JPIC-OFM Gelar Pelatihan Pemuda Penjaga Kampung

0
394
Pastor Peter C Aman OFM saat menyampaikan materi tentang Laudato Si di Ruteng, Jumat 22 April 2016. (Foto: JPIC-OFM)

Ruteng, Floresa.co – Komisi Justice, Peace and Integrity of Creation – Ordo Fratrum Minorum (JPIC – OFM) menggelar pelatihan pemuda penjaga kampung di Pagal, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pelatihan ini telah dimulai Senin, 26 Juni dan akan berakhir pada 5 Juli mendatang.

Pastor Peter C Aman OFM, direktur JPIC-OFM Indonesia mengatakan, ini merupakan tahun keempat penyelenggaraan pelatihan ini.

Awalnya, kata dia, pelatihan ini diadakan ketika wilayah Manggarai Raya terancam investasi pertambangan.

Ia menjelaskan, para pemuda dilatih untuk menjaga kampung  sebagai komunitas adat dan budaya, di mana orang hidup, saling menghidupi, berjuang supaya tetap hidup dan hidup lebih baik.

“Semua itu adalah bagian dari kekayaan yang memperkuat dan memperteguh persatuan warga kampung,” katanya dilansir Florespost.co.

Selain itu, menurut dia, kampung merupakan suatu komunitas ekologis, di mana warga hidup bukan hanya dengan manusia tetapi juga dengan alam ciptaan, yang dalam budaya dan adat istiadat orang Manggarai dipahami melalui filosofi “Gendang one’n lingko’n pe’ang.” 

Filosofi tersebut, jelasnya, berarti ada pemukiman atau kampung yang terpusat dalam Mbaru Gendang (rumah adat) serta tanah-tanah garapan  warga kampung yang disebut dengan lingko.

“Kita hanya hidup baik kalau kesatuan dengan alam terjaga dengan baik, yakni dengan  wae teku (mata air), compang dari (tempat persembahan), natas labar (halaman kampung), uma duat (kebun) dan mbaru ka’eng (rumah),” ujarnya.

Ia menjelaskan, kampung mesti dijaga karena sekarang begitu banyak tantangan dan perkembangan yang datang, yang dialami setiap hari di kampung baik secara pribadi maupun secara bersama.

“Kita mengalami lingkungan hidup makin kusam, kampung kita juga terancam, kekeringan mata air,” ungkapnya.

Situasi ini, kata dia, mencemaskan karena kekuatan adat melemah.

Dia berharap, melalui pelatihan ini para peserta mampu mengembalikan kekuatan adat-istiadat dan budaya agar kampung dan alam tetap utuh, harmonis serta bersatu menuju hidup yang lebih baik.

“Itulah alasan dan latar belakang mengapa kegiatan pemuda-pemudi penjaga kampung dilaksanakan setiap tahun,” tutupnya. (ARJ/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini