Ilustrasi

Floresa.co – Rm John Mustaram, Pastor Paroki Borong, Keuskupan Ruteng baru-baru ini menyampaikan pengumuman dalam sebuah Misa Pernikahan, di mana ia menyatakan ancaman kepada umat bahwa mereka akan dikutuk bila menghina Uskup Ruteng, Mgr Hubertus Leteng Pr.

Pengumuman itu telah menuai reaksi keras, termasuk dari sejumlah pastor yang ia sebut. Ia dianggap keliru menyampaikan pernyataan demikian dalam suasana Misa, serta dinilai hanya  menakut-nakuti umat.

Dalam Misa pada 27 Juni itu, ia memberkati pasangan yang berasal dari Stasi Jawang dan dari Paroki Kajong.

“Pastor yang menghina uskup, dia tidak punya isteri anak, kalau dia dikutuk, dia mati sendiri,” kata Rm John. “Tapi, kalau umat yang punya keluarga terlibat menghina uskup, memfitnah uskup, nanti kena kutukan (juga),” lanjutnya.

Ia menambahkan, “kalau suaminya ikut (menghina uskup), isteri anak yang kena (kutukan). Kalau isteri yang ikut, suami dan anak yang kena.”

“Ingat itu baik-baik!” tegasnya.

Kepada Floresa.co, Kamis, 13 Juli, Rm John mengatakan, pengumuman itu yang bertujuan untuk menyadarkan umat di paroki.

Ia menambahkan, terkait polemik di keuskupan, pihaknya tidak membenarkan siapa pun. “Kami cuma tidak setuju dengan cara-cara yang dipakai untuk memojokkan uskup,” katanya.

Berikut isi lengkap pernyataan Romo John, berdasarkan rekaman yang dimiliki Floresa.co:

Beberpa pastor telah menjual nama umat dan menjelekkan uskup. Antara lain yang dijual itu sebagai bahan untuk menjelekkan uskup,  bahwa katanya uskup meminta stipendium di paroki-paroki. Saya kira itu mengada-ada. Banyak imam berpengalaman bahwa, uskup tidak pernah minta stipendium. Apa yang dikasih (=diberi) oleh paroki, sesuai dengan kesepakatan DPP (Dewan Pastoral Paroki) atau panitia. Uskup tidak pernah berkeberatan.

Lalu, yang kedua, mereka mengatakan bahwa setiap kali uskup berkunjung ke paroki, umat merasa bahwa kehadiran uskup itu adalah skandal bagi umat. Itu umat dimana? Umat di paroki mana yang pernah menolak uskup?

Kita tidak pernah mendengar bahwa uskup ditolak oleh umat saat berkunjung ke paroki-paroki. Bagaimana kelompok imam ini mengatakan bahwa umat telah menolak uskup. Berapa imam yang kemudian menandatangani surat pengunduran diri? Mereka telah mengundurkan diri. Tetapi, setelah memgundurkan diri, mereka kembali mengancam uskup. Berapa hari yang lalu mereka ke Ruteng, mengancam lagi uskup, berani uskup melakukan pergantian personalia, kami akan melakukan kekerasan. Ini yang tidak dibenarkan sama sekali.

Lalu, sekarang mereka mulai mempengaruhi DPP, seperti di Borong kemarin. DPP tidak hadir (rapat), tetapi ternyata beberapa tokoh di Borong itu diundang untuk pertemuan tanpa sepersetujuan pastor paroki. Bersyukur tadi saya dapat laporan, semua tidak terjebak, tetapi, menandatangani absensi. Maka, daftar diri itu punya nilai jual, dilampirkan dalam surat pernyataan, lalu mengatakan, ‘inilah tokoh-tokoh awam yang mendukung penolakan terhadap uskup.’

Ketiga, saya ingatkan, uskup tidak dipilih oleh umat, tidak dipilih oleh para pastor. Uskup itu ditunjuk oleh Vatikan. Karena itu, tidak punya wewenang apapun dalam memecat uskup selain Vatikan. Dan saya berharap, umat, tidak terpengaruh dalam soal ini. Pastor yang menghina uskup, dia tidak punya isteri anak, kalau dia dikutuk dia mati sendiri kan? Tapi, umat yang punya keluarga, terlibat menghina uskup, memfitnah uskup, nanti kena kutukan. Kalau suaminya ikut, isteri anak yang kena. Kalau isteri yang ikut, suami dan anak yang kena. Ingat itu baik-baik!

Karena itu, umat saya harap jangan terpengaruh untuk ikut-ikutan menghina uskup lewat media sosial, lewat media cetak. Banyak yang getol sekali menulis di media sosial. Hati-hati! Menghina imamat uskup itu sangat berbahaya.

Kita di Kevikepan Borong ini, yang memelopori penolakan terhadap uskup adalah Vikep Borong, lalu Pastor Paroki Sita, Pastor Paroki Nanga Lanang dan Pastor Paroki Lempang Paji. Yang lain masih menghormati imamat uskup.

Beberapa pastor yang tandatangani pengunduran diri itu, sebetulnya dia harus sudah tinggalkan paroki. Karena begini jabatan Vikep, jabatan Vikjen, jabatan pastor paroki adalah jabatan pemberian dari uskup. Vikep itu pembantu uskup di lapangan. pastor paroki itu menjalankan tugas imamat dari uskup. Nah, kalau Vikep yang diangkat uskup, di-SK-kan oleh uskup itu berseberangan dengan uskup, seharusnya mengundurkan diri, tanpa tunggu diberhentikan. Kalau sudah berseberangan dengan uskup, dengan sendirinya mengundurkan diri. Itu kitab hukum kanonik.

Demikian juga pastor paroki. Saya selaku pastor paroki, menjalankan tugas uskup. Nah, ketika saya menolak uskup, berseberangan dengan uskup, saya seharusnya mengundurkan diri dari tugas sebagai pastor paroki dan harus meninggalkan tempat tugas. Ini koar-koar mengundurkan diri, tapi tidak juga meninggalkan tempat kerja. Inikan pembohongan luar biasa. Sudah menjual umat sebagai suatu penipuan besar bahwa umat menolak uskup, sesudah itu mengundurkan diri, tapi ngotot tetap tinggal di tempat kerja. Penipuan luar biasa. Saya harap umat tidak jadi penipu.

Jadi, umat Kajong omong juga soal ini. Mulai dari Reo itu. Karena di Reo juga rame menolak uskup mulai dari Vikepnya. Jadi, Vikep yang menolak uskup itu, Vikep Borong, Vikep Reo, Vikep Labuan Bajo, kecuali vikep Ruteng, tidak terlibat. Hanya satu vikep saja yang tidak.

Bagaimana, setuju dengan mau ikut ketiga Vikep atau mau ikut satu Vikep? (Umat kemudian terdengar menjawa, “Mau ikut satu Vikep”)

Jadi, ini saja yang saya sampaikan, karena ini sudah mulai memprovokasi umat untuk menolak uskup. Tadi, OMK Paroki Borong sudah berangkat ke Ruteng, mereka 8 orang, untuk menemui uskup dan menyampaikan sikap mereka, ‘setia mendukung uskup yang sah, menolak segala pemfitnahan, segala caci maki yang diarahkan kepada uskup”.

Mereka sudah berangkat ke Ruteng. Ini gerakan pertama. Di Ruteng, di Paroki Golo Dukal, sudah beberapa minggu yang lalu, dari kelompok Pemuda Peduli Keuskupan sudah menggelar seribu lilin di Paroki Golo Dukal.

Jadi, ini saja. Yang terakhir saya ucapkan selamat berbahagia kepada kedua mempelai.

(Yulianus/ARJ/Floresa)