Maut dan Cinta

1
1714
Ilustrasi

Oleh: LIAN KURNIAWAN

Suara-suara lelah sendiri. Kota Labuan Bajo serasa kota tanpa penghuni. Seolah hanya aku sendiri.

Dalam sunyi, aku termangu sendiri. Duduk di tanduk ranjang tempat suamiku tercinta tidur pulas. Ia tampak sangat capai. Raut wajahnya yang lembut dalam balutan kumis tipis dan jenggot lebat  nan panjang menyiratkan berjuta bara kecemasan dan gelora harapan dalam dada. Seperti yang juga sedang bergelayut dalam pikiranku.

Denyut jantungnya seperti sedang sekonyong-konyong mendaki gunung yang terjal.

“Aku mencintaimu sampai mati,” gumamku dalam hati sambil mengatur selimut di sekujur tubuhnya.

Sesekali aku melirik ke jam dinding. Jarumnya sedang menunjukan pukul dua subuh. Aku belum juga merasa ngantuk.

***

Usia pernikahan kami telah beranjak empat tahun lebih. Tetapi baru dikaruniai anak yang sedang aku kandung, sekarang. Tujuh bulan. Itu pun setelah melalui berbagai jalan pengobatan, baik medis maupun alternatif seperti memohon bantuan dari paranormal dan sejumlah pendoa yang punya kharisma.

Entah jalan mana yang telah mengantar kami ke hasil yang menggembirakan ini, aku hanya bisa bersyukur, bersyukur dan terus bersyukur.

Salah satu dukun yang rutin kami kunjungi adalah seorang ‘nene’ bernama Angglus yang berasal dari seputaran wilayah Lembor.

“Sayang, kenapa kamu tidak melamar saja untuk menjadi karyawan tetap?” tanyaku suatu ketika. Tetapi ia selalu menjawabku dengan mengangguk diam. Dan selalu begitu. Tanpa ada tindak lanjut.

Buktinya sekarang ia masih bekerja sebagai pemandu selam freelence, atau guide lepas tanpa terikat kontrak dengan perusahaan wisata atau agent tertentu. Tak pernah sekalipun ia menyampaikan alasan mengapa ia lebih suka menjadi freelence. Dan ia sangat menikmati itu.

“Biar sedikit kan, yang. Tapi pasti!” kataku untuk meyakinkan dia.

Aku telah menyarankan demikian sejak lama. Selama itu pula aku mengalah dan menuruti apa pun pilihan terbaiknya. Sebab sekali lagi, cintaku terlanjur tak teruraikan. Tapi, cinta tetaplah cinta. Ini masalah ekonomi. Di sinilah ketulusan cinta kadang teruji, lalu mengerti bahwa setulus apapun cinta, ada saat tertentu dimana ia harus berbenturan dengan kebutuhan jasmani yang orang sebut dengan istilah ekonomi itu.

Dua bulan sudah ia tidak dipanggil memandu wisatawan. Sementara sebentar lagi anak kami tercinta yang telah lama kami nanti, lahir. Tabungan kamu pun semakin menipis.

Pada saat yang sama ia dirundung gelisah, nyaris tak berdaya. Dalam diamnya, aku bisa membaca bahwa dalam hati ia berdoa dan bingung harus bagaimana, pinjam di mana dan terutama harus bayar dengan cara apa kalau saja ada keluarga atau sahabatnya bersedia meminjamkan kami uang. Sementara tidak pasti kapan perusahaan-perusahan itu membutuhkan jasanya.

Sedang aku seolah menari-nari terbawa arus euforia, sebab merasa bahwa waktu telah membuktikan padanya bahwa apa yang selama ini saya sarankan itu memang benar. Bahwa dalam keadaan seperti ini, meski bukan mengharap pada gaji di akhir bulan, paling tidak ia memiliki jaminan untuk meminjam atau cash advance.

“Tenanglah sayang. Rejeki ada yang atur. Lagipula, anak kita itu anugerah Tuhan sendiri. Jadi, percayalah!”

Begitulah. Kalau mau merunut jauh ke empat tahun silam. Jujur, aku jatuh cinta padanya hanya karena energi yang terkandung dalam tiap penggal kata yang ia ucapkan. Kata-katanya selalu menusuk hingga ke dasar kalbu.

Ia tidak menebar janji, tetapi ada kesungguhan dalam setiap kata-katanya. Dan amarahku pun luluh. Aku jadi ikut pasrah pada kuasa Tuhan. Seperti yang ia yakini.

Benar saja. Seminggu lalu, ia mendapat telepon dari sebuah perusahan diving lokal. Entah apa namanya. Dan ia baru pulang tadi sore. Selama satu minggu ia mengantar tourist menyelem di seputaran Taman Nasional Komodo.

***

Malam kian larut. Tanpa melihat jam, aku pastikan subuh telah sampai. Lagi-lagi aku menatap wajahnya dalam-dalam.

“I love u, honey!” lagi-lagi hati kecilku bergumam sepontan.

Ia mengorok panjang. Lalu berguling ke kiri dan ke kanan, dan diam sejenak.

“Ayo, gigit!!!!”

Aku tersentak luar biasa.

“Ah, dasar binatang!”

Ia tiba-tiba berteriak. Keras. Aku lalu sekonyong-konyong membangunkanya. Menepuk bahu dan menarik kakinya sampai sadar.

“Bunuh pengkhianat itu! Tidak tahu diri, dasar pencuri!” ia melaknat dengan berapi-api sebelum akhirnya sadar.

Aku lekas berlari ke dapur mengambil air putih lalu bertanya apa yang terjadi. Ia menghela napas panjang, mengusap matanya yang terlihat memerah dan berat. Kemudian ia bercerita kalau ia bermimpi ada seorang asing yang tak ia kenal berusaha mencuri seekor ‘Komodo’ dan hendak membawanya pergi ke luar daerah.

Entah kemana.

Anehnya lagi, katanya, Komodo itu menurut saja. Ia terlihat begitu jinak. Keganasannya seperti yang terjadi baru-baru ini membunuh seorang turis asal Singapura serta sederet kejadian serupa lainnya yang berujung maut hanya oleh satu gigitan saja, sirna. Ia bagai binatang peliharaan yang bisa di ajak bermain.

“Ingin sekali aku membunuh orang tersebut, tapi tangan tak sampai!”, tutupnya dalam nada penuh dendam sebelum pamit untuk tidur kembali. Lelah sekali katanya. Saya pun mengiyakan.

“Tunggu, pa. Sepertinya ada suara-suara warga yang mengarah ke rumah kita!”

Ia tak peduli. aku tahu, itu pasti suara tetangga yang mungkin mendengar suara kami berteriak panik. Dan bermaksud hendak membantu kalau saja hal aneh yang terjadi. Mungkin maling, atau kebakaran atau semacam kekerasan dalam rumah tangga. Tetapi saya ikut abaikan saja, seolah tidak ada apa-apa.

***

Satu hal yang paling aku kagumi dari suamiku adalah ketegasan! Ia selalu teguh berdiri dan menjalani setiap pilihan yang ia ambil. Apapun resikonya. Ia adalah lelaki hebat kedua  yang pernah aku kenal setelah almarhum ayah saya.

Ayah pernah bilang, cinta hanya ada dalam ketegasan. Selebihnya tipu daya.

Ketegasannya terbukti selama ia menjalani profesinya sebagai pramuwisata hingga saat ini. Ia pernah mengaku, sebagai warga lokal, pekerjaannya ini bukan semata-mata soal uang. Lebih dari itu, ini adalah wujud rasa cinta dan kebanggaanya  sebagai orang yang lahir di bumi Flores, dan Manggarai khususnya yang sekarang mendunia oleh kehadiran Komodo.

Sebagai warga yang peduli, ia merasa wajib menjaganya, menjaga segala sesuatu yang berhubungan dengan kelangsungan ekologisnya. Ia aktif dalam berbagai komunitas sampah dan komunitas pecinta lingkungan lainnya di Labuan Bajo.

***

Aku kembali duduk di ujung ranjang. Tepat di kaki suamiku. Merenung. Menebak-nebak arti mimipinya itu. dan lebih lagi, aku merasa aneh sekali. Kenapa sampai jam segini aku belum juga bisa tidur.

Aku melihat suamiku kembali nyenyak. Sederet doa sepontan terucap dalam hati. Semoga saja semua baik-baik saja.

“Prak…………………!”

Kaki suamiku tepat mendarat di perutku. Aku rasakan anak dalam kandunganku bergerak kesakitan, lalu terasa tiba-tiba diam.

“Tolong……..!”

Hanya itu yang sempat terucap. Aku jatuh pingsan. Tak sadarkan diri. Duniaku tampak amat gelap gulita. Aku berpasrah diri dalam kekalutan dilematis. Bila boleh memilih, biarkan saja aku yang mati daripada bayi tercinta dalam kandunganku.

Aku dan bayiku telah tersungkur jatuh. Paginya tangga kehidupan jatuh menimpa aku pula. Dokter memvonis bayi dalam kandunganku meninggal. Sungguh kabar yang membuat duniaku tambah buyar. Organ-organ tubuhku terasa amat rapuh, satu-satu runtuh. Sisa tenaga kuhabiskan untuk menyesal, kenapa harus anak yang telah lama kami nantikan, harus mati di telapak kaki ayahnya sendiri.

Hari itu juga aku diminta untuk mempersiapkan diri untuk melahirkan jasad bayi dari dalam rahimku. Butuh persiapan, jelas pihak medis, sebab ada prosedur melahirkan yang tak lazim. Ada cara-cara khusus yang tak aku mengerti. Dan, aku sendiri tak mau tahu. Aku benar-benar telah pasrah. Bila proses persalinan sebelum waktunya itu harus merenggut nyawaku, aku malah bahagia.

”Tenanglah sayang. Semua akan baik-baik saja,” suara suamiku terbata-bata, berenergi tapi aku tahu ia berpura-pura memendam lara dalam hati.

“Aku mencintaimu selamanya!”

Samar-samar kulihat ibuku meneteskan air mata dan tergesa-gesa menyekanya dengan sarung songket yang ia kenakan. Ia mengusap-usap kepalaku lalu berbisik.

“Ikhlaskan semuanya. Tuhan punya rencana terbaik untuk kalian berdua,” dan ditutupinya dengan isak tangis yang panjang.

***

Tidak ada rasanya hal yang mesti aku syukuri setelah proses persalinan itu usai. Meski aku selamat.Sebab, bayang-bayang kehancuran senantiasa mengisi pikiranku tiap saat. Aku benar-benar mencintai suamiku, tetapi tidak berarti bisa dengan mudah melepaskan kepergian anak kami.

“Nana Ronal tidak sengaja melakukan semua ini. Ini semua cara Tuhan memanggil kita umatnya, tapi tentu dengan maksud yang lebih mulia di waktu  mendatang. Waktu itu, ia bermimpi menendang orang yang hendak mencuri Komodo itu.”

Rata-rata keluarga yang datang melayat, termasuk ibuku, kedua orangtua Ronal, menghiburku dengan penjelasan demikian. Penjelasan yang memang sulit aku terima.

“Nanti, rejekimu akan berlimpah setelah acara “oke copel (tolak bala)” ini. Keturunanmu senantiasa dianugerahi!”

Aku tersentak. Bulu kudukku sontak berdiri tatkala melihat ‘nene Angglus berada dihadapanku. Diantar ibu-ibu yang juga sedang menghiburku. Kekalutanku seketika berkurang. Bukan karena percaya pada kata-katanya, tetapi karena dia ada, hadir dan datang melayat anakku.

Pada saat yang sama aku dirundung kebingungan yang luar biasa mendengar istilah “oke copel‘ yang keluar dari mulutnya. Aku merasa bagai tertimpa batu besar yang jatuh dari sebuah ketinggian. Aku pernah mendengar soal acara ini. Biasanya membutuhkan biaya yang besar. Sebab melibatkan binatang-binatang korban yang langka dan mahal, salah satunya adalah seokor kuda belang, atau minimal ayam hitam.

Lebih dari itu untuk melaksanakannya harus melibatkan semua anggota keluarga, tetangga dan segenap warga kampung, yang tentunya membutuhkan dana yang luar biasa banyak. Bisa aku bayangkan, biayanya bahkan melebihi biaya yang dibutuhkan untuk melahirkan anak saya bila tidak tertimpa kejadian tragis malam itu.

“Sayang saya tahu, saya salah. Saya tahu saya telah melukaimu. Saya tahu bahwa aku tak memiliki apa-apa”, kata Ronal sambil memelukku.

“Tapi tidak ada cara lain yang lebih berharga yang bisa aku lakukan selain dengan melaksanakan acara ini. Aku benar-benar minta maaf dan berjanji akan memperjuangkan segalanya demi keselamatan kita ke depannya!”

Tangisku pun seketika pecah. Suara-suara lelah sendiri. Kota labuan Bajo bagai tanpa penghuni. Soalah hanya aku sendiri!

Lian Kurniawan adalah alumni SMK St. Fransiskus Xaverius Ruteng. Sekarang ia bekerja sebagai ‘tukang kebun’ dan English Speaking Tour Guide di Labuan Bajo, Manggarai Barat.

Advertisement
BAGIKAN

1 Komentar

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini