Peter C Aman OFM. (Foto: Hidupkatolik.com)

Jakarta, Floresa.co – Polemik yang terjadi di Keuskupan Ruteng antara para imam dan uskup bukanlah tanda-tanda hancurnya Gereja, demikian kata Pastor Peter C Aman OFM.

“Percayalah, Gereja ini akan tetap tegak, karena bukan kekuatan manusia batu penurunnya. Iman butuh pemurnian, kendati menyakitkan,” ungkap dosen teologi moral Sekolah TinggI Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta ini.

Ia mengatakan, masalah ini memang terasa menyesakkan dada.

“Tetapi, tidak ada hal negatif yang tidak mengantar kepada yang positif,” ujarnya kepada Floresa.co, Jumat, 16 Juni 2017.

Polemik antara 60-an Pastor Diosesan Ruteng itu dan Mgr Hubertus Leteng Pr bermula saat para imam yang berasal dari empat kevikepan mendatangi Keuskupan pada Senin, 12 Juni lalu.

Para imam itu menyatakan mengundurkan diri dari jabatan seperti Vikaris Episkopal, Pastor Paroki dan lain-lain lantaran kecewa dengan Mgr. Hubert Leteng, Pr.

Aksi itu yang dipublikasi sejumlah media ramai ditanggapi publik. Tidak sedikit yang menyebut bahwa ini adalah tanda-tanda hancurnya Gereja.

Menurut Pastor Peter, walaupun polemik tersebut cukup sensitif untuk dibawa ke ruang publik, dia tetap yakin, Gereja tidak akan runtuh.

Dalam menyikapinya, imam asal Manggarai tersebut menyarankan umat melihat peristiwa itu sebagai dialektika sejarah yang memperlihatkan sisi manusiawi Gereja orang berdosa.

“Tentu hasil ini bukan idaman kita warga Gereja, tetapi bahwa hal itu terjadi, mesti disikapi dengan bijak. Nasehat St. Fransiskus Assisi, ‘jangan kita marah karena dosa seseorang’,” tegasnya.

Ia berharap, setiap reaksi mesti ditempatkan dalam spirit mencegah hal lebih buruk terjadi.

“Kita tidak bisa menghentikan aliran sejarah, tapi temukanlah hikmat untuk masa depan yg lebih baik,” tegasnya.

“Kita semua mesti arif membiarkan intervensi Ilahi, melalui hal-hal nanusiawi yang buruk sekalipun. Kejujuran, kebenaran, kita nantikan agar semuanya terang benderang,” ucapnya.

Sementara itu, Pastor Otto Gusti Madun, SVD, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero mengatakan, dalam mengurai polemik ini kebenaran harus dikedepankan.

“Sebab, ‘kebenaran itu akan membebaskanmu,’ demikian sabda Yesus,” kata Pastor Otto kepada Floresa.co.

“Ini kesempatan bagi Gereja untuk memperjuangkan kebenaran tanpa kompromi,” tambahnya. (ARL/ARS/ARJ/Floresa).