Diduga Korupsi Dana Desa, Kepala Desa Sisir, Manggarai Timur, Dilaporkan ke Kejaksaan

0
2435
Dari kanan ke kiri: Barnabas Hamsa, Urbanus Nana, Yosep Su, Marsel Jelatu usai menyampaikan laporan di kantor Kejari Manggarai.

Ruteng, Floresa.co – Sejumlah warga yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Desa Sisir melaporkan dugaan penyalahgunaan Dana Desa Sisir, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur ke Kejaksaan Negeri Manggarai di Ruteng, Senin (5/6/2017) siang.

Empat perwakilan warga, yakni Barnabas Hamsa, Urbanus Nana, Marsel Jelatu, dan Yosep Su diterima Kepala Seksi Intel Kejaksaan Negeri Manggarai.

Usai menyampaikan laporan tertulis yang ditandatangani 16 warga itu, keempat perwakilan warga mengaku diambil keterangan oleh jaksa untuk memperjelas laporannya.

Kepada sejumlah wartawan, mereka mengatakan dugaan penyimpangan itu bermula dari perencanaan dan pengelolaan anggaran yang tidak transparan oleh Kepala Desa.

“Sejak tahun 2015 sampai 2016, semuanya tidak transparan. Masyarakat tidak pernah diberitahu total anggaran yang masuk desa dan rincian kegiatan serta biayanya. Bahkan pengadaan material pun dilakukan oleh Kepala Desa,” ujar Barnabas Hamsa, seorang pelapor.

Mereka menuturkan, selama tahun anggaran 2015, Kepala Desa Sisir menunjuk adik kandungnya sebagai Bendahara Desa. Selama tahun 2015, dana desa digunakan untuk membangun satu unit kantor SD Katolik Rebo/Linur namun belum rampung hingga saat ini. Selain itu, dibangun dua saluran irigasi yakni irigasi Wae Anda dan Wae Sakok.

Irigasi Wae Anda hanya mengairi areal sawah seluas kurang dari satu hektar dengan pemilik lahan hanya dua orang, yakni sawah milik keluarga sang Kades. Sedangkan saluran irigasi Wae Sakok dengan luas areal sawah kurang lebih dua hektar yang dimiliki oleh enam orang. Kedua saluran irigasi tersebut dikerjakan asal jadi.

Dana desa 2015 juga digunakan untuk penguatan kapasitas kelompok tenun ikat. Namun anggota kelompok yang terdiri dari enam orang itu hanya mendapatkan dua lusin benang per orang. Sedangkan rencana pembuatan tembok penahan dan penggusuran lapangan sepak bola serta pembangunan gedung Posyandu yang beberapa kali dilontarkan sang Kades, tidak terlaksana.

Masih pada tahun 2015, bantuan program Desa Mandiri Anggur Merah untuk perbaikan rumah tidak layak huni disunat oleh sang Kades sebesar Rp 1.750.000 per orang. Itu pun setiap penerima hanya menerima bantuan berupa material bangunan senilai kurang lebih Rp 7.000.000.

Selanjutnya, pada tahun anggaran 2016, Kepala Desa mengganti Bendahara Desa. Namun pengelolaan anggaran yang tidak transparan masih berlanjut. Ada pun kegiatan tahun 2016 yakni penggusuran jalan menggunakan alat berat sepanjang 600 meter. Jalan baru tersebut mubazir karena medan yang curam dan kini sudah longsor sehingga hanya merusak tanaman milik warga.

Selain itu, anggaran tahun 2016 juga  digunakan untuk membangun jalan rabat beton ke empat dusun sepanjang 3.000 meter. Namun hingga saat ini yang terealisasi hanya kurang lebih 1.000 meter. Pada beberapa ruas jalan, kondisi pekerjaan sudah mulai rusak.

Warga sangat menyayangkan prilaku sang Kades karena dinilai telah menyia-nyiakan perhatian pemerintah pusat untuk membangun desa tersebut. Mereka pun berharap pihak Kejaksaan Negeri Manggarai menindaklanjuti laporan tersebut agar menimbulkan efek jera bagi aparat desa sehingga pengelolaan keuangan desa selanjutnya lebih transparan dan aspiratif sehingga bermanfaat bagi kemajuan desa dan peningkatan ekonomi warga.

“Kami mohon bapak-bapak dari Kejaksaan bisa membantu desa kami agar anggaran desa selanjutnya bisa bermanfaat bagi kemajuan desa dan peningkatan ekonomi warga di desa kami,” ujar Urbanus Nana.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Sisir, Salomon Sehing belum berhasil dikonfirmasi. (PTD/Floresa)

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini