Wartawan di Matim Diintimidasi di Kantor Polisi

0
1904
Andre Kornasen dan Gun Ndarung, yang bekerja pada media floreseditorial.com, mengaku mendapat perlakuan kasar saat mediasi di kantor Polsek Borong, Kamis, 4 Mei 2017. (Foto: dok.)

Ruteng, Floresa.co –  Wartawan di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), diintimidasi saat proses mediasi di kantor polisi terkait pemberitaan mereka yang dianggap berisi kebohongan.

Andre Kornasen dan Gun Ndarung, yang bekerja pada media Floreseditorial.com, mengaku mendapat perlakuan kasar saat mediasi dengan Theresia Lumu, Kepala Sekolah SDK Jawang serta Aleks Nambung, Kepala Sekolah SDI Tenda Tuang di Polsek Borong, Kamis, 4 Mei 2017.

Kepada Floresa.co, Andre mengaku diancam dan disebut berita yang mereka tulis berisi kebohongan, meski ia sendiri mengaku sudah menaati prinsip jurnalistik, terutama karena mereka sudah berupaya untuk berimbang.

“Kami (juga) jelas memiliki data rekaman. Jadi, tidak ada berita bohong. (Berita) itu sesuai fakta,” katanya.

Berita yang mereka tulis, “Di Matim, Kades Polisikan Guru Saat Hardiknas,” mengisahkan tentang Kepala Desa Golo Kantar, Anselmus Noe Nuhung yang kecewa karena batal menjadi inspektur upacara dalam upacara bendera Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei lalu.

Dalam berita itu, disebutkan bahwa Anselmus tidak menerima dirinya diganti sepihak, padahal ia telah ditunjuk oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT untuk menjadi inspektur upacara.

Pihak sekolah mengatakan, mereka terpaksa mencari pengganti Kades Anselmus, karena ia terlambat 15 menit. Namun, Anselmus tidak bisa menerima hal itu dan melaporkan Theresia Lumu dan Aleks Nambung ke Polsek Borong.

“Saya sudah berpakaian resmi kenegaraan. Apa salahnya mereka kondisikan dan konfirmasi dengan saya, sebelum dimulainya apel itu,” kata Kades Anselmus, sebagaimana dikutip dalam berita Floreseditorial.com.

Persoalan Kades dengan pihak sekolah ini berujung mediasi di rumah Theresia Lumu. Kades Anselmus pun meminta para kepala sekolah didenda secara adat Manggarai dengan uang senilai Rp 3 juta dan babi satu ekor.

Aleks Nabung yang juga panitia kegiatan apel itu menerima denda itu. Mereka telah membayar di kantor polisi sebanyak Rp 2 juta rupiah. Babi yang masih belum diserahkan, demikian laporan Floreseditorial.com

Namun, persoalan tidak hanya sampai di situ. Dua kepala sekolah melapor Andre dan Gun ke polisi. Polisi kemudian memanggil keduanya untuk memberi klarifikasi kepada para kepala sekolah.

Pihak sekolah kecewa lantaran keterangan pada foto mediasi di Floreseditorial.com salah. Sebenarnya, mediasi itu terjadi di rumah Theresia Lumu, tapi di berita ditulis bahwa itu dilakukan di Polsek Borong.

Dalam pertemuan yang difasilitasi oleh Gabriel Taek, Kanit Reskrim Polsek Borong di kantor Polsek, Andre dan Gun mengklaim mendapat intimidasi dari sejumlah massa pendukung Aleks Nambung dan oleh polisi.

“Mereka berkali-kali membentak dengan kata kasar,” kataya.

Andre dan Gun pun diminta mengiyakan tuntutan untuk membayar denda Rp 1 juta rupiah dan 1 ekor babi. Keduanya menolak memenuhi tuntutan itu.

Kecaman AJO

Terpisah, Ronald Tarsan, Ketua Aliansi Jurnalis Online (AJO) Manggarai mengecam keras tindakan yang dilakukan para guru dan polisi.

“Tindakan itu merupakan bentuk penghinaan terhadap jurnalis,” tegas Ronald.

Menurutnya tindakan mereka sudah  melawan hukum.  “Hal itu seharusnya tidak boleh dilakukan oleh kepala sekolah sebagai pendidik,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, perlakuan kasar yang dialami Andre dan Gun merupakan bagian dari pembungkaman terhadap pers.

Ia juga menilai, denda terhadap kedua jurnalis itu tidak berdasar. “Denda semestinya dibebankan kepada oknum kepala sekolah yang telah menghina profesi jurnalis,” tandasnya.

Terkait persoalan itu, pihaknya dalam waktu dekat akan memgambil langkah hukum.

“AJO Manggarai telah mengkaji dan menyelidiki secara detail persoalan ini. Kesimpulannya kita mengambil langkah hukum,”

Yos Syukur, Sekretaris AJO mengatakan, pihak kepolisian tidak boleh melakukan intimidasi terhadap wartawan.

Polisi sebagai pengayom masyarakat, kata dia, bukan malah melakukan tekanan terhadap jurnalis.

“(Kami) mendesak Kapolsek Borong untuk bina anggotanya yang melakukan tekanan terhadap jurnalis,” kata Yos. (ARL/Floresa)

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini