Jashinta Hamboer. (Foto: dok)

Floresa.co – Polemik di Keuskupan Ruteng yang memanas setelah pada pertengahan Juni puluhan imam melakukan aksi protes kepada Mgr Hubertus Leteng Pr, menuai keperihatinan di kalangan umat.

Sudah sebulan lebih kasus ini mencuat ke ruang publik, namun belum ada upaya konkret untuk segera mengakhirinya. Sementara itu, masih terus berseliweran banyak cerita soal Uskup Leteng.

Alih-alih mengambil upaya mencari solusi, menjernikan soal untuk menenangkan situasi, Uskup Leteng hingga kini masih terus memilih tutup mulut.

Beberapa waktu terakhir, sejumlah imam yang pro terhadapnya, malah “menyerang” kelompok kontra, dengan menuding bahwa ada maksud tersembunyi di balik upaya  menbongkar tudingan skandal uskup. Adapula imam yang menakut-nakuti umat untuk tidak membicarakan masalah ini.

Di sisi lain, sejumlah soal substantif dalam polemik ini, antara lain soal peruntukkan dana miliaran yang diambil uskup dari kas Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan dari khas Keuskupan Ruteng masih simpang siur.

Bersamaan dengan itu, masih ramai juga tudingan bahwa uang itu diperuntukkan bagi anak angkatnya, yang dikenal dengan banyak nama. Tudingan itu, diperkuat dengan munculnya sejumlah kesaksian, termasuk foto yang memperlihatkan kedekatan  Uskup Leteng dengan anak angkat itu.

BACA JUGA:

Kecewa dengan Uskup Ruteng,  Puluhan Imam Nyatakan Undur Diri dari Jabatan

Uskup Ruteng Tanggapi Desakan Para Imam

Tuntutan Para Awam: Uskup Ruteng Mundur atau Dimundurkan

Media Vatikan Publikasi Berita Terkait Polemik di Keuskupan Ruteng

Ancaman Imam Pro Uskup Ruteng: Hati-hati, Hina Uskup Bakal Dikutuk

Merasa miris dengan situasi ini, sejumlah umat menyampaikan suara keprihatinan terhadap uskup dan kondisi keuskupan.

Ibu Jashinta Hamboer, tokoh perempuan yang keluarganya memiliki kedekatan dengan perjalanan sejarah Gereja Katolik Manggarai, salah satu yang memutuskan memilih menulis surat.

Surat itu yang menurutnya ditulis sambil berderai air mata, sudah ia kirimkan langsung ke Uskup Leteng pada Selasa, 25 Juli melalui layanan berbagi pesan Whats App.

Meski sudah dibaca Uskup Leteng, namun kata Ibu Jashinta, hingga kini, ia tidak mendapat balasan apapun.

Floresa.co mendapat salinan surat itu dan atas persetujuan Ibu Jashinta mempublikasinya secara utuh di sini:


SURAT DOMBA KEPADA GEMBALA

Labuan  Bajo, 25 Juli 2017

Tabe Bapa Uskup Hubert Leteng,

Semoga Ite (Yang Mulia-red) sehat lahir dan batin. Perkenankan saya memperkenalkan diri. Saya Jashinta Hamboer, anak dari Bapa Carolus Hamboer.

Neka rabo Ite (Maaf Yang Mulia). Akhir-akhir ini berita miring tentang bapa uskup memenuhi media sosial hampir tanpa henti. Terkait hal-hal itu, saya terusik, terganggu dan tersinggung. Bagaimana mungkin itu semua bisa terjadi pada bapa uskup?

Pada tahun 1920-an, opa dan oma saya (Guru Wowor & Nyora Wowor) meninggalkan Manado, berangkat ke Manggarai. Mereka menjadi guru Katolik bagi Gereja awal di Manggarai.

Pada saat itu, belum ada biara suster-suster yang mengurus dan membantu imam dalam pelayanan menggereja. Karena itu, sambil opa saya mengajar Agama Katolik dan budaya bagi orang Manggarai, oma dan mama saya bekerja melayani Gereja, mulai dari  mencuci peralatan misa (taplak altar, pakaian/jubah pastor) di Kali Wae Locak sampai memasak makanan dan minuman bagi para pastor.

Semua itu mereka lakukan dengan sepenuh hati, tulus dan ikhlas. Tak ada bayaran sedikit pun. Dalam keluarga, kami pun diajarkan untuk menghormati para imam, apalagi bapa uskup, harus dihormati dan diletakkan di atas kepala. Karena, hanya melalui para imam termasuk bapa uskup, umat dapat menerima Yesus Kristus, Juru Selamat dalam Ekaristi.

Karena itu, sebagai orang Katolik, kami – termasuk leluhur kami, tidak rela bila bapa uskup tak berdaya pada tuntutan anak angkat, yang kami kenal dengan nama Decinta Sayang, yang terus memperkaya diri di tengah kemiskinan umat Keuskupan Ruteng. 

Neka rabo. Sepertinya harkat, martabat, dan derajat Bapa Uskup sudah hancur gara-gara anak angkat ini.

Sebagai anggota umat dan seorang ibu, siang malam saya berdoa agar tragedi ini segera tamat. Semoga Tuhan Allah segera berkarya dan menyelamatkan Keuskupan Ruteng.

Bapa Uskup, sepertinya foto-foto dan kicauan tentang Ite dan anak angkat di media sosial semakin ganas. Sebuah foto Ite berdua dengan Decinta di taman istana Keuskupan Ruteng sungguh membuat saya terusik dan terluka.

Foto Mgr Hubertus Leteng bersama anak angkatnya, yang dikenal dengan nama Decinta. (Foto: Ist)

Foto ini sarat makna dan menghabiskan banyak waktu saya untuk mengamatinya berulang-ulang. Makna pertama, saya melihat foto ini adalah foto seorang ayah dan anak yang harmonis dalam wajah yang sangat mirip. Makna kedua, saya melihat ini adalah foto dua sejoli yang sedang bergejolak dalam cinta yang panas menggebu. Sayang sekali, saya tidak temukan makna bahwa foto ini adalah foto gembala bersama dombanya.

Bapa Uskup, jabatan dite sebagai uskup saya letakkan di atas kepala saya, melebihi hormat saya kepada orangtua saya. Pasti Ite mendapat jabatan ini karena doa Ende Ema Dite (Bapa dan Mama Yang Mulia) yang luar biasa. Jadi, jangan sia-siakan pengorbanan Dise (mereka).

Kembali ke anak angkat. Ite pasti masih ingat Suster Virgula, Pater Kalle Bale, Pater Gudi yang dengan penuh kasih memberi hidup kepada anak yatim piatu dan anak-anak cacat miskin papa di pelosok tanah Manggarai. Bagaimana mungkin Ite mengangkat anak seorang perempuan dewasa dengan titel S2 dokter SPOG, S2 Hukum, pelatih karate, pengusaha restoran, dan lain-lain?

Sayang Decinta Devada Panjaitan, Citra Denada Panjaitan, Dokter Sayang, Intan Diamon adalah orang yang sama dengan berbagai alias. Orang yang punya banyak nama alias biasanya sangat dekat dengan kriminalitas.

Neka rabo Bapa Uskup daku. (Mohon Maaf Uskupku). Saya TIDAK rela Ite diperas habis-habisan oleh perempuan ini, sementara umat Dite di Keuskupan Ruteng banyak yang masih melarat.

Sekarang ada lagi anak angkat Dite, yang disebut-sebut namanya si Boy. Dari mana lagi Boy ini? Biaya sekolah pilot di Amerika Serikat dan harga sepatu pilot Rp 200 juta yang fantastis dapat menghidupi ratusan anak dan keluarga Manggarai di bawah pimpinan Dite.

Neka keta rabo Bapa Uskup daku. Saya harus jujur menyampaikan ini semua. Sejak kasus anak angkat ini mencuat, banyak anggota umat di Keuskupan Ruteng merasa bahwa mengikuti Misa yang Ite bawakan sudah tidak terasa ada aura Roh Kudus. Datar, kosong, tanpa emosi.

Ite menjadi topik negatif di media sosial dan banyak kelompok WA. Hati saya miris dan prihatin. Saya kira Ite juga lelah harus bersandiwara menjadi aktor di Altar Tuhan memimpin Ekaristi, mentahbiskan imam-imam di balik jubah suci uskup.

Berita kasus Dite sudah mendunia, menjadi konsumsi publik, dari tukang ojek sampai eksekutif, biarawan-biarawati dan umat. Tetapi, Ite tetap acuh tak acuh, bergeming seperti tembok tebal.

Ite rela mengorbankan para imam yang mengabdi tulus dalam keprihatinan di kampung-kampung di medan yang berat. Kolekte dan iuran mandiri hasil keringat berdarah-darah dari umat Dite mengalir deras untuk mendukung hidup glamour anak angkat, Decinta.

Bapa Uskup daku, kenapa Ite begitu tega? Keagungan Yubileum Agung 100 tahun lebih Gereja Katolik di Manggarai akan runtuh dan hancur begitu saja. Ironisnya kehancuran itu karena Yang Mulia Uskup Ruteng, Mgr Hubertus Leteng tak kuasa mengendalikan keinginan daging.

Kalau sebagai manusia Ite tak kuasa mengendalikan nafsu kedagingan, segera letakkan jabatan uskup dan menikahlah. Saya bisa mengerti dan paham.

Saya terpaksa sampaikan seruan hati ini dengan sakit hati dan  air mata yang tak berhenti. Kasus Dite ini sangat spektakuler, mendunia. Rasanya belum ada yang seperti ini di dunia.

Jangan sampai orang memandang Ite seperti mayat yang dihias dan didandani luarnya dengan jubah kebesaran yang indah, tapi di dalamnya sedang perlahan-lahan membusuk.

Bapa Uskup, Ini semua saya sampaikan dengan jujur karena saya menghormati dan menyayangi imamat Dite. Terakhir, saya rindu menunggu keputusan Dite secara gentle dan elegan, serta  dengan besar hati segera meletakkan jabatan Uskup Ruteng agar penderitaan Gereja dan umat Keuskupan Ruteng segera berakhir. 

Apa kata dunia bila Keuskupan Ruteng, penghasil panggilan terbesar, ternyata mempunyai uskup yang menyalahgunakan uang keuskupan akibat rela menjadi mesin ATM dari anak angkatnya? Kami siap membantu Ite.

Mari Bapa Uskup. Kita semua lelah. Segera letakkan jabatan uskup dan keluarlah dengan kepala tegak, tak perlu tunggu pemecatan dari Vatikan. 

Tabe

Seorang dombamu,

Jashinta Hamboer

(ARL/Floresa)