Kami Belajar dari Manda: Tulisan Pemred Palu Ekspres

0
1045
Maria Yeanne Agustuti, jurnalis asal Ruteng yang meninggal di Palu, Sulawesi Tengah, karena dibunuh suaminya sendiri. (Foto: Ist)

Floresa.co – Pada Senin, 20 Maret 2017, Harian Palu Ekspres – tempat kerja jurnalis kelahiran Ruteng, Maria Yeanne Agustuti bekerja – menerbitkan tulisan khusus, mengenang perempuan yang meninggal mengenaskan itu.

Artikel tersebut ditulis Anita Anggriany Amies, Pemimpin Redaksi (Pemred) media tersebut, di mana ia melukiskan sosok Manda yang rendah hati, namun berdedikasi dan tipe pekerja keras.

Manda, yang di Ruteng lebih dikenal dengan nama Tuti, sudah dimakamkan di kampung halamnnya, Selasa 21 Maret 2017. Ia dibunuh oleh suaminya sendiri, Rinu Johanes Sandipu, asal Poso, Sulawesi Tengah.

Berikut tulisan Anita tersebut, yang versi aslinya bisa disimak di sini “Kami Belajar dari Manda.”


“Hidup tak melulu tentang ‘Apa yang bisa saya dapat? Apa untungnya bagi saya, Saya dapat apa?…”

KEMATIAN Jurnalis Palu Ekspres (PE), Maria Yeane Agustuti (34) tahun, bagi kami tidak hanya menimbulkan kesedihan dan duka mendalam. Ini bukan hanya karena selama hidupnya Maria memberi kontribusi yang besar pada perusahaan.

Dia pekerja keras, dia menjadi representasi dari perusahaan tentang bagaimana seharusnya sikap jurnalis PE di mana dia berada, beradab, santun, namun tegas dan memiliki isi kepala.

Pada Perusahaan Maria menunjukan loyalitas, pengabdian tanpa pamrih, ketulusan, persahabatan, serta kekeluargaan. Bukannya tak banyak yang mengajaknya untuk pindah ke perusahaan media lain. Namun bertahan dengan kami, itu bagian dari kesetiaannya.

Di tengah kondisi perekonomian yang mempengaruhi naik turunnya omzet perusahaan, di pagi hari yang dingin di paruh Februari 2017, Maria menelpon saya yang sedang berada di Makassar untuk mengikuti pra RUPS perusahaan. Kami membicarakan banyak hal tentang pekerjaan.

Dan di Akhir pembicaraan Maria menyemangati saya, “Semangat Bunda!!! Kita sama-sama berjuang di PE hingga titik darah penghabisan,…!!”

Di tengah keharuan dalam dada, kami sama-sama terbahak mendengar kata-katanya itu. Lalu dia menutup salam takzim , “Selamat pagi, Bunda.. Tuhan berkati”.

Tak kami nyana hingga di akhir hayatnya Maria pun meninggalkan hikmah dan pelajaran besar bagi kami pribadi dan teman-teman di Palu Ekspres. Tentang apa arti kesetiaan dan pekerjaan menjadi bagian dari religiusnya .

Rasa-rasanya, tak banyak yang kami berikan ke Maria secara materi selama dia bekerja di PE. Selain kewajiban sebagaimana umumnya perusahaan kepada karyawan. Namun dedikasinya menjadi bukti bahwa hidup ini tak melulu soal untung rugi. Saya dapat apa? Apa yang bisa saya raih? secara material.

Tak pernah berlebihan dalam keseharian, Maria selalu bersahaja dalam apa saja. Baik penampilan, sikap dan tutur kata. Hanya saja dia tak bersahaja dalam pekerjaan. Selalu maunya sempurna.

Menulis panjang dan tuntas. Sering dia lupa bahwa tenggat waktu atau deadline redaksi sudah di ujung tanduk. Dengan lembut, dia membalas teriakan saya yang memburu tulisannya dengan sahutan “sedikit lagi bunda,” atau dengan wajah memelas di tengah waktu yang tak tersisa, “Bunda, masih bisa saya menulis satuuu sajaa berita?”

Dan, siapa tak luluh dengan kelembutannya, dengan wajah teduhnya, saya tak pernah bisa menolak, selain menggeser berita lain untuk mengganti dengan beritanya di ujung deadline.

Tak pernah kami mendengar sedikitpun komentar buruk tentang bagaimana dia bekerja, latar belakang hingga dia pindah bekerja, sikap pribadinya dalam keseharian selain kebaikan. Dia lembut, tetapi tegas dalam urusan pekerjaan. Dia tak segan memberi pertimbangan kepada saya untuk melepas wartawan yang memiliki sikap tak sesuai dengan profesi jurnalis.

Menurutnya, lebih baik dia mengerjakan sendiri, daripada dirusak oleh orang yang hanya mengambil kepentingan pribadi dari perusahaan.

Namun di sisi lain, Maria tak bisa tegas ketika berhadapan dengan urusan hati kepada suami dan rumah tangganya. Sebagai jurnalis apalagi perempuan, Maria tentu tahu sekali bagaimana harus bertindak dalam menghadapi kasus kekerasan dalam Rumah tangga. Tetapi dia memilih mencintai suaminya, menjaga rumah tangganya dan menjadi martir untuk keyakinan yang dipegangnya teguh.

Bahwa “Apa yang disatukan Tuhan, tidak boleh dipisahkan oleh manusia. Hanya maut yang memisahkan. Pun dalam beberapa kali kami berdiskusi di sela-sela rehat di Kantor, Maria menyakini bahwa “Apa yang kini diperjuangkan, Akan Indah Pada Waktunya.” Kata-kata yang dinukil dari Imannya sebagai umat Katolik yang taat.

Kami biasa saja mendiskusikan soal ajaran agama yang masing-masing kami anut. Dia Katolik yang taat dan saya Islam.

Sebagai perempuan juga awam, sering kali saya kesal, melengos dan sengit dengan sikapnya tetap bertahan dengan berbagai kekerasan  yang dialaminya. Tetapi perempuan kelahiran Ruteng, Agustus 1983 ini, hanya mengangguk dan menyemburatkan senyuman ketika menerima nasihat yang cenderung keras dan bertentangan dengan pilihannya itu.  Jawabannya selalu pasti, “Biarlah saya berteguh dalam keadaan ini bunda. Nanti akan selalu saya bawa dalam doa”. Maria pernah cerita bahwa di gereja dia selalu berdoa di hadapan Patung Bunda Maria, memohon diberi hati yang penuh cinta, sabar, serta meminta perlindungan.

Pastor Quirinus Sutrisno (43) kakak kandung Maria, membenarkan sikap teguh adik kesayangannya itu. Pastor Tris, mengaku sering berkomunikasi dengan Maria, soal rumah tangganya, soal suaminya Rinu Johanes Sandipu, termasuk tentang keyakinannya.

“Sebagai pribadi saya berduka dengan kematian adik saya dengan cara tragis. Tetapi dengan religiusitas saya,  saya memahami ada misteri  Tuhan atas kepergiannya.” Pastor juga mengatakan, sebenarnya dia merasakan bahwa pada suatu saat Maria akan pergi lebih dahulu.

Mengingat curhatan Maria tentang rumah tangganya. “Saya seperti menanti hari itu kapan akan tiba,” tuturnya dalam. Pernah pula dalam mimpi doanya, pastor Tris berlutut di tanah yang kotor, namun kepalanya mendongak ke atas melihat langit yang berlapis-lapis awan. Dengan tangannya pastor menyibak awan-awan gelap itu sampai di lapisan terakhir terbuka dan cahaya terang menyilaukan mata, namun di ujung cahaya terang itu, dia melihat Maria berjalan bergandengan tangan dengan anak kecil. “Mungkin saja ini anaknya, sebab sekarang Maria sedang mengandung,” ujar Pastor Tris tegar. Pastor meyakini adiknya sudah mempertimbangkan matang sebelum mengambil konsensi terikat dalam pernikahan.

Pengakuan Pastor Tris ini pulalah yang menenangkan perasaan saya, kalaupun pada akhirnya  Maria pergi dengan cara yang tragis, saya tetap “mensyukuri” dan menghormati. Sebab dia pergi dengan membawa keyakinannya. Bukankah itu yang diinginkan oleh semua  makhluk beragama, mati dalam keyakinan Aqidah iman kita..?

Di hari kematiannya, begitu banyak yang memberi penghormatan terakhir. Di hari itu saya melihat  hasil kerja ikhlas, kerja keras tanpa pamrih yang selama ini Maria lakukan. Ada banyak orang membantu, sumbangan berdatangan dari berbagai kalangan baik berupa materi maupun non materi. Mulai dari Palu hingga Jakarta dan NTT memberi perhatian kepada Maria. Tak kurang Gubernur Sulteng H Longki Djanggola bertandang khusus melihat Maria disemayamkan, di Minggu sore 19 Maret 2017.

Mengenang hidupnya yang sederhana, bersahaja, tak banyak berkata-kata, meskipun juga ada saja ceritanya yang membuat kami tertawa, tak terbayangkan akan banyak orang yang merasa kehilangan, memberi testimoni tentang kebaikannya.

Setelah tiga hari yang terik sejak kematiannya, di Senin pagi 20 Maret 2017 yang cerah Maria diterbangkan menuju tempat beristirahatnya terakhir di Kota dimana dia dibesarkan, Ruteng, NTT. Saya dapat kabar, Jenazahnya akan disambut Bupati Ruteng, NTT.

Hebat Maria !! Ngana memang layak mendapatkan semua kehormatan itu di muka bumi.  Karena ngana menjaga dan memegang teguh keyakinanmu yang bersumber dari Langit. Terimakasih untuk pelajaran, hikmah dan nasihat hidup yang ngana tinggalkan untuk kami…

 

Advertisement
BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Silahkan tulis komentar Anda!
Tulis nama Anda di sini