Gereja Katedral Ruteng. (Foto: Ist)

Oleh: ANTON WESEL-B

Saya adalah umat Keuskupan Ruteng. Saya lahir dan dibesarkan di sebuah kampung di Manggarai. Di sana, saya mulai ber-agama dan selanjutnya ber-iman sampai saat ini. Boleh dibilang, saya seorang Katolik yang sangat taat sejak lahir.

Ada banyak pengalaman religius yang menarik ketika berada di kampung belasan tahun yang lalu. Hampir setiap hari Minggu saya pergi ke Gereja. Setiap masa Pra-paskah dan Adven, bersama teman-teman, saya ikut mengaku dosa. Tidak lupa juga, saya mengumpulkan uang Aksi Puasa Pembangunan (APP) setiap Masa Prapaskah. Ibu saya bilang, “Biar kita orang miskin, kita tidak boleh hitung-hitungan dengan Gereja.”

Setiap hari Minggu sebelum ke Gereja, saya selalu diberikan uang untuk kolekte, meski cuma Rp 100. Ibu juga bilang, “Jangan pelit dengan Gereja.” Entah apa maksud ibu dengan perkataannya. Yang pasti, sampai saat ini ketika ke Gereja, saya selalu memasukkan uang ke kantong kolekte, meski nilainya sangat kecil.

Saya masih ingat setiap kali bulan Maria atau bulan Rosario, kami selalu datang secara bergiliran ke rumah-rumah warga untuk berdoa. Saya masih ingat dan hafal lagu-lagu Maria dari Madah Bakti, seperti Ave Maria, Ratu Rosari, Santo Yosef, dan sebagainya.

Kadang, kalau saya sedang ingat kampung, saya ingat akan pengalaman religius ini. Saya ingat ramainya Natal di kampung: Biasanya hujan dan becek di mana-mana; tetapi kami sekeluarga tetap berjuang untuk ke Gereja.

Saya juga ingat waktu masih kanak-kanak, saya dan teman-teman berlari-lari mengikuti rombongan umat sambil mengacungkan daun palma ketika hendak memasuki Pekan Sengsara. Juga saat jalan salib, saya yang masih kanak-kanak ikut berlari-lari mengikuti dramatisasi yang cukup menghibur itu. Iman saya kepada Yesus Kristus mulai tumbuh melalui pengalaman-pengalaman ber-agama yang sederhana seperti itu. Dan, kerinduan akan pengalaman religius itu masih melekat di hati saya sampai saat ini.

Ketika sudah dewasa dan hidup di tanah rantau, saya pun sungguh-sungguh rindu akan pengalaman religius itu. Ketika saat Natal, saya rindu untuk kembali Natal di kampung dengan suasananya yang becek dan hujan. Ketika Paskah, saya juga rindu menyaksikan orang memanggul salib secara bergantian di jalanan di kampung. Ketika bulan Rosario dan bulan Maria saya juga rindu dengan sembayang giliran di kampung. Saya rindu Doa Salam Maria yang bergilir itu. Rindu pada suasan lazim, di mana anak-anak kecil selalu ketawa kalau ada teman yang lupa penggalan Doa Salam Maria. Dan, biasanya momen itu yang selalu saya tunggu; menunggu siapa yang salah doa Salam Maria untuk dibully.

Yang tidak kalah istimewa adalah saya rindu makan kue srabe, kue pao, pisang goreng, cucur, dan sebagainya. Saya ingat bagaimana kami berebutan mengambil kue yang dibagikan. Pokoknya sangat seru dan asyik. Saya yakin, Anda, yang pernah melewati masa kecil demikian, juga punya kerinduan yang sama. Anda juga tentu punya pengalaman ber-agama yang membuak kalian ber-iman sampai saat ini.

Ingatan akan pengalaman itu tiba-tiba muncul lagi hari ini. Saya mengingat pengalaman ber-agama saya dengan rasa sedih. Mau meneteskan air mata, tetapi batal karena takut dicap ‘perasaan tipis’. Mau tidur sambil guling-guling dengan bantal, takut dicap kayak cewek. Mau ‘mbecik dengan menulis status di Facebook, takut kena pasal pencemaran nama baik. Sedih sekali. Saya kemudian menyalakan lagi laptop yang telah mati. Saya membaca lagi semua berita tentang GEREJA SAYA yang sedang diamuk badai di Ruteng, juga membaca komentar-komentar orang tentang berita tersebut.

Ada yang menanggapi dengan pandangan positif. Tetapi, tidak sedikit juga yang mencaci-maki Gereja (hierarki) dan mengejek untuk membuatnya merasa malu. Sambil melahap berita-berita itu, saya memutarkan lagu “Torok” dari Kraeng Bona yang sudah menjadi lagu favorit saya. Saya berharap lagu itu membuat saya agak tenang. Kalian coba mendengarkannya. Pasti asyik. Jangan hanya suka mendengar gosip.

Saya masih saja belum merasa nyaman. Terutama saya agak risih dengan orang-orang yang terus saja mencaci-maki Gereja. Terus-menerus berkomentar dengan nada sinis. Mengejek dengan kata-kata kasar. Saya mengerti perasaan mereka ini. Saya mengerti kemarahan mereka. Rasa malu mereka. Juga kekecewaan mereka. Saya mengerti mungkin kalian terlalu sayang dengan ‘Gereja kita’ sehingga kesalahan sedikit pun langsung menyulutkan amarah.

Barang kali kalian terlalu kagum dengan ‘kaum berjubah’ sehingga noda setitik pun membuat kalian kecewa. Atau, barangkali kalian terlalu menilai ‘kaum berjubah’ orang yang sempurna sehingga kekurangan sedikitpun mengurangi rasa percaya. Brooo…..yang sabarrr. Tetap tenang. Asi sipi-sopok. Kayaknya Gereja juga marah dan kecewa kalau kalian bisa main judi tapi tidak pernah memberi kolekte pada hari Minggu.

Mungkin saatnya kita harus sadar bahwa mereka adalah kita. Mereka berdosa sama seperti kita. Mereka juga mungkin kudus sama seperti kita. Hanya saja mereka telah mengucapkan janji yang tidak kita ucapkan. Hidup mereka hanya dibaktikan untuk Tuhan. Namun, itu tidak berarti mereka itu sudah suci, sudah sempurna, dan tidak perlu dikoreksi. Mereka bukan malaikat yang turun dari langit. Mereka masih sama seperti kita. Yang kadang-kadang bisa marah, putus asa, kecewa.

Bahkan mungkin bisa mengeluarkan kata-kata kasar. Mereka itu manusia rapuh sama seperti kita. Karena itu, untuk apalagi mengumpat dengan kata-kata yang tidak senonoh kepada ‘kaum berjubah’ itu. Toh… mereka adalah kita juga. Toh kelemahan dalam diri mereka adalah kelemahan dalam diri kita juga. Ingat broooo… Tuhan juga manusia. Apalagi para gembala, murni manusia. Apalagi kita…..(isi sendiri)

Kita harus akui bahwa ‘kaum berjubah’ itu orang yang dikhususkan. Saya mengumpamakan mereka sama seperti cermin. Panggilan hidup mereka adalah hanya untuk memantulkan Kebenaran yang ada dalam cermin. Mereka bukan Kebenaran itu sendiri. Kebenaran itu adalah Tuhan sendiri. Dan kita umat awan ini—yang kadang-kadang lebih banyak ngocehnya dari pada tindaknya—bisa melihat Kebenaran itu hanya melalui cermin. Pandangan kita akan Kebenaran itulah yang dinamakan IMAN. Kalian bisa bayangkan kalau cermin itu retak atau terkena debu, pandangan kita kepada Kebenaran itu sendiri juga akan terganggu. Samar-samar. Tidak jelas.

Para imam dan uskup adalah cermin dari Kebenaran. Kalau cermin itu terkena debu, kita boleh membersihkannya. Tapi jangan membersih dengan air keruh. Jangan membersih dengan lumpur. Jangan juga membersih dengan kertas amplas. Atau, jangan pula membersihkannya dengan ingus yang meleleh dari lubang hidung kalian. Itu semua tidak akan membuat cermin itu menjadi bersih. Malah sebaliknya, semakin rusak. Tidak bening.

Supaya cermin (para gembala) tetap mampu memantulkan Kebenaran (Tuhan), kita bisa membersihkan cermin itu dengan pikiran yang jernih dan iman yang teguh. Pilahlah gosip dan fakta. Pilahlah fakta dan kebenaran. Pilahlah pula kebenaran dan iman.

Kita juga tidak boleh jatuh pada generalisasi. Bahwa semua hirarki (gembala) itu rusak, tidak bisa dipercaya. Tidak ingatkah kalian pada Pater Ernest Waser SVD, Pater Leo Perik SVD, Pater Flori Laot OFM, atau para gembala lain yang punya jasa untuk kita. Memang kita pantas marah kepada Gereja (hierarki) karena tidak bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. Kemarahan dan kekecewaan kita tentu beralasan. Alasan yang paling utama adalah karena kita masih mencintai Gereja. Kita masih bangga pada Gereja dan para pelayannya. Kita masih menyayangi Gereja sebagai identitas kita. Karena kita adalah GEREJA.

“Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada orang itu” (Yoh 8:7). Mungkin dia telah berdosa. Mungkin kita lebih baik dan suci. Karena itu, biarkan dia tetap berdosa dan kita tetap suci. Ah…saya ingat lagi pengalaman religius masa kecil saya di kampung. Saat di mana belum mengerti tentang dosa dan suci. Apalagi belum mengerti beriman dan beragama.

Penulis tinggal di Jakarta