Maria Matildis Banda Rilis “Suara Samudra” Novel dengan Latar Lamalera

3
1910
Maria Matildis Banda memegang novel karyanya yang ke-10. Novel berjudul "Suara Samudra" ini mengambil latar situasi di Lamalera. (Foto: ARL/Floresa)

Floresa.co – Maria Matildis Banda, sastrawati asal Nusa Tenggara Timur (NTT) meluncurkan karya terbarunya, sebuah novel dengan latar situasi di Lamalera, Kabupaten Lembata.

Novel dengan judul “Suara Samudera” itu diluncurkan di Ruang Samudra, Badan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu, 11 Oktober 2017.

Hadir dalam acara peluncuran itu sejumlah tokoh NTT, termasuk Sonny Keraf, mantan Menteri Lingkungan Hidup.

Maria, yang juga dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Denpasar mengatakan, novel ini adalah karyanya yang ke-10. Butuh 10 tahun untuk merampungkan novel dengan tebal 485 halaman itu.

Kisah dalam novel ini mengetengahkan tokoh Lyra yang selama 27 tahun memendam rindu bertemu Arakian, ayah kandungnya, seorang lamafa (penombak ikan paus), lulusan SMAK Suryadikara, Ende.

Pencariannya berawal dari kisah di masa lalu, di mana hubungan cinta  Arakian dan ibu Lyra, Mariana tidak mendapat restu orangtua Mariana.

Lyra, bersama kembarannya Dika berada dalam kandungan, ketika Arakian diusir mertuanya. Lyra kemudian tinggal di Bali dan Dika menjadi pastor.

Kisah Arakian, yang memikul dosa masa lalu, kemudian berakhir miris, saat peledang (perahu yang dipakai untuk menangkap ikan paus) menghadapi bencana. Saat itulah Lyra justru datang mencari ayahnya.

Yoseph Yapi Taun, dosen Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, yang menjadi pembedah novel ini mengatakan, novel ini bukan sebuah karya etnografis biasa.

“Selain mempermasalahkan pandangan dunia orang Lamalera dengan warna lokal Lamalera, Lembata, Flores, Kupang dan Bali yang sangat kental, novel ini menggarap sebuah persoalan yang sangat mendasar jika dilihat dari perspektif sosial budaya dan religiositas,” katanya.

Ia menjelaskan, dengan Membaca Suara Samudra, pembaca akan mendapatkan banyak fakta dan pemahaman tentang tradisi, adat dan budaya Lamalera.

“Kita juga akan mengetahui bahwa adat, tradisi dan budaya kehidupan masyarakat Lamalera banyak berkaitan dengan kehidupan mereka sebagai orang laut dan keyakinan agama mereka sebagai penganut Katolik,” katanya.

“Ada banyak informasi etnografis tentang Lamalera dalam novel ini,” lanjutnya.

Sementara itu Sonny Keraf, yang berbicara dalam acara ini mengatakan, Maria mampu mengangkat kekayaan tradisi Lamalera ke tengah publik.

“Apa yang disampaikan dalam novel ini juga memberi sumbangan tersendiri di tengah perdebatan saat ini tentang adanya upaya menghentikan tradisi penangkapan ikan paus di Lamelera demi alasan pelestarian lingkungan,” katanya.

“Dengan caranya sendiri, novel ini sudah menyumbangkan masukan penting di tengah perdebatan ini,” lanjut Sonny.

Ia mengapresiasi Maria, yang menurut dia, mampu menggambarkan dalam novelnya kesakralan yang menjiwai kehidupan orang Lamalera.

Novel yang diterbitkan Kanisius ini mendapat banyak apresiasi dari sejumlah pihak.

Dalam testimoni di sampul belakang novel, Pastor Paul Budi Kleden SVD, misionaris SVD yang kini menetap di Roma, menyebut Maria “dengan keterampilan bertutur yang memikat, merangkai gejala alam, tradisi dan falsafah hidup orang-orang Lamalera dengan kisah anak-anak manusia yang jatuh cinta, terlibat permusuhan dan dendam, namun tak kuasa mendiamkan kerinduan untuk mencari akar.”

“Suara Samudra adalah suara untuk kembali ke yang asli, ke kampung “kendati nae bero ee, meskipun naik perahu…,” tulisnya.

Sementara itu Pastor Charles Beraf SVD menulis, “Suara Samudra bukan sekedar ‘suara’, tetapi  lebih sebagai sebuah katarsis yang menarik ke kedalaman, ke ruang hidup Lamalera.”

“Suara Samudra adalah gugatan yang membelalakkan mata hati kita agar tidak mudah ambruk di tengah gempuran  perubahan,” lanjutnya.

Nama Maria Matildis Banda bukan sosok baru dalam dunia sastra.

Alumna SMA Suryadikara Ende ini pada tahun lalu menerbitkan novelnya yang Doben.

Novel terbitan Penerbit Lamalera itu merupakan pemenang pertama sayembara mengarang cerita bersambung Majalah Femina tahun 1999.

ARL/Floresa

Advertisement
BAGIKAN

3 Komentar

  1. orang pintar tanpa menulis kepintaran nya berupa buku = orang bodoh(termasuk saya)
    semoga kreativitas menulisnya bisa terjangkit ke NTT bu ..selamat dan semoga semakin sukses

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini