Polemik di Keuskupan Ruteng Akan Segera Disampaikan ke Vatikan

4
3855
Sejumlah pastor Keuskupan Ruteng memberikan keterangan pers pada Senin, 12 Juni 2017 terkait konflik mereka dengan Mgr Hubertus Leteng Pr. (Foto: Ronald Tarsan/Floresa)

Floresa.co – Masalah yang mencuat pada beberapa hari terakhir di Keuskupan Ruteng, Flores akan segera dilaporkan ke Vatikan.

Hal itu disampaikan oleh Romo Alfons Segar Pr, perwakilan para imam yang pada Senin 12 Juni menyatakan mengundurkan diri dari sejumlah jabatan karena kecewa pada Mgr Hubertus Leteng Pr.

Romo Alfons bersama Romo John Boylor Pr sudah bertemu Duta Vatikan di Jakarta pada Jumat, 16 Juni 2017.

Menurutnya, ada dua hal penting yang diputuskan dalam pertemuan tersebut.

“Pertama, menyelesaikan persoalan dalam waktu singkat. Kedua, ciptakan ketenangan dan kedamaian,” katanya.

Ia menjelaskan, yang dimaksud dengan menyelesaikan masalah dalam singkat, salah satunya adalah Duta Vatikan akan secepatnya menyampaikan masalah ini ke Vatikan.

Aksi yang dilakukan oleh para imam di Keuskupan Ruteng, di mana 69 orang menandatangani surat pengunduran diri telah menyita perhatian banyak pihak.

Komentar berseliweran terkait hal itu, baik berupa dukungn, maupun kritikan.

Floresa.co dalam salah satu artikel, “Ada Apa di Balik Kemelut di Keuskupan Ruteng?” mengupas soal akar masalah yang memicu aksi para imam itu.

Pastor Pastor Peter C Aman OFM, dosen teologi moral Sekolah TinggI Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta mengatakan, masalah itu tidak akan menghancurkan Gereja.

“Percayalah, Gereja ini akan tetap tegak, karena bukan kekuatan manusia batu penurunnya. Iman butuh pemurnian, kendati menyakitkan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, masalah ini memang terasa menyesakkan dada. “Tetapi, tidak ada hal negatif yang tidak mengantar kepada yang positif.”

Dalam menyikapinya, imam asal Manggarai tersebut menyarankan umat melihat peristiwa itu sebagai dialektika sejarah yang memperlihatkan sisi manusiawi Gereja orang berdosa.

Ia berharap, setiap reaksi mesti ditempatkan dalam spirit mencegah hal lebih buruk terjadi.

“Kita tidak bisa menghentikan aliran sejarah, tapi temukanlah hikmat untuk masa depan yg lebih baik,” tegasnya.

“Kita semua mesti arif membiarkan intervensi Ilahi, melalui hal-hal nanusiawi yang buruk sekalipun. Kejujuran, kebenaran, kita nantikan agar semuanya terang benderang,” ucapnya.

Sementara itu, Pastor Otto Gusti Madun, SVD, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero mengatakan, dalam mengurai polemik ini kebenaran harus dikedepankan.

“Sebab, ‘kebenaran itu akan membebaskanmu,’ demikian sabda Yesus,” kata Pastor Otto kepada Floresa.co.

“Ini kesempatan bagi Gereja untuk memperjuangkan kebenaran tanpa kompromi,” tambahnya. (ARL/ARJ/ARS/Floresa)

Advertisement

4 Komentar

  1. Lebih cepat lebih baik dan penelesaian tuntas, Tinggal direnungkan utamakan segelintur ‘oknum’ atau ribuan umat Katolik dI Manggara Raya khususnya. Malu dg gereja lokal lain…

  2. Inilah ujian iman umat Manggarai untuk kali yang keberapa? Pada periode yang lalu saya harus angkat topi tinggi-tinggi bagi umat Manggarai yang bertahan dalam imannya kepada Tuhan kita, Tuhan semesta alam. Domba-domba tidak lari berpindah ke kandang domba yang lain. Saya melihat ancaman 69 imam ini sebagai pressure kepada uskup dan Vatikan agar segera menyelesaikan kemelut ini. Ini adalah masalah legitimasi moral pejabat gereja. Harus cepat dipecahkan masalah ini. Pasti ada solusi. Di bumi ini jumlah solusi lebih banyak daripada jumlah masalah. Keep your fingers crossed! Buat tanda salib dan berdoalah. Badai ini pasti berlalu.

  3. Cobalah untuk selalu bijak dalam menyelesaikan persoalan ygada didpn mata,jgn sampai masalah sgt mudah di buat persulit hanya utk mempertahankan ego sektoral.

  4. Imam adalah wakil Kristus. Untuk mewakili Kristus seseorang harus memiliki sifat2 Nya dalam dirinya dan sabda2Nya dalam setiap ucapannya. Seperti halnya bintang2 terlihat setelah matahari tenggelam demikian juga imam hendaknya menyamai banyak bintang utk menyinari cakrawala dunia saat Yesus Kristus sang Matahari Keadilan menghilang. Mereka yg memperoleh tahbisan imamat seharusnya sadar bahwa mereka memiliki misi yang terdalam ditengah umatnya. Jadi, saya dan kita semua berharap bahwa dalam setiap tindakannya Imam harus menunjukkan dirinya manusia dari Allah.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini