Dialog dengan Komunitas Ritapiret, RSM Bahas Sejumlah Isu Terkini di NTT

0
360
Robert sedang memaparkan visinya dalam kesempatan dialog dengan para frater di Seminari Tinggi Ritapiret, Maumere, Selasa 26 September 2017. (Foto: dok)

Maumere, Floresa.co -Robert Soter Marut, salah satu calon gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) menepati janjinya untuk kembali ke Seminari Tinggi Ritapiret di Maumere untuk berdiskusi dengan anggota komunitas lembaga pendidikan calon imam itu.

Pada Selasa, 26 September 2017, ia hadir dalam dialog di aula seminari, yang dihadiri lima imam dan 317 frater.

Dalam kesempatan itu, RSM, sebutan populernya, memaparkan visi dan misi.

Dialog tersebut yang semestinya berlangsung siang hari ditunda ke sore hari, karena Robert baru tiba dari Kupang pada siang hari. Di Kupang, agenda Robert adalah menemui Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDI Perjuangan untuk memantapkan langkahnya maju dalam Pilgub NTT tahun depan.

BACA JUGA: Robert Marut Sambangi Uskup Maumere

“Ya, ini tertunda sedikit, karena kemarin saya ada jadwal di DPD PDI Perjuangan di Kupang yang tidak bisa saya tinggalkan. Makanya, acara di Ritapiret agak mundur sedikit,” katanya.

Dialog berlangsung menarik, karena setelah memaparkan visi dan misi, RSM mendapat begitu banyak pertanyaan kritis dari peserta.

Mereka antara lain menanyakan pendapat RSM tentang sejumlah isu terkini di NTT, di antaranya terkait perbatasan antara Kabupaten Manggarai Timur dan Ngada, polemik Pantai Pede di Labuan Bajo, Manggarai Barat dan korupsi.

Terkait masalah perbatasan, Robert mengatakan, sengketa wilayah administrasi tidak menjadikan hubungan kekerabatan masyarakat di wilayah perbatasan menjadi terancam putus.

“Biarkan itu diselesaikan dengan jernih oleh pemerintah, dengan tidak mengganggu aktivitas masyaraka sekitar,” katanya.

“Yang rugi kan masyarakat juga kalau itu berlarut dan tidak ada kesepakatan di tingkat pemerintah, baik di propinsi maupun di antara kedua kabupaten tetangga tersebut. Kasihan masyarakat. Kalau tidak segera diselesaikan masyarakat yang akan terkena dampaknya,” tambahya.

Mengenai masalah Pantai Pede, secara gamblang Robert mengatakan bahwa biarkan provinsi melakukan fungsi monitoring, pengawasan dan penyelesaian sengketa itu.

Para frater yang ikut dalam dialog dengan calon gubernur NTT, Robert Soter Marut. (Foto: dok)

“Semua harus sesuai aturan yang berlaku dan tidak ada pihak yang melanggar,” katanya.

Mengenai kiat  menumpas korupsi yang dilaporkan marak terjadi di NTT, Robert dengan tegas mengatakan, hal itu sangat tergantung dari komitmen individu.

“Saya ambil contoh, waktu saya di TNI AU, begitu banyak godaan yang datang, tapi kalau kita tidak bergeming, maka tidak akan terjadi korupsi,” kata purnawirawan TNI AU ini.

“Jadi kembali ke hati nurani. Saya sangat miris mendengar begitu banyak isu korupsi. Kita tetap percayakan kepada penegak hukum,” katanya.

Robert menjelaskan, di belahan Eropa yang mayoritas kristen, korupsinya sangat sedikit.

“Ini berbanding terbalik dengan NTT yang mayoritas Kristen, namun korupsi juga tidak mau kalah, mayoritas juga,” katanya yang disambut tawa peserta diskusi. (ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini