Bertahun-tahun Didera Krisis Air, Paroki Pacar Berharap Pemkab Mabar Turun Tangan

1
496
Dua orang anak perempuan tampak membawa jerigen berisi air untuk memenuhi kebutuhan di pastoran Paroki St Nikolaus Pacar. (Foto" dok.)

Floresa.co – Paroki St. Nikolaus Pacar, Keuskupan Ruteng yang masuk dalam wilayah Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) sudah lama mengalami krisis air untuk kebutuhan sehari-hari.

Hal tersebut disampaikan oleh Pastor Paroki, Rm Kosmas Hariman Pr kepada Floresa.co, Kamis, 21 September 2017.

Menurutnya, masalah ini sudah terjadi bertahun-tahun, yang tidak hanya dirasakan oleh umat, tetapi juga oleh dirinya di pastoran.

Untuk kebutuhan sehari-hari di pastoran, kata dia, air minum diambil dengan menggunakan jerigen dari sumber mata air terdekat, yang jaraknya satu kilometer.

“Biasanya diambil pakai jerigen oleh karyawati bersama 3 anak yang tinggal di pastoran. Terkadang dibantu anak sekolah SDK Pacar, kebetulan letak sekolah dekat dengan pastoran,” ujarnya.

Kadang juga, kata dia, mereka meminta air di sumur milik umat.

Akibat krisis ini, jelasnya, air di beberapa toilet di sekitar pastoran, khususnya yang disediakan untuk umat menjadi susah dipakai.

Romo Kosmas menceritakan, dahulu, pastoran cukup mudah mendapatkan air dari sebuah sumur yang terletak di depan gereja.

Sumur itu merupakan hasil karya Pater Allan Geogegan SVD tahun 1986 silam. Sayangnya, kata imam yang sudah tiga tahun berkarya di Pacar ini, sumur itu sudah tidak berfungsi.

Ia menambahkan, dirinya pernah menyampaikan masalah ini kepada Pemkab Mabar melalui dewan paroki.

Memang, kata dia, permintaan itu langsung direspon secara verbal, dengan janji akan membuat sumur bor untuk paroki.

“Namun, janji itu tidak terrealisasi. Ya, mungkin karena (terkait masalah) politik,” katanya.

Krisis air di Pacar, menurut Romo Kosmas, bukan karena kekurangan debit air, tetapi akses mendapatkan air yang menjadi masalah utama.

Sebelumnya, kata dia, sebuah proyek air yang berpusat di paroki sudah pernah dibuat.

Namun, karena salurannya rusak, kini air hanya digunakan oleh segelintir kepala keluarga.

“Padahal, awalnya direncanakan proyek air itu berpusat di paroki, lalu dialirkan ke umat” tambahnya.

Di balik persoalan ini, Romo Kosmas berharap adanya respon cepat dari Pemkab Mabar.

Salah satunya, kata dia, dengan cara menata kembali proyek air sebelumnya yang berpusat di paroki.

Ia juga berharap, jika akses air sudah ditata kembali, perangkat desa mesti menindak tegas terhadap oknum-oknum yang kerap merusak pipa-pipa air, baik yang tertuju ke rumah umat maupun paroki.

Natalia, salah satu umat Paroki Pacar membenarkan krisis air yang berkepanjangan di wilayah mereka.

“Ini sudah dari dulu,” katanya.

Valentinus, umat lain mengatakan, karena masalah ini sudah berlarut-larut, mereka pun memilih pasrah pada keadaan.

Untuk kebutuhan sehari-hari, kata dia, keluarganya mengambil air dari mata air yang berada cukup jauh dari rumahnya.

“Kami timba air di sumber mata air yang letak di salah satu persawahan kami,” ujarnya. (Roby/ARL/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

1 Komentar

  1. Memang bukan soal debit air yg kurang. Persoalannya adalah siapa mau dengar siapa. . . .

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini