Gunakan Bahasa Manggarai, 8 Siswa SMPN 4 Pocoranaka-Matim Dihukum Jilat Closet

1
2771
Ilustrasi

Borong, Floresa.co – Sebanyak delapan siswa SMPN 4 Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai Timur, Flores-Nusa Tenggara Timur (NTT) dihukum menjilat closet  (WC) di sekolahnya, Jumat September 2017 lalu oleh Yosefina Narti, guru di sekolah tersebut.

Kedelapan siswa itu yakni Gundi Par, Sanga, Patris, Rian, Naur, Ronald, Yute dan Kala.

Ihwal kejadian lantaran siswa-siswa tersebut menggunakan bahasa daerah Manggarai di lingkungan sekolah sebelum Kegiatan Belajar Mengarajar (KBM) berlangsung.

Dilansir Pos Kupang, 28 September 2017, Yosefina yang berstatus guru honor dana BOSDA itu lantas memanggil para siswa ke kamar WC lalu menjilat closet secara bergantian.

“Awalnya kami tidak tahu. Anak-anak tidak beri tahu. Mereka takut karena guru tersebut mengancam akan memberikan nilai buruk kalau kejadian tersebut diberi tahu kepada orangtua.”

“Anak-anak kami pun tidak beri tahu orangtua sejak kejadian jilat closet tanggal 15 September 2017 pagi,” ujar Frans Par.

Frans mengaku mereka baru mengetahui kejadian itu sekitar seminggu setelahnya. “Kami baru tahu tanggal 22 September 2017 karena ada teman-teman mereka cerita kepada kami,” sambung Frans.

Kejadian itu, keluh Frans, sungguh tidak bisa diterima para orangtua sehingga mereka melapor ke Dinas PPO Matim.

Frans menjelaskan, para orangtua siswa-siswa tersebut sebenarnya mau ke Dinas PPO Matim pada Sabtu, 23 September 2017 pagi, tapi tidak jadi karena PNS di Matim kerja lima hari. Hari Sabtu libur.

“Kami lalu ke Dinas PPO Matim, Senin 25 September 2017 pagi. Di dinas kami bertemu Kasubag,” ucapnya.

Keputusan Kadis PPO Matim

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Matim, Frederika Frederika Soch mengaku sudah menerima pengaduan para orangtua.

“Saya ada dapat laporan dari orang tua murid terkait tindakan guru di SMPN 4 Poco Ranaka. Setelah terima pengaduan, saya langsung pecat dia dari guru Bosda di sekolah itu. Saya sudah keluarkan surat agar dia diberhentikan dari sekolah,” jelas Kadis Frederika dilansir VoxNtt.com Jumat 29 September 2017.

Sock menegaskan, tidak sepatutnya seorang guru memprilakukan siswa dengan cara demikian. Tindakan tersebut, kata Sock merupakan bentuk kekerasan terhadap anak.

“Memang tidak ada cara lain untuk mendidik anak daripada harus menjilat kloset. Itu bagian dari kekerasan terhadap anak. Oleh karena itu, ia resmi berhenti sebagai guru di SMPN 4 Poco Ranaka,” pungkasnya. (Floresa).

 

Advertisement

1 Komentar

  1. Yang pantas menjadi guru sebenarnya hanyalah mereka yang cerdas, bukan hanya dari segi kognitifnya, tapi juga afektif dan psikomotornya. Tapi karna di Manggarai umumnya, masih banyak tindak KKN, ya beginilah hasil yg di dapat, mendidik anak tidak sesuai kaidah yg berlaku.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini