Ilustrasi

Sumba, Floresa.co – Jenazah Dominikus Malo Solo, warga Desa Watukawula, Kecamatan Kota tambaloka, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menjadi korban penembakan anggota polisi di Sumba Timur, tiba di rumah duka di Desa tersebut, Kamis 6 Juli 2017.

Keluarga, kerabat, dan tetangga pun langsung menyambut Jenazah.

Juru bicara keluarga Dominikus, Virgo Dapa Loka mengatakan, pihak keluarga belum menentukan jadwal pemakaman jenazah Dominikus, sehingga masih dilakukan pertemuan keluarga.

“Malam ini keluarga rembukan untuk tentukan hari penguburan dan juga lokasi penguburannya. Tapi nanti untuk lokasi penguburannya pasti di tempat pemakaman keluarga yang berada tak jauh dari rumah duka,” ujar Virgo seperti diberitakan Kompas.com, Kamis 6 Juli 2017.

Keluarga, lanjut Virgo, sudah menyerahkan semua kasus penembakan itu kepada pihak Kepolisian Resor Sumba Timur, untuk diproses sesuai hukum yang berlaku.

Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Polda Nusa Tenggara Timur, Komisaris Besar Jules Abraham Abast, mengatakan, Dominikus ditembak Bripta ST saat anggota Polsek Lewa bersama anggota TNI melakukan patroli bersama untuk melakukan penggerebekan perjudian, di Desa Kambata Wundut, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur, Selasa 4 Juli 2017, dinihari.

“Terhadap anggota yang lalai dan melakukan penembakan (Bripda ST), maka Kapolres Sumba Timur (AKBP Victor Silalahi) telah mengambil tindakan tegas dan memproses sesuai perbuatannya dan sudah dilakukan penahanan terhadap Bripda ST,” kata Jules, Rabu 5 Juli 2017.

Kronologi

Virgo menuturkan, kejadian itu bermula ketika Dominikus bersama seorang adik dan dua orang anaknya berangkat dari Sumba Barat Daya, Senin 3 Juli 2017 sekitar pukul 22.00 Wita, hendak menuju Kecamatan Lewa, Sumba Timur, untuk membeli babi.

Menurut Virgo, Dominikus adalah pedagang babi yang sudah 15 tahun berkecimpung di dunianya itu.

Rencananya, Dominikus akan membeli babi antara 10 sampai 11 ekor di Pasar Lewa dan dijual kembali ke Sumba Barat Daya dengan harga yang lebih tinggi. Rutinitas ini sudah dilakukan oleh Dominikus setiap minggunya karena memang harga babi di Pasar Lewa murah.

“Setelah menempuh perjalanan darat kurang lebih selama empat jam, mereka akhirnya tiba di Lewa pada Selasa 4 Juli 2017 dinihari sekitar pukul 2.00 Wita dan langsung menuju rumah seorang kerabat mereka, untuk beristirahat,” kata Virgo, Rabu 5 Juli 2017, malam.

Karena kondisi mereka sudah terlalu lelah lanjut Viro, Dominikus bersama adik dan dua orang anak mereka langsung meminta izin untuk beristirahat.

Saat itu, tuan rumah bersama sejumlah warga lainnya sedang bermain kartu. Tak berselang lama, ada suara tembakan yang diketahui dari pihak kepolisian sehingga spontan mereka lari berhamburan.

“Dalam kondisi setengah sadar, om saya (Dominikus) secara spontanitas juga ikut lari, tapi dia malah terantuk dan terjatuh. Om saya ini paling terakhir larinya jadi saat itu dengan jarak tiga meter langsung ditembak oleh polisi,” ungkap Virgo.

Akibat tembakan itu, peluru kena lambungnya bersama uang Rp 21 juta yang berada di dalam tas pinggang yang dikenakannya. Uang itu akan dipakai untuk beli babi di Pasar Lewa.

“Setelah penembakan, Om saya langsung terkapar dan dia minta tolong kepada polisi untuk dibawa ke rumah sakit dan Om saya sempat mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa. Namun polisi itu bahkan menantang ke warga untuk berkelahi sehingga kesannya keluarga bahwa polisi itu dalam keadaan mabuk,” ungkapnya.

Melihat itu, warga pun akhirnya membawa korban dengan pengawalan polisi menuju puskesmas terdekat. Selanjutnya, dari puskesmas dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Umbu Rara Meha Waingapu sekitar pukul 05.00 Wita.

Saat berada di rumah sakit, tidak langsung ditangani oleh dokter, padahal kondisi Dominikus semakin memburuk. Sekitar pukul 16.00 Wita, Dominikus baru ditangani dokter melalui operasi.

Dari hasil operasi itu lanjut Virgo, hanya ditemukan serpihan peluru dan itu bukan peluru utuh, tapi menyebar ke beberapa bagian tubuh seperti dinding usus kecil dan usus besar, dinding lambung dan rongga penyokong usus lepas. Kurang lebih satu meter usus yang rusak dan dibuang. Usus itu lalu diberikan ke keluarga.

Pasca-operasi, kondisinya Dominikus semakin kritis sehingga keesokan harinya yakni pada Rabu 5 Juli 2017 sekitar pukul 12.00 Wita, Dominikus akhirnya meninggal.

Tak terima dengan hal itu, keluarga Dominikus lalu melaporkan kasus itu ke polisi dan keluarga pun meminta dilakukan otopsi. (Kompas.com/Floresa).