Ilustrasi

Oleh: BURUNG KEHICAP

(Cerita ini disadur ulang oleh penulis setelah mendengarkan tuturan dari ayahnya dan disesuaikan dengan tuturan beberapa tetua di kampung halamannya)

Suatu senja Pondik memasuki kampungnya, saat warga sedang menggelar musyawarah. Mereka membahas tentang gong yang akan dipakai untuk acara adat dan sebagai penanda waktu untuk mengatur kegiatan.

Terjadi perdebatan yang alot. Masing-masing orang berupaya mempertahankan pendapat masing-masing. Yang pasti, mereka menetapkan kriteria. Gong yang diinginkan adalah gong yang suaranya gaung, yang dapat menggemah ke segala lembah, suaranya dapat menembusi bukit-bukit dan terpantul ke tebing-tebing.

Di tengah warga yang duduk bersimpu, muncullah Pondik. Ia ingin menjawabi kehausan warga akan gong yang baru.

Ia bersuara ketika semua sudah tak bersuara lagi. Tetua adat memberikan kesempatan baginya. Mengingat ia mewakili kaum muda, Pondik pun diharapan memberi sumbangan pikiran yang segar.

“Saudara-saudara diskusi ini cukup alot. Ada sebuah penawaran cantik untuk kita semua. Sebenarnya saya tidak ingin mengungkapkan di sini,” Pondik memulai berbicara.

“Pemiliknya merahasiakan gong yang saya maksudkan. Apa benar saudara-saudara ingin akan gong tersebut?” Ia menstimulasi rasa penasaran publik dengan pertanyaan.

“Tentu saja,” warga serempak menjawab.

“Namun saya harus melewati lima gunung dan lima sungai untuk mengambilnya. Berhari-hari saya akan berjalan. Jadi siapkan bekal yang cukup untuk saya!”

“Apa yang dimaksudkan dengan gong yang dirahasiakan?” timpal seorang warga.

“Pertanyaan yang bagus. Pemiliknya menyembunyikan gong itu karena kegaiban dan kefenomenalannya. Suaranya menggemah ke segala penjuru mata angin. Gaungannya dapat membelah bukit dan menembusi lembah-lembah. Dan yang pasti barang itu bukan barang biasa. Ada persyaratan saat membukanya. Ia tidak dipukul sama seperti gong pada umumnya. Dia akan berbunyi otomatis,” jelas Pondik yang disambut tepuk tangan meriah dari warga.

“Perlu diingat barang ini merupakan bagian dari kemajuan peradaban kita,” katanya  lagi sambil terbahak-bahak dan diikuti oleh warga.

“Selanjutnya tentang persyaratan itu akan saya sampaikan saat barang itu di tangan kalian.”

“Kalian restuilah saya, kita berpesta dan minum-minum dan makan-makan sebelum berangkat. Saya datang dari kalian, pergi untuk kalian dan kembali untuk kalian. Saya akan menepati janji!” Pondik memukul dadanya sembari meneguk tuak merayakan pelepasannya bersama warga.

Hingga sebelum matahari terbit, warga sudah melakukan pelepasan terhadap Pondik yang membawa seluruh aspirasi mereka.

Tua adat berdiri paling depan dan berada di samping Pondik. Ia bercakap-cakap kecil-kecilan dengan Pondik.

Ia memberi wejangan. “Pondik berhati-hatilah nak. Nasib dan masa depan warga berada di tangan dan pundakmu!”

“Semoga Ema Mese (Tuhan Yang Maha Besar) memberkatimu!” Begitu teriak seorang warga dan diikuti dengan yang lainnya.

***

Sebulan kemudian, Pondik kembali dari perncariannya itu. Ia tiba pada sore hari sekitar pukul tiga. Keringatnya bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.

Di pundaknya dipikulnya sebuah karung berisi orderan warga kampung. Ia berjalan dengan penuh semangat memasuki paang (gerbang kampung).

Banyak warga berbondong-bondong mengikutinya. Mereka saling melempar senyum sebagai tanda sukacita atas harapan yang telah tiba.

Tua adat dengan sigap telah membuat acara penyambutan terhadap pemuda yang berani itu. Ia dianggap sebagai pahlawan yang berjuang bagi nasib dan masa depan warga.

Manuk dan tuak kepok (ayam dan tuak penyambutan) sebagaimana tradisi penyambutan dalam adat Manggarai telah disediakan. Acara penyambutan itu berlangsung dengan ramai.

Warga menyoraki Pondik dan mengiringinya menuju rumah gendang layaknya iring-iringan raja kecil. Bunyi seruling dan tetabuhan gendang mengiringi langkah kaki Pondik.

Iring-iringan kelompok penyambut memasuki rumah adat dan seluruh warga telah menanti di dalam.

Sebagaimana yang telah dipesankan Pondik sebelumnya, bahwa hari kedatangannya itu adalah hari penuh harapan. Maka, seluruh warga leong beo (selutuh kampung), pa’ang olo ngaung musi (dari gerbang depan hingga gerbang belakang) wan koe etan tu’a (yang muda dan tua) diwajibkan untuk mengikuti penyambutan itu.

Tua adat mempersilahkan Pondik untuk berada di tengah-tengah di samping siri bongkok (tiang penyanggah utama rumah). Ia duduk bersimpu sedang di sampingnya tua adat. Di depannya ditempatkan sebuah karung berisi gong fenomenal yang dinanti-nantikan warga. Perhatian semua warga pun terarah pada isi karung itu.

“Ende ema ase kae (bapa ibu dan saudara-saudari), kita patut bersyukur kepada Ema Mese karena ia melindungi Pondik saat berangkat dan pulang, di waktu siang dan malam, di waktu dingin dan panas. Nenek moyang kita telah mendampinginya dalam perjalanannya. Mereka merestuinya sebagaimana doa kita.” Demikian kata pengantar tua adat.

“Sekarang mari kita sambut sang pembawa harapan!” Semua warga tepuk tangan. Pondik berdiri dari tempat duduknya.

“Saya merasa terhormat sekali, diberikan kesempatan yang langkah ini. Ase kae, kita langsung ke inti saja. Atas restu Tuhan dan leluhur, saya telah mendapatkan apa yang kalian harapkan. Sekarang, barang itu telah ada di hadapan kalian. Sebentar lagi akan dibuka.” Semua warga bertepuk tangan.

“Namun, sebelum itu, karena gong ini memiliki persyaratan, ijinkan saya menyampaikan persyaratannya itu. Pertama seluruh warga dipastikan memasuki rumah gendang dan tak boleh ada yang melayani di dapur. Kedua, semua pintu dan lubang-lubang rumah, sekecil apapun wajib ditutup. Pintu-pintu dan jendela-jendela akan saya tutup dari luar. Ketiga, saat membuka barang ini, pastikan saya tidak di sini, saya harus sejauh mungkin dari rumah. Komando untuk membuka akan saya berikan setelah dipastikan saya berada di tempat yang jauh. Saya akan memegang obor. Dengan demikian, hanya satu lubang kecil untuk memantau saya, apakah saya sudah berada di atas bukit atau belum. Aturan ini dipastikan dijalankan agar kegaiban dan kefenomenalan gong ini tidak akan pudar atau hilang.” Penjelasan panjang lebar Pondik itu disambut warga dengan tepuk tangan.

Setelah Pondik pamit, warga melakukan semua yang diperintahkan. Pondik keluar rumah dan berjalan meninggalkan kampung. Ia memberi isyarat dari tempat yang tinggi dengan menyalakan obor. Seorang pemuda yang memantau isyarat Pondik pada lubang kecil itu memberikan isyarat kepada tua adat agar acara bisa segera dimulai. Komando pun ada ditangan tua adat, ia dengan perlahan-lahan membuka karung itu. Isi karung itu mulai bebunyi.

“Ini benar-benar gong gaib, bunyinya tidak seperti gong biasanya.” Ketua adat  terbahak-bahak dan diikuti oleh warga.

Tua adat kemudian membuka mulut karung itu. Betapa kagetnya, ia satu persatu tawon terbang keluar dan tak ada gong yang dijanjikan di dalam karung.

“Kita ditipu! Ini sarang tawon! Ayo lari keluar rumah!” teriak tua adat sambil geram.

Warga yang baru saja merayakan kemenangan itu tiba-tiba panik. Tawon yang berhamburan mengisi ruangan menyerang warga. Masing-masing warga menyelamatkan diri dan berlari membabi–buta di dalam ruangan. Mereka kesulitan  berlari keluar karena pintu dan jendela ditutup rapat.

Sengatan tawon-tawon itu mencederai seluruh warga. Banyak warga yang wajahnya membengkak dan memar. Ada pula yang pingsan karena saling menginjak saat menyelamatkan diri. Warga kesulitan untuk berlari keluar. Tak satupun yang luput dari malapetaka itu.

Beberapa pemuda berhasil mendobrak pintu untuk meloloskan diri, namun sudah terlambat. Mereka berniat mengejar Pondik yang telah menjauh dari desa. Mereka sangat kesal melihat Pondik yang menari-nari di atas bukit dengan api di tangan. Ia merayakan keberhasilannya menipu warga.

Warga pun hanya bisa berteriak,“Losi go hi Pondik, losi gi” (Lihatlah Si Pondik sudah kabur).