Sejumlah pastor Keuskupan Ruteng memberikan keterangan pers pada Senin, 12 Juni 2017 terkait konflik mereka dengan Mgr Hubertus Leteng Pr. (Foto: Ronald Tarsan/Floresa)

Floresa.co – Masalah yang mencuat pada beberapa hari terakhir di Keuskupan Ruteng, Flores akan segera dilaporkan ke Vatikan.

Hal itu disampaikan oleh Romo Alfons Segar Pr, perwakilan para imam yang pada Senin 12 Juni menyatakan mengundurkan diri dari sejumlah jabatan karena kecewa pada Mgr Hubertus Leteng Pr.

Romo Alfons bersama Romo John Boylor Pr sudah bertemu Duta Vatikan di Jakarta pada Jumat, 16 Juni 2017.

Menurutnya, ada dua hal penting yang diputuskan dalam pertemuan tersebut.

“Pertama, menyelesaikan persoalan dalam waktu singkat. Kedua, ciptakan ketenangan dan kedamaian,” katanya.

Ia menjelaskan, yang dimaksud dengan menyelesaikan masalah dalam singkat, salah satunya adalah Duta Vatikan akan secepatnya menyampaikan masalah ini ke Vatikan.

Aksi yang dilakukan oleh para imam di Keuskupan Ruteng, di mana 69 orang menandatangani surat pengunduran diri telah menyita perhatian banyak pihak.

Komentar berseliweran terkait hal itu, baik berupa dukungn, maupun kritikan.

Floresa.co dalam salah satu artikel, “Ada Apa di Balik Kemelut di Keuskupan Ruteng?” mengupas soal akar masalah yang memicu aksi para imam itu.

Pastor Pastor Peter C Aman OFM, dosen teologi moral Sekolah TinggI Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta mengatakan, masalah itu tidak akan menghancurkan Gereja.

“Percayalah, Gereja ini akan tetap tegak, karena bukan kekuatan manusia batu penurunnya. Iman butuh pemurnian, kendati menyakitkan,” ungkapnya.

Ia mengatakan, masalah ini memang terasa menyesakkan dada. “Tetapi, tidak ada hal negatif yang tidak mengantar kepada yang positif.”

Dalam menyikapinya, imam asal Manggarai tersebut menyarankan umat melihat peristiwa itu sebagai dialektika sejarah yang memperlihatkan sisi manusiawi Gereja orang berdosa.

Ia berharap, setiap reaksi mesti ditempatkan dalam spirit mencegah hal lebih buruk terjadi.

“Kita tidak bisa menghentikan aliran sejarah, tapi temukanlah hikmat untuk masa depan yg lebih baik,” tegasnya.

“Kita semua mesti arif membiarkan intervensi Ilahi, melalui hal-hal nanusiawi yang buruk sekalipun. Kejujuran, kebenaran, kita nantikan agar semuanya terang benderang,” ucapnya.

Sementara itu, Pastor Otto Gusti Madun, SVD, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero mengatakan, dalam mengurai polemik ini kebenaran harus dikedepankan.

“Sebab, ‘kebenaran itu akan membebaskanmu,’ demikian sabda Yesus,” kata Pastor Otto kepada Floresa.co.

“Ini kesempatan bagi Gereja untuk memperjuangkan kebenaran tanpa kompromi,” tambahnya. (ARL/ARJ/ARS/Floresa)