Pengamat Sebut Tiga Hal Ini Perlu Dimiliki Balon Gubernur NTT

0
660
Ignasius Iryanto Djou (Foto: Ist), salah satu figur baru dalam Pilgub NTT 2018.

Jakarta, Floresa.co – Sejumlah Bakal Calon telah meramaikan kontestasi menjelang Pemilihan Gubernur NTT Tahun 2018. Ada beberapa balon wajah lama, seperti Benny Kabur Harman, Ibrahim Medah dan Esthon L. Foenay.

Muncul juga balon wajah baru, seperti Raymundus Sau Fernandes, Melki Laka Lena, Daniel Tagu Dedo, Jacky Uly, Robert Marut dan Ignatius Irianto Djou.

Menyimak dinamika jelang Pilgub NTT, Pengamat Politik dari Indopolling Networking Wempy Hadir menilai setiap balon masih mempunyai potensi untuk bertarung menduduki kursi NTT 1. Namun, untuk meraih kemenangan, kata dia, balon harus mempunyai tiga modal penting.

“Pertama, adalah dia harus mempunyai modal sosial. Cara untuk mengetahui bahwa seseorang mempunyai modal sosial adalah dengan dilakukan survei persepsi publik,” ujar Wempy kepada Floresa.co, Jumat (7/7/2017).

Menurut Wempy, survei persepsi publik akan mengonfirmasi tingkat popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas sang calon. Jika ketiga hal tersebut memiliki angka yang signifikan terutama soal elektabilitas, maka itu bisa menjadi modal awal untuk bertarung.

“Lalu modal yang kedua adalah modal politik. Seorang calon gubernur NTT 2018 tentu harus mempunyai kekuatan atau basis politik yang jelas, seperti dukungan partai. Jika tidak, tentu akan sangat sulit bagi yang bersangkutan untuk maju apalagi memenangan kontestasi,” ungkap dia.

Sedangkan modal yang terakhir, lanjutnya adalah soal kemampuan finansial. Dalam demokrasi langsung seperti saat ini, menurut Wempy kemampuan finansial menjadi hal yang tidak bisa dinegasikan.

“Misalnya, dana untuk saksi saja pada Pilgub NTT bisa mencapai Rp. 2 milliar, dengan asumsinya satu tempat pemungutan suara sebesar Rp 200.000. Selain itu, belum biaya kampanye dan konsolidasi tim. Jadi, butuh kemampuan finansial untuk melakukan konsolidasi ke basis massa hingga hari pencoblosan,” terang dia.

Perhatikan Demografi Politik dan Program

Lebih lanjut, Pria asal Manggarai ini, memgatakan bahwa tiga modal tersebut harus didukung oleh demografi politik. Artinya, kata dia bahwa konfigurasi politik di NTT tidak bisa dipisahkan dari representasi wilayah dan etnis.

“Misalnya saja, mesti yang mewakili etnis Flores sebagai representasi Katolik dan Timor/Sumba sebagai reprsentasi Protestan. Dengan demikian sangat mudah bagi calon untuk melakukan penggalangan kekuatan ke akar rumput dengan pendekatan representasi politik tadi,” jelas dia.

Selain demografi politik, kata Wempy, yang tidak kalah penting adalah sejauh mana konsepsi atau program yang ditawarkan oleh calon juga turut mempengaruhi pilihan publik di bilik suara. Menurut dia, kelas menengah di NTT sangat aktif berpolitik dan bisa menjadi kelompok kritis yang menggalang kekuatan di akar rumput.

“Calon yang kering gagasan akan ditinggalkan. Sebaliknya calon yang kaya gagasan dan konsepnya implentatif, kemungkinan mempunyai peluang untuk dipilih oleh masyarakat NTT,” tandas dia.

Sementara terkait peluang para bakal calon, Wempy menilai ada sejumlah balon yang sudah memiliki modal sosial dan politik untuk maju, seperti BKH, Esthon L. Foenay, Ibrahim A. Medah, Raymundus Sau Fernandes, Daniel Tagu Dedo, Melky Laka Lena dan Honing Sanny. Mereka adalah tokoh NTT yang sudah pernah terlibat dan mengabdikan diri baik di eksekutif maupun legislatif.

“Jika mereka diusung oleh partai yang berbeda, maka pertarungan politik di NTT makin seru karena mereka mempunyai basis politik yang cukup fanatik,” ungkap dia.

Sedangkan, wajah-wajah baru, seperti Igantius Irianto Djou, Jacky Uly dan Robert Marut, menurut dia, merupakan tokoh yang secara personal memiliki kapasitas untuk memimpin NTT. Namun dalam demokrasi elektoral yang mengedepankan popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas, Ignatius Cs perlu bekerja keras.

“Ignatius Cs perlu melakukan sosialisasi yang intens untuk menyapa pemilih. Dengan demikian mereka bisa dikenal oleh publik NTT. Kalau mereka melakukan secara sistematis dan terukur, maka mereka juga bukan tidak mungkin menjadi calon yang layak untuk diperhitungkan dalam Pilgub NTT,” pungkas dia. (TIN/Floresa).

Advertisement

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini