Fransiskus Ramli. (Foto: Ist)

FLROESA.CO – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Manggarai memprotes penutupan penggalian  pasir atau Galian C di Wae Reno Desa Ranaka Kecamatan Wae Rii Kabupaten Manggarai,NTT.

Penutupan itu dilakukan oleh Satuan Reserese dan Kriminal Polres Manggarai  pada Jumat 18 Agutus 2017 lalu.

Penutupan penambangan galian mineral bukan logam (galian c) tersebut diduga karena para penambang tidak mengantongi surat izin. UU yang dipakai yakni UU RI No. 4 Tahun 2009 tentang Minerba jo UU RI No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

“Pada satu sisi kita patut mengapresiasi dan menghormati langkah yang diambil Satreskrim Polres Manggarai untuk melakukan penyelidikan/penyidikan atas kasus tersebut. Namun pada sisi yang lain penutupan tambang Galian C Wae Reno hendaknya mempertimbangkan juga aspek keadilan dan kemanfaatan,”ujar Fransiskus Ramli, Sekretaris Apindo Manggarai dalam keterangan yang diterima Floresa.co, Senin 28 Agustus 2017.

Menurut pria yang juga menjadi Direktur LBH Manggarai ini, dari sisi keadilan, mestinya Kepolisian juga menutup sejumlah galian pasir lainnya yang ada di Manggarai bila terbukti juga tidak mengantongi izin.

“Saya tidak tahu persis, apakah tambang di Bondo, Wae Lengkas, Nteer, Lelak, Lalong, dan lain-lain itu sudah punya izin atau tidak. Jika tidak punya izin, ya, sekalian saja ditutup, supaya adil,”ujarnya.

Sebab,menurutnya, jika tidak ditutup akan timbul pertanyaan di tengah masyarakat mengapa hanya Galian C Wae Reno yang ditutup? Mengapa Bondo, Wae Lengkas, Nteer, Lelak, Lalong dan lain-lain tidak ditutup?

Dari sisi kemanfaatan, menurut pria yang dipanggil Frans ini, penutupan galian pasiar Wae Reno mengganggu roda perekonimian  di Manggarai.

“Saya memperkirakan banyak pihak yang terkena dampak langsung maupun tidak langsung dari penutupan Galian C Wae Reno di antaranya para pekerja, keluarga pekerja, sopir dump truck, pemilik dump truck/alat berat, kontraktor, pengusaha, masyarakat bahkan pemerintah itu sendiri,”tandasnya.

Menurutnya, sopir truk yang biasanya mengantar pasir bangunan ke proyek-proyek, pengusaha batako dan orang yang memerlukan bahan baku pasir untuk bahan bangunan tidak bekerja lagi setelah penutupan Galian C Wae Reno.

“Bingung mereka bagaimana mencari biaya hidup untuk anak istri, belum lagi kalau ada pinjaman sana-sini,”ujarnya.

Para pengusaha batako, kata dia, saat ini  hanya menunggu untuk menghabiskan stok yang ada.

Dan para pemilik toko bangunan dalam waktu yang tidak terlalu lama besar kemungkinan akan sepi.

BACA Juga:Pembangunan Infrastruktur di Manggarai Terhambat Pasca Penutupan Galian Pasir Wae Reno

“Sederhana saja, untuk apa beli besi beton, semen, dan lain-lain kalau pasirnya tidak ada?

Selain itu, orang yang mau bikin rumah juga tertunda, kecuali mau merogoh kantong sakunya lebih dalam lagi untuk membeli pasir dari tempat yang lebih jauh,”ujarnya. (PT/Floresa)