Feronika Jeramu pingsan setelah Yeremias Leta mengayukan parang menyerang suaminya (Veronika Jeramu), Kons Hati, di halaman rumah mereka, di Ruteng, Manggarai, Senin (15/5). (istimewa)

Ruteng, Floresa.co – Pasangan suami istri, warga Kelurahan Watu Kecamatan Langke Rembong Kabupaten Manggarai,  Kons Hati dan Feronika Jeramu mendapat ancaman pembunuhan dari Yeremias Leta pada Senin 15 Mei lalu. Meski korban sudah melaporkan ke Polres Manggarai, pelaku kini belum diamankan.

Akibatnya, korban hingga kini merasa trauma. “Saya takut bertemu dia, membayangkan wajahnya saja saya masih ngeri,” kata Feronika Jeramu,Selasa 23 Mei 2017,  seperti dilansir Beritasatu.com.

Feronika dan Kons mengaku sejak peristiwa itu mereka selalu mengunci pintu rumah setiap pulang bekerja.

“Kami takut, tiba-tiba dia datang membunuh kami,” kata Roni, panggilan Feronika Jeramu.

Kons menambahkan, karena polisi belum menetapkan pelaku sebagai tersangka dan belum menahannya, mereka selalu dibayangi rasa takut.

“Saya sendiri tidak bisa tugas jauh, karena takut istri dan anak-anak saya terjadi apa-apa,” kata Kons.

Kejadian ini bermula dari tuduhan Yeremias Leta bahwa pasangan suami istri tersebut membuang sampah ke tanah miliknya. Tanah yang ditanami singkong tersebut terletak di samping sebelah utara rumah suami-istri Kons dan Feronika. Namun, Kons dan Feronika membantah membuang sampah ke lahan milik Yeremias.

Pada Senin (15/5), usai mengikuti apel bendara di kantornya di Puskemas Kota Ruteng, Roni balik ke rumah mereka untuk mengambil laptop yang ketinggalan. Sampai di rumah, di depan rumah mereka tertumpuk sampah, bekas pempers orang dewasa.

Menurut Roni, seperti dilaporkan Beritasatu.com, selang dua menit kemudian muncul Yeremias Leta dengan sebilah parang di tangannya, mengejar Roni sambil berteriak,”Percuma sekolah tinggi, buang sampah di kebun saya”.

Karena itu, Roni lari sambil berteriak minta tolong ke tetangga. “Saya juga menelepon suami saya,” kata Roni.

Selang sekitar lima menit kemudian, suaminya Kons Hati, tiba di depan rumah mereka dengan sepeda motornya. “Kehadiran suami saya membuat Yeremias Leta semakin berang dan berusaha menyerang Kons dengan sebilah parangnya,” kata Roni.

Entah kenapa, Kons yang tidak melarikan diri dan membiarkan pelaku mengayukan parangnya, malah mengurungkan niatnya, namun mengeluarkan kata-kata kotor, seperti,”Anjing kau, percuma S2, membuang sampah di tempat saya”.

Pada 19 Desember 2016, Yeremias Leta juga pernah membunuh anjing suami sitri tersebut sampai mati dengan alasan merusak satu batang pohon singkongnya. Atas kejadian itu, Kons dan istrinya melapor ke polisi, namun polisi tidak mengambil langkah hukum.

Polres Manggarai sudah menyita sejumlah barang bukti terkait kasus ancaman pembunuhan ini. Barang bukti yang disita adalah parang yang dipakai Yeremias Leta saat berusaha membunuh Feronika Jeramu dan Kons. Pasangan suami istri itu juga sudah dimintai keterangan oleh polisi.

Roni dan Kons mempertanyakan kinerja Polres Manggarai yang terkesan lamban menyelidiki kasus ini.

“Saya bingung dan heran, polisi kok penyelidikannya lamban? Bukankah pelaku sudah dibawa ke Polres waktu itu, sebilah parang yang dia pegang berusaha membunuh kami sudah disita polisi. Saya dan istri sudah memberikan keterangan. Yeremias Leta juga. Kenapa belum dijadikan tersangka ?” kata Kons.

Kons mengatakan, sekitar dua hari setelah kejadian, seorang anggota TNI, Bintara Pembina Desa (Bambinsa) Kelurahan Waktu, bersama seorang polisi dan seorang tokoh Kelurahan waktu mendatangi ia dan istrinya di rumah mereka, meminta agar kasus ini diselesaikan secara musyawarah.

“Saya dan istri menolak karena Yeremias Leta sepertinya bukan orang baik, karena dia telah membunuh anjing kami yang sedang diikat di samping rumah kami. Kami takut dengannya. Kami tak tahu setelah ini dia mungkin membunuh kami lagi,” kata Kons.

Pada Sabtu (20/5) Yeremias Leta dan keluarganya mendatangi rumah Kons, namun Kons dan istrinya tidak membukan pintu. “Saya trauma melihat wajahnya. Makanya kami tidak membukakan pintu,” kata Rony.

Menurut Kons, ia dan istri semakin bingung mendapat surat dari Polres Manggarai yang berisi tertanggal 17 Mei 2017, yang berbunyi, kasus tersebut belumlah cukup bukti, sehingga diharapkan partisipasi saksi korban untuk menghadirkan saksi-saksi lain yang bisa menerangkan peristiwa itu.

“Kok aneh ya. Ketika peristiwa terjadi banyak orang yang melihat. Pada saat istri saya pingsan ada tiga orang ibu yang menolongnya, apakah hal itu bukan merupakan sebuah kenyataan bahwa memang telah terjadi usaha pembunuhan ? ” tutur Kons.

Kapolres Manggarai AKBP Marselus Sarimin belum bisa dikonrimasi terkait kasus ini. (PET/Floresa)