Ilustrasi

Ruteng,Floresa.co – Sejumlah warga di Desa Golo Lanak Kecamatan Cibal Barat Kabupaten Manggarai, NTT mempertanyakan pengelolaan dana desa oleh kepala desa Sebastianus Mbaik.Selama ini, untuk proyek fisik dari dana desa, kepala desa membelanjakan sendiri semua material. Warga mencurigai ada praktik penggelembungan harga alias mark-up.

Tahun 2017 ini, total dana desa di Golo Lanak sebanyak Rp 1,255 miliar. Dari dana tersebut, sesuai aturan, sebanyak 70 persen untuk belanja pembangunan di desa dan sisa 30 persen untuk belanja operasional pemerintahan.

Ada pun belanja pembangunan pada tahun 2017 ini adalah pembangunan rabat di dua lokasi yaitu di SDI Wae Namut dan di kampung Pedeng. Kemudian, pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) di dusun Gurung II. Selain tiga proyek fisik itu, tahun ini pemerintah desa Golo Lanak juga memberikan bantuan rumah tidak layak huni sebanyak 24 unit.

Untuk proyek rabat di SDI Wae Namut sepanjang 138 meter, dikerjakan sendiri oleh sejumlah aparat desa termasuk kepala desa. Masyarakat tidak mengetahui berapa anaggaran untuk proyek tersebut karena tidak ada papan informasi dan dokumen proyek yang dipublikasikan ke masyarakat.

Baca:Pengelolaan Dana Desa di Golo Lanak, Cibal Barat: Kepala Desa dan Aparat Kerja Proyek

Belanja Material Diduga Mark-Up

Sedangkan proyek rabat di kampung Pedeng memang dikerjakan oleh masyarakat, tetapi semua belanja material dilakukan oleh kepala desa. Proyek dengan panjang 126 meter ini memiliki anggaran sebanyak Rp 105.092.000. Proyek ini berlangsung dari 28 Juni 2017 hingga awal Juli 2017.

Menurut pengakuan seorang warga di Pedeng, total belanja material dalam RAB proyek mencapai Rp 70.572.722,46. Kemudian, belanja peralatan mencapai Rp 8.400.000, belanja tenaga kerja (HOK) Rp 14.331.000. Kemudian ada belanja papan proyek sebesar Rp 250.000. Tetapi anehnya di lokasi proyek tidak ditemukan adanya papan informasi proyek.

Dengan demikian, total belanja material dan biaya tenaga kerja dalam proyek rabat di kampung Pedeng ini mencapai Rp 93.553.722,46. Masih ada selisih Rp 11.538.277,54 dibandingkan anggaran proyek. Disebutkan bahwa, selisih di luar belanja material dan tenaga kerja itu utuk bayar pajak PPN dan PPh.

Warga tersebut memerincikan belanja material yang dilakukan kepala desa. Untuk semen sebanyak 415 sak dengan harga per sak sebesar Rp 65.000. Total anggaran belanja semen mencapai Rp 26.975.000.

Sementara harga semen yang biasnaya dibeli masyarkat sekitar Rp 50.000 sampai Rp 55.000 per sak termasuk biaya angkut ke kampung. Dengan demikian, ada penggelembungan atau mark up sekitar Rp 4.150.000 hingga Rp 6.225.000 untuk semen.

Kemudian, pasir sebanyak 42,37 meter kubik dengan harga yang dianggarkan sebesar Rp 359.000, sehingga total anggaran mencapai Rp 15.210.830.

Batu belah sebanyak 40,80 meter kubik dengan anggaran harga 284.000 per meter kubuk. Jadi total anggaran belanja batu belah oleh Kepala Desa mencapai Rp 11.496.320.

Kemudian, belanja batu krikil alam sebanyak 29,99 meter kubik dengan anggaran harga 359.600 per meter kubik. Dengan demikian, total anggaran belanja untuk batu kerikil alam mencapai Rp 10.784.404.

“Bahan-bahan pengadaannya semua oleh kepala desa,”ujar seorang warga kepada Floresa.co, Rabu 19 Juli 2017.

Terkait harga batu,menurut pengakuan warga tersebut, harga riil yang dibeli ke masyarakat hanya 400.000 per satu kali pengangkutan dengan mobil truk. “Sementara satu oto (mobil) biasanya mengangkut tiga kubik,”ujarnya.

Dengan demikian, bila satu truk mengangkut tiga kubik batu krikil alam misalnya,maka hanya membutuhkan 10 rit atau 10 kali angkut untuk 29,99 meter kubik batu krikil alam. Batu krikil alam satu truk hanya dihargai sebesar Rp 400.000. Dengan demikian, total harga yang dibayarkan ke warga pemilik batu krikil alam hanya sekitar Rp 3.998.666,67. Sementara yang dianggarkan kepala desa dalam RAB proyek untuk batu krikil alam adalah Rp 10.784.404, atau ada selisih Rp 6.785.737,33 untuk anggaran batu krikil alam.

Demikian juga dengan batu belah dimana kebutuhannya sebesar 40.8 meter kubik. Tetapi pembeliannya bukan per meter kubik, melainkan per satu truk. Jika dalam satu truk (oto) beriisi tiga kubik batu belah, maka jumlah rit yang dibutuhkan untuk mengakut batu 40,8 meter kubik adalah 13,6 rit. Harga per satu truk batu sebesar Rp 400.000. Dengan demikian total dana yang dikeluarkan hanya Rp 5.440.000. Padahal anggaran beli batu belah dalam RAB sebanyak  Rp 11.496.320. Jadi, ada selisih Rp 6.056.320 untuk batu belah.

Jadi, dengan menggunakan perhitungan yang kasar saja, untuk semen, batu krikil alam dan batu belah sudah ada penggelembungan atau mark up sebesar Rp 19.067.057,33.

Belum lagi belanja material lainnya. Warga di Pedeng mengatakan, selain semen, pasir, batu krikil dan batu belah, kepala desa juga menganggarkan dana untuk belanja air. Menurut warga kampung Pedeng tersebut, anggaran beli air sebanyak Rp 5.147.000. Kemudian,  ada juga belanja beli papan sebanyak 20 lembar dengan harga Rp 40.000 per lembar atau mencapai Rp 800.000.

Kepala desa juga membelanjakan skop campur sebanyak 2 buah dengan harga Rp 80.000 per buah. Kemudian, ember sebanyak 19 buah dengan harga per buah Rp 20.000. “Tetapi di lapangan hanya dua saja ember,”ujarnya. Dengan demikian, ada 17 ember yang tidak dibelanjakan atau setara dengan Rp 340.000.

Ada juga belanja senar sebanyak dua roll dengan harga Rp 30.000, linggis satu buah dengan harga Rp 100.000. “Yang kami pertanyakan juga belanja grobak sebanyak empat buah seharga Rp 540.000. Tetapi barangnya kemudian menjadi inventaris desa. Kalau jadi invetaris desa mengapa menggunakan dana dari proyek di Pedeng ini?”ujar warga tersebut.

Kemudian, kepala desa juga membelajakan fiber untuk menampung air sebanyak tiga buah seharga Rp 1.700.000 per buah sehingga total mencapai Rp 5.100.000. Warga juga mempertanyakan belanja fiber ini, karena di Pedeng sudah ada fiber yang bisa dipinjamkan.

“Di Pedeng ada fiber, tetapi kepala desa beli lagi untuk tampung air. Itu jadi persoalan, harusnya uang untuk fiber itu digunakan untuk hal lain,”ujar warga tersebut.

Floresa.co sudah berusaha menghubungi Kepala Desa Sebastianus Mbaik melalui telepon selulernya. Tetapi telepon tidak diangkat dan pesan singkat tidak dibalas. (Ronald/PTD/Floresa)