Lawatan adat Suku Suka Rato ke Suku Motu Poso di Watunggong, Kisol Kamis 24 Agustus 2017 (Foto:Frumen)

FLORESA.CO – Keprihatinan akan merosotnya nilai-nilai kearifan lokal dan rapuhnya norma-norma adat di wilayah Rongga, Manggarai Timur bagian selatan mendorong suku Suka Rato melakukan lawatan adat ke rumah adat  suku Motu Poso di Watunggong, Kisol, Kamis 24 Agustus 2017. Ritual lawatan adat ini dikenal dengan nama ritual Dheke sa’o.

Dalam kunjungan itu, Kepala Suku Suka Rato, Mateus Weweng dan keluarga besar disambut gembira keluarga besar Motu Poso dengan dua ritual adat penting. Ritual adat pertama yang dilakukan adalah sundu atau penyambutan yang selanjutnya dikukuhkan melalui ritual dan pembasuhan darah ayam sebagai simbol relasi kekerabatan selaku pemberi gadis (ana haki) dan penerima gadis (ana fai).

Relasi kekerabatan ana haki dan ana fai inilah yang menjadi dasar hibah tanah kepada suku Motu Poso. Untuk mempertegas kedudukan suku Motu Poso, dilakukan ritual Dheke Sa’o.

Suku Suka Rato selakuu suku tertua sekaligus penguasa adat tanah tertinggi di wilayah Manggarai Timur bagian selatan menegaskan bahwa kekuasaan ulayat tidak diperoleh melalui pemilihan atau proses demokrasi, tetapi atas dasar kelahiran dan keturunan. Suku Motu Poso mendapat kekuasaan itu dengan perantaraan suku Suka-Kelok selaku penerima gadis.

“Awalnya kami hanya menyebut Motu, tetapi Motu yang mana? Dari situ kami tau bahwa Motu yang sesungguhnya punya relasi kekerabatan dengan kami adalah Motu Poso,”ujar Mateus Weweng tetua Suku Suka Rato.

“Menurut cerita yang diwariskan secara  turun temurun, leluhur kami bernama Nggai dipersunting pemuda Kelok bernama Tung. Tung memperanak Mbarang, Weka, dan Nggawang. Weka selanjutnya mempersunting gadis Motu Poso bernama Nau. Dari perkawinan mereka lahirlah Epa yang dikenal sebagai penguasa ulayat Motu Poso,” kata jelas Mateus Weweng.

Kasianus Kaja selaku Pemangku Ulayat Motu Poso membenarkan hal itu. “Secara geneologis memang Bapak Epa, ayah kandung saya berdarah Suka-Kelok, tetapi karena ia lahir sebagai anak sulung lelaki maka Bapa Epa secara adat masuk dan dimateraikan sebagai suku Motu Poso,”ujarnya..

Usai membentang sejarah dan mengurai benang merah sejarah itu Kasianus Kaja mengajak Suku Suka Rato dan segenap undangan yang hadir untuk mengikuti acara syukuran atau bhama wa’e atas masuknya air minum bersih yang dikelola PDAM Manggarai Timur.

Acara yang dihadiri beberapa instansi pemerintah dan Kapolsek Kota Komba ini digelar meriah dengan suguhan atraksi adat dhandhi mezhe. Menurut Kasianus Kaja, ritual bhama wa’e sudah mulai hilang di Tanah Rongga. Karena itu, ia ingin mengajak masyarakat di wilayah Motu Poso menghadirkan kembali sekaligus memperkenalkan hal itu kepada generasi muda.

Pada kesempatan yang sama Petrus Sambut selaku generasi penerus Motu Poso menegaskan bahwa, acara bhama wa’e sama halnya dengan ritual barong wae dalam tradisi Manggarai. “Ritual ini mengingatkan kita bahwa isu konservasi alam yang dicanangkan pemerintah sesungguhnya sudah dimulai oleh para leluhur kita.  Alangkah baiknya jika hal ini kita lestarikan  dan kita rawat bersama tradisi ini,,” kata mantan jurnalis yang menetap di Jakarta ini.

Kunjungan suku Suka Rato kali ini merupakan  kunjungan pertama pasca kekisruan terkait kekuasaan ulayat di wilayah Rongga. Diharapakan kunjungan itu bisa menghentikan segala kontroversi terkait kekuasaan tanah di wilayah Rongga. (Frumen Hemat/Floresa)