Boni Hargens bersama jajaran kuasa hukumnya saat konferensi pers terkait tuduhan sakaw atas dirinya di Kartika & Resto, Jakarta Pusat, Selasa, 12 Juli 2017.

Jakarta, Floresa.co – Forum Pengacara Kesatuan Tanah Air (FAKTA) selaku kuasa hukum Boni Hargens datangi Bareskrim Polri di Jakarta Pusat, Senin, 24 Juli 2017 untuk mencabut laporan terhadap 300 akun yang menuding pengamat politik asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu sakau saat acara di TV One pada 10 Juli lalu.

“Kami dari Forum Pengacara Kesatuan Tanah Air (FAKTA), kuasa hukum dari Boni Hargens, secara resmi melakukan pencabutan (laporan) kepada Bareskrim Mabes Polri atas dugaan fitnah yang dilakukan oleh 300 akun kepada Boni Hargens dan diterima resmi juga oleh bareskrim. Tinggal nantinya koordinasi lebih lanjut ke tim cyber secara teknis tapi laporan resmi sudah kita serahkan,” ujar Mukhlis Ramlan, wakil presiden FAKTA kepada awak media.

Mukhlis menambahkan, pilihan Boni membuat surat laporan bernomor 020/Boni-H/FAKTA/VII/2017 itu karena beberapa pertimbangan, terutama kondisi pelaku.

“Bang Boni sampaikan, kita mau lanjutkan, (tapi) ada beberapa orang yang secara kehidupan ekonominya menderita. Kasihan (mereka), tetapi ikut terbawa oleh suasana yang seperti itu. Ya, sudah kata Bang Boni, ‘kita maafkan saja’.”

“Tidak ada manfaatnya. (Hanya) menambah penderitaan bangsa ini,” ujar Mukhlis menyambung alasan Boni.

Namun, kepada siapa pun yang mengulagi perbuatan tersebut, akan ditindak tegas. “Ini menjadi catatan. Kalau terjadi hal serupa, tidak akan ada ampun lagi,” lanjut Muklis.

Selain itu, lanjut Muklis, FAKTA siap berperang melawa fitnah di media sosial dengan membuka posko pengaduan kepada korban.

“Ke depan (FAKTA) akan membuka posko pengaduan kepada siapapun yang difitnah melalui media sosial untuk melapor ke fakta dan akan kita dampingi secara maksimal secara serius agar berita-berita hoax dan fitnah seperti ini sudah harus diakhiri,” ujarnya.

Sebelumnya, pada Minggu 23 Juli 2017, Boni menyebutkan alasan dirinya mencabut laporan tersebut. Pertama, pihaknya memaafkan pemilik akun tersebut dengan sadar dan iklas sebagai bentuk pembelajaran sosial bahwa setiap orang harus berjiwa besar untuk saling memaafkan.

“Meskipun kami tidak melupakan kejahatan para pelaku namun kami tetap berharap para pelaku menyadari bahwa fitnah adalah bentuk terburuk dari perikemanusiaan kita,” jelasnya.

Kedua, kata Boni, dengan memaafkan pelaku, dia ingin mengajak setiap seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama membudayakan cara berpikir positif. Menurut dia, bangsa ini hanya bisa maju kalau setiap warga negaranya berani berpikir dan bertindak positif dalam segala hal.

“Ketiga, kami ingin memastikan pada publik bahwa meski difitnah, kami tetap tegar dan pantang mundur memperjuangkan keadilan dan kebenaran di negeri ini,” pungkas Boni. (ARJ/Floresa).