Selalu Raih Posisi Teratas di NTT, Bagaimana Pola Pendidikan di Seminari Kisol?

5
3936
Romo Silvianus Mongko Pr, Kepala Sekolah SMA Seminari Pius XII Kisol. (Foto: dok. pribadi)

Borong, Floresa.co – Hasil Ujian Nasional (UN) tahun ini untuk SMA telah diumumkan. SMA Seminari Pius XII Kisol, yang terletak di Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim) kembali menunjukkan dominasinya menduduki posisi teratas untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sekolah berpola asrama itu yang populer dengan sebutan Sanpio hanya mempunyai dua jurusan, yaitu Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Nilai rata-rata untuk masing-masing jurusan itu menjadi yang tertinggi di NTT, demikian data yang diperoleh floresa.co dari Dinas Pendidikan Provinsi.

Prestasi ini mengulangi capaian serupa di tahun-tahun sebelumnya.

Para siswa sekolah yang dirintis misionaris asal Belanda, Pastor Leo Perik SVD itu sebetulnya tidak hanya mengukir prestasi saat UN.  Beberapa siswa pernah mengikuti sejumlah lomba akademik, bahkan hingga di level nasional. Salah satu misalnya Yeremias Apriliano Santoso, yang meraih juara II dalam lomba esai yang digelar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta.

BACA: Siswa Seminari Kisol Juara II Lomba Esai Tingkat Nasional

Apa yang membuat Sanpio bisa bertahan dengan kualitas pendidikan demikian? Para siswa yang diterima di SMA di Sanpio memang hanya yang lulus dari SMP di sekolah itu. Sejak awal masuk SMP hingga SMA, mereka diseleksi setiap semester. Hal itu, tentu menjadi salah satu jaminan, bahwa yang kemudian mendapat ijazah SMA adalah yang mereka yang sudah lolos beberapa kali seleksi.

BACA: Menilik Sejarah Berdirinya Seminari Kisol

Di samping faktor itu, dari segi pola pendidikan, ada kultur akademik, yang sudah sekian lama dihidupi di sekolah ini.

Dalam wawancara dengan floresa.co, Romo Silvianus Mongko Pr yang kini menjadi Kepala Sekolah SMA Sanpio mengisahkan sejumlah program yang mereka terapkan di sekolah tersebut.

Ia menjelaskan, kemasan proses belajar di Sanpio selalu dirancang secara dialogis, kreatif dan menyenangkan.

Menurut Romo Silvy, untuk mendukung proses demikian, metode yang diterapkan variatif, sesuai karakter meteri pelajaran. Di situ, kata dia, kreativitas guru ditantang untuk merancang proses pembelajaran yang kreatif.

“Maka, kita rancang program pelatihan peningkatan kompetensi guru dengan menghadirkan narasumber yang berkualitas,” jelasnya.

Selain itu, yang terus-menerus diusahakan adalah penguatan dapur pengetahuan yaitu perpustakaan dengan memperkaya referensi belajar, bukan saja buku pelajaran tapi juga buku-buku penunjang pelajaran.

“Sampai sejauh ini ada belasan ribu judul buku di perpustakaan Sanpio. Dengan begitu, kultur literasi bisa dihidupkan,” katanya.

Pengembangan kultur itu, dilakukan lewat berbagai bentuk tugas. Sebagai contoh, siswa kelas XII, sebelum Ujian Sekolah (US) dan UN, kata dia, wajib menyelesaikan dua karya tulis ilmiah dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Selain itu ada tugas ringkas buku secara rutin yang diikuti tagihan tugas tertulis berupa paper atau juga diskusi, sidang akademik atau seminar ilmiah berskala besar. Itu dilakukan pada peringatan Hari Pendiri Sekolah Pater Leo Perik SVD dan 2 Mei pada Hari Pendidikan Nasional.

BACA: Sambut Hardiknas, Seminari Kisol Gelar Beragam Kegiatan Akademik

“Jadi, kultur ilmiah Sanpio cukup kental dan itu yang menurt saya membuat anak-anak Sanpio selalu bertumbuh dalam iklim persaingan,” katanya.

Konsekuensinya, menurut dia, ketika menghadapi UN, mereka tidak terlalu cemas karena sudah terbiasa hidup dalam iklim akademik.

“Tugas para guru dan pembina lebih  sebagai fasilitator dan motivator pembelajaran,” tegasnya.

Beberapa tahun terakhir, kata dia, Sanpio juga menggagas program melakukan penelitian ilmiah.

BACA: Misi Seminari Kisol dan Dunia Komunikasi

Penelitian ilmiah tersebut, menurut Romo Silvy, yang penelitian ilmiah remaja hasilnya diseminarkan dua kali setahun dengan beragam tema yang aktual, yang selalu terintegrasi dengan materi pelajaran.

“Penelitian mewakili rumpun IPA dan IPS,” katanya.

Karena, itu, kata dia,  orientasi pendidikan mereka pada prinsipnya tidak hanya untuk menyambut UN.

“Tetapi demi pembentukan pribadi pembelajar yang berkembang secara seimbang dalam segala dimensi.” (ARJ/ARL/Floresa).

5 Komentar

  1. toh yang didik juga merupakan siswa ‘pilihan’ dari setiap sekolah dasar..

  2. Pola pendidikan ala Seminari menurut saya adalah salah satu pola pendidikan terbaik. Tamatan Seminari dapat bersaing baik pada level Nasional, bahkan Dunia. Kalau NTT serius membangun SDMnya, seharusnya sejak dulu kita meniru pola pendidikan seminari. Tentu saja seleksi ketat dengan sanksi DO ala seminari adalah lekecualian.

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini