Kapolres Manggarai, NTT, AKBP Marselis Karrong (Foto: Ronald Tarsan/Floresa)

Floresa.co – Kapolres Manggarai AKBP Marselis Sarimin Karrong dikritik terkait penanganan kasus dugaan ancaman pembunuhan terhadap Kons Hati dan Veronika Jeramu.

Pasangan suami istri asal Kedutul, Kelurahan Watu, Ruteng,Manggarai itu mengaku mendapat ancaman pembunuhan dari Yeremias Leta pada 15 Mei lalu. Keduanya sudah melaporkan kasus ini ke Polres Manggarai. Namun, hingga kini pelaku belum diamankan pihak kepolisian.

Berdasarkan keterangan korban sesaat setelah kejadian ancaman pembunuhan itu, ada seorang anggota polisi dari Polres Manggarai yang menawarkan agar kasus ini tidak dibawa ke Polres. Polisi tersebut bernama Edu.

“Asi ket baa wa Polres. Laku ket urus. Bom sei Polres, oo kit ami hoo (Tidak perlu lapor ke pihak Polres. Saya saja yang menyelesaikan. Polres bukan siapa-siapa, saya juga Polres,” ujar Edu, seperti dikisahkan pelapor.

Edu mengatakan seperti itu kepada Kons dan Roni serta Runo, keponakan Kons. “Beliau mengatakan seperti itu waktu itu, tetapi saya paksa korban lapor ke Polres karena perbuatan Yeremias Leta jelas-jelas tindak pidana,” kata Runo, yang rumahnya tidak jauh dari rumah Kons dan Roni.

Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus menduga kepolisian tidak profesional dalam menangani kasus ini.

Apalagi, Marselis Sarimin tidak lama lagi akan pensiun dan disebut-sebut maju dalam pilkada Manggarai Timur tahun 2018.

“Pak Kapolres ini sepertinya mau dikesankan orang baik. Ia mencari massa karena sebentar lagi pensiun dan maju rebut kursi Bupati Manggarai Timur,”ujar Petrus Salestinus dalam keterangan yang diterima Floresa.co Rabu 7 Juni 2017.

“Kalau polisi serius dan profesional Yeremias Leta sudah dijadikan tersangka dan ditahan,”, tambah Petrus.

Ketua Save NTT, Serfasius Serbaya Manek, meminta Kapolda NTT agar mengevaluasi kinerja Kapolres Manggarai yang berasal dari Manggarai Timur itu.

“Masa kasusnya terang benderang melakukan ancaman pembunuhan, pelakunya malah belum dijadikan tersangka dan ditahan. Ada apa ? “ tegas Servas.

Menurut Servas, seharusnya untuk menjadi Kapolres di suatu daerah bukan orang dari daerah yang sama, supaya tidak terjadi konflik kepentingan.

Marselis Sarimin berasal dari Manggarai Timur, yang baru beberapa tahun belakangan mekar dari Kabupaten Manggarai. “Saya menduga Kapolres Manggarai ada hubungan keluarga dengan pelaku sehingga ia tak serius mengusut kasus itu. Itu baru satu kasus, belum kasus lain yang mungkin pelakunya juga mempunyai hubungan dengan pelaku,” kata dia. “Apalagi ia mau pensiun dan berencana mau maju calon bupati lagi. Bisa saja pikirannya terbagi,” kata Servas.

Sebagaimana diberitakan, Yeremias Leta berusaha membunuh Kons dan Roni, di depan rumah mereka, Senin (15/5). Roni (Feronika Jeramu) mengisahkan, pada Senin (15/5), seusai apel bendera di kantornya di Puskemas Kota Ruteng, ia balik ke rumah mereka untuk mengambil laptop yang ketinggalan. Sampai di rumah, di depan rumah mereka tertumpuk sampah, bekas pempers orang dewasa. “Saya mengeluh waduh siapa yang membuang sampah pampers orang dewasa yang sudah terpakai di teras ini” jelasnya.

Selang sekitar dua menit, muncul Yeremias Leta dengan sebilah parang di tangannya, mengejar Roni sambil berteriak,”Percuma sekolah tinggi, buang sampah di kebun saya”. Karena itu, Roni lari sambil berteriak minta tolong ke tetangga. “Saya juga menelepon suami saya,” kata Roni. Di samping, bagian utara rumah milik Roni ada sebidang tanah kosong milik Yeremias Leta. Ia menuduh Roni sekeluarga membuah sampah di lahan kosong yang ditanami singkong itu. Menurut Roni, tuduhan pelaku tidak mendasar.

Selang sekitar lima menit kemudian, suaminya Kons Hati, tiba di depan rumah mereka dengan sepeda motornya. “Kehadiran suami saya membuat Yeremias Leta semakin berang dan berusaha menyerang Kons dengan sebilah parangnya,” kata Roni.

BACA:Polres Manggarai Minta Keterangan Korban Ancaman Pembunuhan

Entah kenapa, Kons yang tidak melarikan diri dan membiarkan pelaku mengayukan parangnya, malah mengurungkan niatnya, namun mengeluarkan kata-kata kotor, seperti,”Anjing kau, percuma S2, membuang sampah di tempat saya”.

Pada 19 Desember 2016, Yeremias Leta membunuh anjing mereka sampai mati dengan alasan merusak satu batang pohon singkongnya. Atas kejadian itu, Kons dan istrinya melapor ke polisi, namun polisi tidak mengambil langkah hukum.  (PTD/Floresa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here