Peserta penyuluhan HIV/AIDS di Paroki Nanu, Keuskupan Ruteng. (Foto: dok.)

Floresa.co – Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Manggarai mengajak warga untuk membangun pola hidup sehat terutama dalam keluarga agar terhindar dari penyakit berbahaya seperti HIV/AIDS.

Pemahaman yang benar dan kewaspadaan terhadap penularan penyakit itu perlu ditingkatkan mengingat jumlah kasusnya terus meningkat.

Bonifasius Mardianus, pengelola program pada KPA Kabupaten Manggarai mengatakan, sejak 2005 hingga Desember 2016, terdeteksi 157 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Manggarai.

Ia menambahkan, sangat mungkin ada banyak kasus yang belum terdeksi dan karena itu faktanya bisa lebih banyak.

“Dalam kaitan dengan jumlah kasus itu, ada yang kita sebut dengan fenomena gunung es. Yang muncul ke permukaan itu yang sedikit. Tetapi sesungguhnya banyak kasus yang tidak terdeteksi sehingga angka kasus yang sesungguhnya lebih besar,” jelas Boni.

Penyebaran kasus-kasus HIV/AIDS di Manggarai, lanjut Boni, sudah mencapai desa-desa, menyerang ibu rumah tangga yang perilaku hariannya tidak berisiko, dan media penularannya makin beragam.

“Jadi, bisa diperkirakan peningkatan jumlah kasus ke depan akan terus bertambah jika tidak diintervensi terus-menerus,” tegasnya.

Hingga kini, KPA melakukan berbagai kegiatan untuk menanggulangi penyebaran penyakit berbahaya itu, termasuk melakukan kampanye tentang perilaku hidup sehat dan aman.

Melalui sosialisasi itu, kata dia, masyarakat diharapkan memiliki pemahaman yang tepat tentang penyakit-penyakit berbahaya.

Pada Jumat 28 Juli 2017, mereka melakukan penyuluhan di Paroki Nanu, bekerja sama dengan Komisi Kesehatan Keuskupan Ruteng dan Perdakhi.

Sebanyak 30 peserta hadir dalam kegiatan selama setengah hari itu.

Sr. Margaretha, FSGM, pengelola program penanggulangan HIV/AIDS Perdhaki berharap, penyuluhan seperti ini terus digalakan agar masyarakat di Kabupaten Manggarai dan Keuskupan Ruteng mengenal penyakit berbahaya.

“Saya menargetkan sampai 70% wilayah Keuskupan Ruteng dapat terjangkau dengan kegiatan penyuluhan. Selain itu, para peserta juga diharapkan dapat melanjutkan informasi yang tepat kepada kepada sesama. Misalnya, seorang peserta memberi pemahaman kepada 10 orang lain,” kata Sr. Margaretha, FSGM.

Ia menjelaskan, penanggulangan penyebaran dan bahaya HIV AIDS perlu melibatkan banyak pihak, seperti pemerintah, Gereja, lembaga-lembaga swadaya masyarakat, dan orang secara pribadi.

“Ini bukan pekerjaan pribadi saya. Semua mesti bertanggung jawab terhadap kesehatan keluarga dan masyarakat. Tidak hanya Gereja dan pemerintah, masyarakat juga perlu aktif terlibat,” pungkasnya. (Ferdinand Ambo/ARL)