Seorang mahasiswi asal Manggarai di Bali sedang menenteng kotak sumbangan untuk meringankan biaya pengobayan Safrianus Loyra, bayi usia 7 bulan. (Foto: Addy Farand)

Floresa.co –  Mahasiswa asal Manggarai Raya yang kuliah di Bali menggagas gerakan seribu rupiah, untuk menyatakan solidaritas pada sebuah keluarga yang kesulitan untuk membiayai operasi anak mereka lantaran kesulitan biaya.

Pada Minggu, 30 April 2017, para mahasiswa dari dua organisasi, Ikatan Keluarga Besar Manggarai Udayana  (IMMADA) dan Gabungan Mahasiswa Manggarai Saraswati  (GAMMASA) mengumpul dana di sela-sela pertandingan sepak bola Mahasiswa Manggarai Cup VI (MMC VI) yang diselenggarakan oleh mahasiswa IKIP PGRI Bali asal Manggarai.

Kegiatan sosial yang dilakukan di lapangan sepak bola Padang Galak, Denpasar itu bertujuan untuk membantu meringankan beban dari pasangan Leonardus Arveno dan Srila Tango.

Mereka masih menunggak biaya pengobatan anak mereka, Safrianus Loyra di RSUP Sanglah, Denpasar.

BACA: Kesulitan Biaya Medis, Warga Asal Matim di Bali Berharap Ada yang Membantu

Safrianus, yang berusia 7 bulan, sebelumnya mengalami gangguan pada usus yang menyebabkan kesulitan untuk membuang air besar (BAB).

Ia pun harus menjalani oprasi kolostomi – pembuatan lubang pada saluran pencernaan untuk membuang kotoran.

Namun, operasi yang dilakukan tidak efektif, sehingga tim medis memutuskan untuk melakukan oprasi yang kedua yaitu memotong ususnya sepanjang 5 cm.

Dari dua kali operasi yang dilakukan, keluarga bayi asal Kecamatan Poco Ranaka, Manggarai Timur, Flores, NTT harus menanggung biaya sebesar Rp 75.000.000.

Biaya tersebut yang saat ini masih menjadi beban bagi keluarga pasien, belum lagi ditambah dengan biaya check-up dan keperluan mereka sehari-hari.

Ratno Didiono Naris, salah satu senior GAMMASA mengatakan, gerakan seribu rupiah yang mereka lakukan merupakan inisiatif yang muncul secara spontan.

Safrianus Loyra bersama orangtuanya. (Foto: Addy Farand)
Safrianus Loyra bersama orangtuanya. (Foto: Addy Farand)

“Aksi sosial ini bukan semata-mata untuk menunjukkan eksistensi dari sebagian kelompok, akan tetapi dengan adanya aksi ini diharapkan bisa menggerakkan hati siapa saja untuk bisa saling peduli terhadap sesama,” jelasnya.

Sementara itu, Dionisius Sargon, ketua IMMADA  berterima kasih kepada semua yang berpartisipasi dalam gerakan ini.

“Hasil dari kegiatan aksi sosial kami ini untuk sementara totalnya Rp 473.000,” katanya.

“Kami dari IMMADA dan GAMMASA akan terus melakukan aksi ini hingga dana yang terkumpul dirasa cukup untuk diberikan kepada keluarga bayi Safrianus,” tambahnya.

Ia pun berharap agar aksi sosial itu menjadi batu pijakan bagi siapa saja untuk meringankan beban dari keluarga ini.

Sebelumnya, aksi solidaritas untuk keluarga Safrianus juga dilakukan oleh komunitas Pemuda-Pemudi Labuan Bajo Bersatu (P2LB) di Labuan Bajo, Manggarai Barat.

BACA: Remaja di Labuan Bajo Galang Dana untuk Bantu Pasien yang Kesulitan di Bali

Pada 1 April 2017, dengan mengenakan kostum merah, mereka bersiaga di lampu lalu lintas di Langkakabe, Labuan Bajo. Mereka menghampiri tiap kendaraan yang lewat seraya menyodorkan kotak sumbangan. Selama dua jam, mereka pun  berhasil mengumpulkan dana senilai 3 juta rupiah.

Rio Prakoso, anggota P2LB mengatakan, kegiatan itu diselenggarakan sebagai wujud solidaritas mereka terhadap kesulitan keluarga pasien. “Kami baca berita, lalu kami rapat dan berusaha membantu sebisa mungkin,” ujarnya.

Berita yang dimaksud merujuk pada yang artikel dimuat Floresa.co berjudul “Kesulitan Biaya Medis, Warga Asal Matim di Bali Berharap Ada yang Membantu.”

Informasi yang dihimpun Floresa.co, sejak sebulan lebih  keluar dari rumah sakit, yakni tanggal 23 Maret, keadaan Safrianus sudah mulai membaik, namun tetap harus menjalani rawat jalan.

Selain BAB sudah mulai lancar, berat badannya pun sudah  mulai naik, dari 6,2 jadi 6,8 kilo.

Safrianus masih harus menjalani rawat jalan hingga Juli mendatang.

Leonardus, ayah Safrianus mengatakan, selama ini,  dana sumbangan yang mereka terima mencapai Rp 20 juta rupiah, di mana Rp 8 juta ia serahkan ke pihak rumah sakit, sementara Rp 12 juta untuk kebutuhan anaknya sehari-hari.

Biaya sehari-hari, kata dia, mencakup pengobatan, perlengkapan bayi, cek laboratorium rutin sekali dalam dua hari, serta untuk membeli susu. (Addy Farand/ARL/Floresa)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here