Kelompok Awam Bahas Polemik di Keuskupan Ruteng

0
4114
Kelompok awam yang ikut dalam rapat di Ruteng, Jumat, 30 Juni 2017 untuk membahas polemik di Keuskupan Ruteng. (Foto: dok)

Floresa.coSejumlah awam di Keuskupan Ruteng-Flores menggelar pertemuan pada Jumat 30 Juni 2017, membahas polemik yang sedang mencuat antara para imam dengan Mgr Hubertus Leteng Pr.

Dalam pertemuan itu, mereka antara lain menyepakati sejumlah hal konkret yang akan dilakukan dalam waktu dekat, demikian menurut Onesimus Jaman, salah satu tokoh awam yang hadir dalam rapat tersebut.

Ia mengatakan, rapat yang dimulai Jumat pagi itu dihadiri 30-an orang dari sejumlah paroki di Ruteng.

Onesimus mengatakan, bertindak sebagai penanggung jawab rapat itu antara lain dirinya dan para tokoh awam lain, yaitu Herman Djegaut, Pius Kandar, John Hadi, Paul Bero dan Petrus Tagus.

“Kita akan pergi ke keuskupan dalam waktu dekat,  menghadap uskup membawa sejumlah tuntutan,” katanya kepada Floresa.co.

Ia menjelaskan, poin-poin detail dari tuntutan itu kini sedang dirumuskan oleh sebuah tim kecil.

“Kami akan terus-menerus ke keuskupan agar Mgr Huberus Leteng tidak menganggap bahwa tidak ada gerakan umat,” katanya.

Kelompok awam ini, jelas dia, juga akan menggerakkan umat lain, sampai di level Kelompok Basis Gereja (KBG).

Rencananya, mereka juga akan menggelar acara seribu llilin berdoa bagi Keuskupan Ruteng, yang melibatkan elemen umat yang peduli pada masalah ini.

Ia mengatakan, situasi di Keuskupan Ruteng sudah darurat, terutama setelah puluhan imam menyatakan mengudurkan diri dari jabatan pada 12 Juni lalu.

Onesimus menyatakan, meski mereka dalam posisi mendukung gerakan imam-imam itu yang hendak membongkar sejumlah masalah yang melibatkan Uskup Leteng, namun,  pertemuan hari ini bukan atas dorongan para imam.

“Kami bergerak atas inisiatif sendiri karena prihatin atas situasi saat ini,” katanya.

Onesimus merupakan salah satu dari awam yang pernah ke Jakarta pada dua tahun lalu menemui Duta Vatikan dan membahas masalah yang melibatkan Uskup Leteng.

Masalah itu, kata dia, seperti yang diungkapkan ke publik oleh Sipri Palus, seorang imam yang kemudian memilih menanggalkan jubah, di mana Uskup Leteng dituding memiliki relasi eksklusif dengan seorang perempuan yang disebut-sebut sebagai anak angkat.

Sipri juga hadir dalam pertemuan dengan tokoh awam hari ini.

Onesimus mengatakan, selain terkait relasi eksklusif itu, uskup diduga “melakukan penipuan, dengan membawa keliling anak angkatnya dalam kunjungan ke sejumlah paroki dan memberinya komuni.”

“Ada pelanggaran terhadap sakramen, karena yang kami tahu anak angkatnya itu menerima komuni. Padahal, ia Protestan,” katanya.

Ia menjelaskan, keresahan di kalangan umat saat ini mulai mencuat setelah kasus ini menjadi konsumsi publik.

“Contoh saja, semangat untuk kumpul kolekte menurun. Umat bilang, nanti uangnya dipakai untuk si Boy,” katanya.

Perihal si Boy itu, terungkap dari pernyataan para imam yang memprotes uskup dan dipublikasi Floresa.co sebelumnya.

Hal ini bermula dari adanya tudingan bahwa uskup diam-diam meminjam uang Rp 1,25 miliar dari KWI dan Rp 400 juta dari keuskupan namun gagal memberikan laporan pertanggungjawaban.

Dalam sebuah pertemuan dengan para imam, Uskup Leteng dilaporkan mengatakan, uang itu digunakan untuk membiayai pendidikan Boy, seorang anak dari keluarga miskin yang sedang belajar menjadi pilot di Amerika Serikat.

Ketika ditanya secara rinci oleh para imam perihal si Boy itu, uskup mengatakan, itu bukan urusan mereka.

Onesimus mengatakan, di tengah polemik ini, mereka memilih untuk tidak bungkam.

“Sebagai bagian dari Gereja, kami sebagai awam tidak mau terjadi kemerosotan di keuskupan,” ungkapnya.

“Persoalan-persoalan yang terjadi sekarang mesti diselesaikan. Sedih rasanya, kita dipimpin oleh gembala yang seperti ini,” kata Onesimus.

Sementara itu, Niko Martin, tokoh awam dari Kevikepan Borong mengatakan, “Kita punya tanggung jawab untuk melakukan pembaruan di dalam Gereja.”

“Kalau kita diam, kita menjadi bagian dari orang yang merestui kejahatan,” katanya.

Ia menjelaskan, membuka aib bukan persoalan mudah.  “Tapi kita tidak boleh takut, harus berani untuk membuat perubahan,” katanya.

Ia mengakui, di tengah umat saat ini memang sedang terjadi friksi, terutama karena banyak umat yang belum tahu persis persoalan, sehingga menganggap semua tuduhan terhadap uskup sebagai fitnah.

Ia menyatakan, selain menuntut agar ada keterbukaan dari Uskup Leteng, mereka juga mendesak KWI dan Vatikan segera mengambil sikap atas masalah ini.

Informasi yang diperoleh Floresa.co, hari ini di Labuan Bajo juga digelar pertemuan serupa, antara para imam yang kontra uskup dengan para awam.

Sementara di Kevikepan Borong, pertemuan sudah digelar pada awal pekan ini.

Polemik yang terjadi di Keuskupan Ruteng sudah mendapat perhatian sejumlah media katolik internasional.

Vatican Radio, media milik Tahta Suci yang banyak mempublikasi kegiatan-kegiatan dan pernyataan Paus Fransikus sudah mempublikasi berita terkait hal ini pada Kamis, 22 Juni lalu. (ARJ/ARL/FRD/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini