Kontraktor Keluhkan Tender Proyek di Manggarai Barat

1
1151
Ilustrasi Kontraktor (Foto:Internet)

Labuan Bajo, Floresa.co – Sejumlah kontraktor mengeluhkan kerja Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kabupaten Manggarai Barat, NTT. Lembaga ini dinilai tidak transparan dalam tender sejumlah proyek.

Para kontraktor menduga ada permainan di ULP untuk memenangkan kontraktor tertentu pada pengerjaan proyek tahun anggaran 2017.

Sejumlah kontraktor mengaku mereka mengajukan penawaran dengan harga rendah serta mendapat ranking satu. Namun anehnya ULP tidak meloloskan penawaran yang mereka ajukan.

Bahkan pengumuman pemenang tidak disampaikan secara terbuka melalui situs ULP.

“Perusahaan kami di ranking satu penawaran, tetapi tidak diundang oleh ULP. Sementara yang diundang, mereka yang rangking empat,” ujar Direktur CV Benalindo, Yosep B Palma kepada wartawan di depan kantor ULP Senin, 19 Juni 2017.

Yosep mengaku ikut pelelangan di ULP untuk paket peningkatan jaringan Wae Cunca Nggorong di Kecamatan Lembor Selatan.

Proyek tersebut memiliki pagu anggaran Rp 400 juta. Dan CV Benalindo mengajukan penawaran Rp 360.503.000.

Menurut Yosep, pengumuman pemenang tidak dilakukan secara terbuka karena pemenang tender diundang melalui alamat email pribadi.

”Biasanya seperti dikabupate lain, pengumuman pemenang dilakukan secara terbuka/online. Bukan dengan mengirim pesan melalui alamat email pribadi. Inikan jelas sekali ada permainan,” tandasnya.

Pengakuan serupa juga disampaikan Direktur CV Natalia, Arsenius Sales. Ia mengatakan dirinya menduga ada permainan untuk memenangkan pihak tertentu.

”Modus ini sudah lama,hanya tidak di ekspose. Penawaran terendah jelas menguntungkan negara. Namun itu tadi, kepentingan kelompok tertentu menjadi nomor satu,” ujar Arsenius.

Ia mengaku mengikuti tender di ULP untuk paket proyek irigasi Wae Lonto, Desa Munting, Kecamatan Lembor Selatan dan Irigasi Wae Dape/Mela Kecamatan Lembor Selatan.

Untuk dua paket dengan pagu masing-masing Rp 500 juta itu, CV Natalia mengajukan penawaran Rp 445.005.900 untuk proyek irigasi Wae Lonto. Sementara, untuk irigasi Wae Dape, CV Natalia mengajukan penawaran Rp 405.591.000.

Saat wartawan berbicara dengan para kontraktor, salah satu pegawai wanita dari kantor ULP datang meminta para kontraktor yang rangking satu untuk bersabar.

“Om sudah cek tadi CV ite (Anda) punya. Padahal manga (ada) undangan kut ite (untuk Anda). Semua CV yang ite komplin mendapat undangan. Sabar saja ya om,”ujar pegawai itu.

Pantauan Floresa.co kontraktor yang antre di kantor ULP ini beberapa diantarnya terlibat dalam aksi mendukung pemerintah beberapa waktu lalu.

Floresa.co, belum berhasil melakukan konfirmasi dengan kepala ULP Yos Sehandi. Beberapa kali Floresa.co mendatangi ULP, tetapi Yos tidak berhasil diwawancarai. (Ferdinand Ambo/Floresa)

Advertisement

1 Komentar

  1. Standar pengadaan barang dan jasa adalah perpres 54 tahun 2010. Bukan polotik atau nepotisme. Di sini hukum lemah bila mana politik dan nepotisme di kedepankan dalam proses efaluasi dokumen penawaran. Kasus seperti yg terjadi di manggarai barat sdh bisa di identifikasi bahwa panitia ulp sdh melakukan tindakan pos biding / menambah aturan di luar ketentuan dokumen lelang. Sisi lannya panitia sdh di indikasi melakukan gratifikasi dan tindakan pencucian uang

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini