Survei: Masyarakat NTT Cenderung Memilih Berdasarkan Suku

0
1529
Benny Kabur Harman, Salah Satu Bakal Calon Gubernur NTT Periode 2018-2023.

Floresa.co – Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) cenderung memilih calon gubernur atau wakil gubernur berdasarkan suku.

Hal tersebut terungkap dari survei lembaga Areopagus Indonesia.

Hasil survei lembaga ini mengungkapkan ada 13 nama calon gubernur yang memiliki tingkat keterpilihan di atas angkat cut off 2%.

Boni Hargens, menempati urutan teratas, diikuti Benny K. Harman. Lalu,  Raymundus Fernandes, Eston Feonay, Kristo Blasin dan Basuki Tjahja Purnama atau Ahok, gubernur Jakarta non aktif. Ada juga nama Melky Lakalena, Andre Garu, Robert Marut, Marianus Sae, Valens Daki Soo, Adinda Lebu Raya dan Marten Diratome.

Survei ini dilakukan pada 23 April sampai 13 Mei 2017 dengan responden masyarakat NTT pengguna internet (netizen) baik yang berdomisili di NTT maupun di luar NTT.

Dari survei ini ditemukan, netizen cenderung memilih kandidat yang sesuku dengannya.

“Misalnya kandidat yang tempati peringkat lima besar seperti, Boni Hargens dipilih oleh 44,8% masyarakat Manggarai, 21,8% Manggarai Barat (Mabar), dan 13,8% Manggarai Timur (Matim). Lalu, Beny Harman dipilih 62,3% Manggarai, 9,8% Mabar, 8,2% Matim,” jelas Yanto Fulgens, Direktur Areopagus Indonesia.

Boni dan Beny berasal dari Manggarai.

Lalu, Raymundus Fernandes yang berasal dari TTU dipilih 48,2% responden dari  daerah itu. Kemudian,  Kristo Blasin yang berasal dari Sikka dipilih 27,3% dari Sikka.

Pengecualian adalah Eston Foenay. Meski berasal dari Timor, ia dipilih 35,7% responden dari Manggarai dan 14,3% Mabar.

Sementara itu, Ahok menjadi kandidat “non-NTT” yang dipilih, 5,3%. Ia dipilih oleh responden asal Manggarai 36,4%, diikuti Sikka 13,6%, Kota Kupang 9,1%, Manggarai Timur 9,1%, dan Manggarai Barat 9,1%.

Alasan memilih Ahok karena karakter kepemimpinan yang tegas dan antikorupsi.

Pada umumnya responden mengenal kandidat dari media sosial  yaitu 21,4%. Kemudian diikuti informasi dari partai politik sebesar 15,6%; televisi 14,9%; dan koran 11,8%. Intensitas kehadiran kandidat pada media-media ini sangat memengaruhi pengenalan dan pengetahuan netizen.

“Misalnya, Boni Hargens, Benny Harman dan Ahok dikenal sebagian besar netizen dari televisi masing-masing 37,9%; 27,4%; dan 30%”, ujar Yanto.

Selain itu, partai politik juga memiliki peran signifikan sebagai media pengenalan kandidat.

“Sebagai contoh, netizen mengenal Raymundus Fernandes dan Adinda Leburaya dari partai politik masing-masing sebesar 31,5% dan 27,3%; Esthon Foenay dikenal melalui partai politik sebanyak 29,6%; Benny K. Harman 25,8%; Melky Lakalena 19%,” lanjutnya.  (Ario Jempau/ARL/Floresa).

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini