstruksi dan 25 orang selama fase operasi.

Ketiga, PLTMG Maumere kapasitas 40 MW yang berlokasi di desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka-Flores Nusa Tenggara Timur. Selama masa konstruksinya proyek ini menyerap tenaga kerja sekitar 285 orang dengan nilai investasi lebih dari 694 milyar rupiah.

Selain di NTT, di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Menteri Jonan juga meresmikan 4 proyek yang sama.

Menurut Jonan, pemerintah terus berupaya agar infrastruktur kelistrikan harus segera dibangun untuk memperluas akses listrik kepada masyarakat, dengan harga terjangkau melalui berbagai program pengembangan pembangkit 35.000 MW beserta infrastruktur pendukungnya.

“Pemerintah berkomitmen meningkatkan rasio elektrifikasi lebih dari 93 persen, tahun 2019 minimal 96 persen, kalau kita bekerja keras bisa 99 persen di tahun 2019, naiknya hampir 3 persen per tahun, luar biasa sekali,” kata Jonan melalui keterangan resminya, Jumat 20 Oktober 2017.

Dengan beroperasinya seluruh proyek kelistrikan di NTB dan NTT pada tahun 2019 mendatang, kebutuhan listrik di pulau NTB dan NTT bisa terpenuhi.

“Total kapasitas 350 MW apabila pelanggan yang butuh listrik 900 VA per rumah tangga, akan bisa mengaliri sekurangnya 350-400 ribu rumah tangga,” imbuhnya.

Untuk pengelolaan kelistrikan, Jonan berpesan kepada direksi PT PLN (persero) untuk dapat lebih memberikan contoh untuk efisiensi pada investasi dan biaya operasi. Dengan demikian, para IPP juga bisa mengendalikan tarif listrik, sehingga tarif listrik tidak naik tapi turun.

“Saya mohon kepada PLN untuk dapat memberikan contoh efisiensi terhadap investasi per MW dan biaya operasi sehingga IPP bisa mengikuti kalau bisa tarif listrik tidak naik tapi turun,” tegasnya.

Direktur PLN Sofyan Basir pada laporannya juga mengungkapkan komitmen PLN untuk mendukung Pemerintah mewujudkan kebijakan 35.000 MW di tahun 2019.

Dia mencatat, saat ini kondisi kelistrikan sudah sangat cukup, beberapa daerah bahkan sudah tidak ada pemadaman listrik, salah satunya cadangan listrik di Lombok mencapai 299 MW, dan beban puncak sebesar 227 MW.

“Beberapa daerah sudah memiliki cadangan rata-rata 30 persen, di Lombok cadangan listriknya mencapai 72 MW”, jelas Sofyan.

Proyek-proyek ketenagalistrikan yang diresmikan Menteri ESDM di daerah NTB ialah; Pertama, Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Lombok Peaker. Berkapasitas 150 MW dan berlokasi di desa Tanjung Karang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dengan investasi 1,6 triliun rupiah, proyek ini akan menyerap tenaga kerja sejumlah 365 orang pada fase konstruksi dan 25 orang pada fase operasi. PLTGU ini diharapkan akan Commercial Operation Date (COD) pada Februari 2019.

Kedua, Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Bima. Berlokasi di Dusun Bonto, Kecamatan Asakota, Kota Bima Nusa Tenggara Barat, pembangkit ini dibangun dengan kapasitas 50 MW. Dengan total investasi 637 miliar rupiah, proyek akan menyerap tenaga kerja sekitar 300 orang. PLTMG Bima direncanakan akan COD pada Oktober 2018.

Tiga, PLTMG Sumbawa kapasitas 50 MW Pembangkit yang berada di desa Labuan Badas Kabupaten Sumbawa ini menelan investasi lebih dari 744 milyar rupiah dan menyerap tenaga kerja hingga 285 orang. Ditargetkan PLTMG Sumbawa akan selesai pada Oktober 2018.

Empat, PLTU Lombok Timur yang mempunyai kapasitas 2×25 MW berlokasi di Desa Padakguar, Kabupaten Lombok Timur. Dengan total nilai investasi 1,2 triliun rupiah, telah menyerap tenaga kerja sebanyak 1.200 orang pada fase konstruksi dan 470 tenaga kerja saat operasi dengan prosentase 95 persen orang Lombok dan 85 persen di antaranya adalah penduduk Desa Padakguar. (Merdeka.com/ARJ/Floresa).

 

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini