Boni Hargens

Floresa.coBoni Hargens, salah satu tokoh muda asal Nusa Tenggara Timur (NTT) menempati posisi teratas dalam survei Areopagus Indonesia terkait kandidat gubernur NTT.

Dalam hasil survei yang dirilis di Jakarta, Selasa 16 Mei 2017 itu, Boni mengalahkan sejumlan nama lain, termasuk yang selama ini sudah mendeklarasikan diri untuk maju.

Dengan raihan 20,8 persen, Boni terpaut jauh dengan figur seperti Benny Harman (14,6), Raymundus Fernandez (13,4), Esthon Foenay (6,7), Kristo Blasin (5,3), Melky Lakalena (5), Andre Garu (3,3) dan Adinda Lebu Raya (2,6).

Survei online tersebut digelar pada 23 April sampai 13 Mei ini dengan total sampel 436 responden.

Menanggapi hasil tersebut, Boni mengatakan kepada Floresa.co, sejauh ini belum bisa mengambil keputusan apa-apa.

“Karena saya bukan politisi partai yang mempunyai partai dan bukan juga pengusaha yang punya modal untuk berpolitik,” katanya.

Namun, menurut, dia, kalau survei memang mencerminkan kehendak rakyat NTT, maka dia yakin Tuhan mempunyai cara-Nya sendiri untuk menciptakan perubahan bagi umat-Nya di NTT.

“Saya percaya bahwa Providentia Dei, Penyelenggaraan Ilahi yang selalu hadir dalam niat baik dan kerja keras untuk kebaikan banyak orang,” katanya.

Ia menambahkan, di sisi lain, ia juga tidak bisa mengabaikan begitu saja amarah yang selalu muncul saat membicarakan situasi NTT.

“Kemarahan dalam diri saya melihat kemiskinan dan ketidakadilan di NTT sudah demikian besar,” katanya.

“Saya terbakar oleh amarah yang kuat terhadap kepemimpinan politik yang tidak punya hati untuk orang kecil, miskin dan papa,” tegas Boni.

Yanto Fulgenz, direktur Areopagus Indonesia mengatakan, keterpilihan Boni oleh para netizen memiki kaitan dengan model pemimpin ideal yang diharapkan menahkodai NTT ke depan.

“Dari 5 nilai pemimpin ideal yang diharapkan netizen, mereka menilai ada 3 yang dimiliki Boni, yaitu cerdas, jujur, dan tegas,” kata Yanto.

Ia menambahkan, dari lima persoalan utama NTT yang ditemukan dalam survei ada hubungan langsung dengan tingkat dominasi netizen memilih Boni.

“Ini khususnya terkait persoalan kualitas pendidikan, pembangunan infrastruktur yang tidak merata dan reformasi birokrasi yang belum tuntas,” katanya.

Dalam survei itu, ada dua persoalan lain yang diangkat netizen, yakni pemberantasan korupsi dan kemiskinan.

Haris Putra Mbon, manajer riset Areopagus Indonesia menjelaskan, survei ini menggunakan metode nonprobability sampling, khususnya teknik sampling aksidental dan desain survei adalah cross sectional study.

“Metode pengumpulan data adalah kuesioner disebarkan kepada netizen yang berasal dari NTT melalui media sosial. Kuesioner tidak hanya dibagikan kepada perorangan tetapi juga grup-grup media sosial netizen warga NTT,” kata Haris. (ARL/Floresa)