Boni Hargens. (Foto: Ist)

Floresa.coBoni Hargens, salah satu tokoh asal Nua Tenggara Timur (NTT) menyebut dirinya sering keras mengkritik pejabat di provinsi itu, karena tidak bisa menahan marah melihat kondisi rakyat yang masih memprihatinkan.

“Saya selalu marah besar dengan keadaan rakyat yang masih sengsara, apalagi itu karena politik dikuasai oleh mereka yang korup,” kata Boni baru-baru ini.

Ia mengaku tidak bisa merasa tenang melihat kondisi kemiskinan yang masih melilit masyarakat.

“NTT itu tanah kelahiran saya yang saban tahun hingga saat ini masih terus dililit kemiskinan. Para penguasa hanya bermain-main di area kepentingannya semata,” katanya.

Kemarahan Boni pada korupsi itu juga ikut mendorongnya mengambil langkah konkret dengan membentuk Gerakan Pemberantasan Korupsi Nusa Tenggara Timur (Getar Nusa) pada September 2016.

Boni selalu menegaskan bahwa korupsi menjadi pemicu terjadinya kemiskinan, pengangguran, buta huruf, busung lapar, juga human trafficking.

Data Indonesia Corruption Watch (ICW) misalnya, menyebutkan bahwa selama 4 tahun terakhir, NTT selalu menempati urutan keempat sebagai provinsi dengan kasus korupsi tertinggi.

“Korupsi adalah masalah utama di balik kemiskinan dan kemelaratan yang dirasakan rakyat NTT,” katanya.

Ia menyebut korupsi sebagai bagian dari colonity of power atau praktek keterjajahan yang dilakukan para elit terhadap rakyat.

“Melalui korupsi mereka mengambil bagian yang menjadi hak rakyat dan menjadikan rakyat terbelakang,” katanya.

Menurut Boni, dalam konteks ini, rakyat miskin bukan karena mereka malas bekerja, tetapi karena pola pembangunan tak menguntungkan mereka.

“Itulah yang bisa menjelaskan mengapa semakin tahun semakin banyak proyek pembangunan mengalir ke daerah, tetapi rakyat masih hidup miskin,” katanya.

Nama Boni di sebut-sebut sebagai salah satu tokoh yang potensial untuk maju dalam pemilihan gubernur NTT 2018 mendatang.

Selain cerdas, ia juga dinilai sebagai sebagai tokoh yang revolusioner.

Meski belum menyatakan dengan pasti apakah maju atau tidak, yang jelas, kata Boni, ia mengharapkan agar Pilgub itu melahirkan gubernur yang mampu menghapus kemiskinan.

“Saya berharap akan ada calon gubernur yang memiliki semangat kuat mengentaskan kemiskinan dengan sejumlah gebrakan sama seperti Pak Jokowi dan Pak Ahok di DKI Jakarta,” katanya.

Ia menjelaskan, karakter seperti Jokowi dan Ahok akan mampu membuka ruang bagi penuntasan dan pengentasan kemiskinan.

Putra kelahiran Manggarai itu mengaku terus mendorong lahirnya pemimpin yang berkarakter itu.

Jika saat ini masyarakat menyatakan dukungan dan memberikan dorongan kepadanya, kata dia, itu merupakan apresiasi positif dari rakyat yang masih berada dalam himpitan kesulitan dan menghendaki kemajuan dan perubahan hidup.

“Kami hargai dorongan dan harapan sejumlah kelompok masyarakat yang menginginkan saya ikut bertarung. Kami hargai hal itu,” katanya.

Namun, kata dia, memutuskan untuk ikut bertarung atau tidak bukan merupakan hal utama.

“Masih ada jalan lain yang bisa dilakukan untuk membantu masyarakat keluar dari kesengsaraan akibat pengabaian para pemimpin yang korup dan selalu dahaga akan kekuasaan,” ungkap Boni.

Melalui kelompok masyarakat lainnya, termasuk Gereja, masyarakat bisa dibantu untuk tujuan tersebut.

“Sekali lagi saya belum berpikir untuk maju bertarung,” katanya. “Tetapi, di titik akhir, jika tidak ada lagi calon pemimpin sebagaimana yang diharapkan, maka dengan tekad dan semangat pengabdian saya akan maju bertarung,” tegas Boni. (ARL/Floresa)